Opini
Opini: Krisis Pendidikan dan Hilangnya Martabat Manusia
Masalah pendidikan tidak pernah berdiri sendiri; ia adalah gambaran dari relasi sosial, politik, ekonomi, dan moral masyarakatnya.
Mahalan biaya pendidikan menambah daftar panjang problematika. Pendidikan yang seharusnya menjadi hak dasar berubah menjadi barang mahal.
Ketika orang tua harus berutang demi pendidikan anaknya, maka terjadi krisis moral dalam sistem.
Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai investasi sosial bersama, tetapi sebagai komoditas individual.
Dalam perspektif keadilan sosial John Rawls, ketimpangan hanya dapat dibenarkan jika menguntungkan mereka yang paling lemah.
Biaya pendidikan yang tinggi jelas bertentangan dengan prinsip keadilan ini.
Masalah siswa pun tidak dapat dilepaskan dari konteks tersebut. Banyak siswa menghadapi tekanan psikologis, kekerasan, kehilangan motivasi, bahkan krisis identitas.
Sekolah sering gagal menjadi ruang aman yang mendukung pertumbuhan manusia seutuhnya.
Kekerasan di lingkungan pendidikan baik fisik, verbal, maupun simbolik menunjukkan kegagalan sistem dalam melindungi martabat anak.
Hannah Arendt mengingatkan bahwa kekerasan selalu muncul ketika otoritas moral runtuh. Pendidikan yang kehilangan dimensi etis akan mudah melahirkan kekerasan.
Keterlibatan orang tua dalam pendidikan masih sangat timpang. Banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan kepada sekolah, seolah tanggung jawab moral berhenti di gerbang rumah.
Padahal keluarga adalah sekolah pertama dan utama. Nilai kejujuran, disiplin, empati, dan cinta belajar tumbuh pertama-tama di rumah.
Tanpa keterlibatan orang tua, sekolah bekerja dalam kehampaan nilai. Pendidikan yang berhasil selalu lahir dari kemitraan yang sehat antara rumah dan sekolah.
Korupsi dan tata kelola yang buruk menjadi racun sistemik dalam pendidikan. Anggaran pendidikan yang besar sering bocor di tingkat kebijakan dan birokrasi.
Ketika dana pendidikan dikorupsi, yang dirampas bukan hanya uang, tetapi masa depan generasi.
Korupsi dalam pendidikan adalah pengkhianatan moral tertinggi, karena ia merusak fondasi kepercayaan publik dan nilai kejujuran yang seharusnya diajarkan di sekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sirilus-Aristo-Mbombo1.jpg)