Kamis, 18 Juni 2026

Opini

Opini: Satu Hari untuk Guru

Namun sedikit yang menyadari bahwa pekerjaan terbesar guru justru terjadi di ruang-ruang yang tak pernah disorot. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GOLDY OGUR
Goldy Ogur 

Oleh: Goldy Ogur
Mahasiswa Pascasarjana Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero, NTT.

POS-KUPANG.COM - Setiap tahun, pada tanggal 25 November, kita merayakan Hari Guru dengan riuh-rendah ucapan terima kasih, unggahan foto masa sekolah, dan kalimat manis yang bertebaran di beranda media sosial. 

Namun, selebrasi itu sering hanya berlangsung sehari. Pada hari-hari selebihnya, guru kembali tenggelam dalam rutinitas panjang, ruang kelas yang penuh, administrasi yang menumpuk, dan sistem pendidikan yang kadang tidak memihak pada kesejahteraan mereka. 

Hari Guru adalah peringatan yang indah, tetapi perjuangan guru berlangsung jauh lebih senyap daripada yang terlihat di permukaan.

Baca juga: Opini: Dari Syukur ke Tanggung Jawab - Membaca Masa Depan NTT

Banyak orang melihat guru sebagai sosok yang berdiri di depan kelas, mengajar dengan suara lantang atau menulis di papan tulis. 

Namun sedikit yang menyadari bahwa pekerjaan terbesar guru justru terjadi di ruang-ruang yang tak pernah disorot. 

Ada waktu berjam-jam untuk memeriksa tugas di malam hari, ada siswa yang datang diam-diam untuk curhat sebelum pulang, ada kecemasan tentang murid yang semakin tertinggal, dan ada pertanyaan batin: 

“Apakah saya sudah melakukan cukup?” Inilah kenyataan yang jarang dirayakan.

Paulo Freire pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah tindakan cinta yang radikal, suatu upaya membebaskan manusia untuk menjadi dirinya sendiri. Dan cinta seperti itu tidak pernah sederhana. 

Ia menuntut kesabaran, keberpihakan, dan keberanian untuk tetap hadir meski dunia bergerak terlalu cepat. 

Guru berjuang bukan hanya untuk mengajar, tetapi untuk melindungi manusia agar tidak hilang dalam sistem yang makin menuntut angka dan hasil.

Di tengah tekanan administrasi dan minimnya penghargaan struktural, guru tetap menjadi fondasi moral masyarakat. 

Mereka bekerja dalam apa yang disebut Arendt sebagai “ruang tindakan”, tempat manusia membentuk masa depan melalui kehadirannya terhadap sesama. 

Guru bukan hanya pengajar, melainkan penjaga peradaban: memastikan generasi baru tumbuh dengan nilai, nalar, dan harapan.

Guru dan Beban Sunyi yang Tidak Pernah Dihitung

Banyak orang mengira pekerjaan guru hanya berlangsung dari pagi sampai siang. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
1 - 1
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
4 - 2
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
1 - 0
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
1 - 3
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved