Opini
Opini: Seni Mencintai Gaya Filsafat Antik
Dalam defenisi negasinya, cinta platonik adalah relasi cinta yang tidak sampai pada nafsu birahi atau daging.
Oleh: Antonius Guntramus Plewang
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
POS-KUPANG.COM - Barangkali kita kerap kali mendengar terminologi “cinta platonik”.
Cinta platonik biasanya diartikan oleh orang-orang sebagai relasi cinta anak remaja pada taraf idealis tanpa turun ke level praksis (Setyo Wibowo, 2015).
Dalam defenisi negasinya, cinta platonik adalah relasi cinta yang tidak sampai pada nafsu birahi atau daging.
Cinta itu sedemikian tulus dan penuh kasih tanpa melibatkan hasrat seksual di dalamnya. Relasi yang terbangun di dalamnya berorientasi pada gagasan tentang suatu kebaikan tertinggi.
Baca juga: Opini: Bunyi dan Hening
Itulah sebabnya cinta ini kerap diterjemahkan sebagai cinta yang teoretis, mengawang-awang atau menatap keindahan di atas.
Fenomena Cinta Modern
Zaman sekarang tampaknya agak lucu apabila anak remaja tidak memiliki pasangan alias “jomblo”.
Tidak laku, belum mapan, tampilannya tidak menarik; demikian berbagai stigma yang kerap disematkan kepada orang-orang yang bersangkutan.
Biasanya, relasi cinta modern melulu dilandasi pada harta kekayaan, good looking, red flag atau green flag, postur tubuh, ataupun pelbagai hal yang menjamin rasa bangga ketika seseorang memiliki pasangan.
Yang dicari dalam relasi pacaran adalah hasrat seksual, tampilan fisik, punya kesamaan dalam hal materi, dan sebagainya.
Makna cinta semakin kabur apabila kita melihat fenomena cinta modern. Gagasan tentang cinta melulu berpusat seputar kesenangan yang semu.
Belajar dari Dialog Lysis
Terlepas dari relasi pacaran, kita perlu melihat perkembangan relasi cinta yang sesungguhnya dari zaman Yunani Antik.
Dalam konteks itu, relasi cinta tidak langsung dirumuskan secara sempit pada taraf berpacaran, lebih dari itu suatu pola persahabatan.
Teks dialog Lysis (Dorion, 2004) merupakan salah satu karya awal Platon yang membahas tentang persahabatan (philia).
Kata philia ini juga dalam alam pikir Yunani Klasik dipahami sebagai cinta. Kata yang sama digunakan dalam etimologis filsafat (philosophia) sebagai cinta terhadap kebijaksanaan. Philos artinya cinta dan Sophia artinya kebijaksanaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Antonius-Guntramus-Plewang1.jpg)