Rabu, 17 Juni 2026

Opini

Opini: Vozinha dari Cape Verde dan Malam Ketika Dunia Berhenti Memercayai Statistik

Dunia menyaksikan seorang kiper berusia empat puluh tahun berdiri di hadapan salah satu tim terbaik dunia...

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GERGORIUS BABO
Gergorius Babo 

Oleh: Gergorius Babo
Warga penggemar sepak bola, tinggal di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Ada pertandingan yang dikenang karena hujan gol, ada pula yang hidup abadi justru karena tidak menghasilkan satu gol pun. 

Laga antara Spanyol dan Cape Verde pada Piala Dunia 2026 termasuk dalam kategori kedua. Di atas kertas, pertandingan itu tampak seperti kisah yang sudah selesai sebelum dimulai. 

Spanyol datang sebagai salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia, juara Eropa, pemilik generasi emas baru, dan tim yang dihuni pemain-pemain dari klub elite. 

Sementara itu, Cape Verde hadir sebagai debutan yang bahkan oleh banyak pengamat dianggap sekadar pelengkap grup.

Namun sepak bola memiliki kebiasaan menolak tunduk pada logika yang terlalu sederhana. 

Baca juga: Kelimbape

Di Stadion Atlanta, dunia menyaksikan sebuah pertandingan yang mengingatkan kembali bahwa olahraga ini tidak dibangun hanya oleh angka, peringkat, atau reputasi. 

Dunia menyaksikan seorang kiper berusia empat puluh tahun berdiri di hadapan salah satu tim terbaik dunia dan mengubah pertandingan menjadi sebuah pelajaran tentang keteguhan, pengalaman, dan makna sejati dari perlawanan.

Nama kiper itu adalah Josimar José Évora Dias atau yang dikenal dengan nama  Vozinha. Bagi sebagian besar penonton global, namanya mungkin terdengar asing sebelum pertandingan dimulai. 

Akan tetapi, ketika peluit akhir berbunyi dan skor tetap menunjukkan angka 0-0, namanya menjadi simbol dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penyelamatan demi penyelamatan.

Dalam sejarah sepak bola, posisi kiper selalu memiliki dimensi yang unik. Penyerang hidup dari sorotan dan selebrasi, gelandang dihormati karena kreativitas, sedangkan bek sering dipuji karena keberanian. 

Kiper berada dalam dunia yang berbeda. Ia adalah satu-satunya pemain yang kesalahannya hampir selalu berakibat fatal dan satu-satunya pemain yang kesuksesannya sering kali hanya diukur dari bencana yang berhasil ia cegah.

Karena itu, menjadi kiper berarti menerima paradoks. Semakin baik ia bermain, semakin sedikit orang membicarakan tindakannya secara rinci. 

Penyelamatan luar biasa hanya menghasilkan keadaan yang sama seperti sebelum peluang terjadi: skor tetap tidak berubah. 

Dalam konteks tersebut, pekerjaan seorang kiper pada dasarnya adalah menjaga agar sejarah tidak bergerak ke arah yang diinginkan lawan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
1 - 4
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
3 - 0
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
3 - 1
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved