Opini
Opini - Praksis Pembebasan dan Inkulturasi Sejati Gereja Katolik di NTT
Arah inkulturasi dalam Gereja Katolik di NTT patut dikaji ulang secara kritis agar tidak mandek pada tataran estetika saja.
Opini - Praksis Pembebasan dan Inkulturasi Sejati Gereja Katolik di NTT
Oleh: Joaquin De Santos Fahik
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Teologi pada hakikatnya selalu bersifat universal sekaligus lokal dan kontekstual, persis seperti keberadaan Gereja itu sendiri.
Di wilayah Asia, dan secara khusus di Nusa Tenggara Timur (NTT), upaya berteologi sama sekali tidak bisa dilepaskan dari konteks kemajemukan tradisi serta masifnya realitas kemiskinan yang mengakar kuat di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, teologi kontekstual idealnya bersandar pada dua orientasi yang tidak terpisahkan: aspek inkulturatif yang mewadahi perjumpaan iman Kristiani dengan religiositas lokal, serta aspek liberatif yang bergerak menuju pembebasan dari berbagai belenggu struktural.
Di tengah pesatnya dinamika zaman, arah inkulturasi dalam Gereja Katolik di NTT patut dikaji ulang secara kritis agar tidak mandek pada tataran estetika saja.
Selama ini, pemahaman dan praktik inkulturasi sering kali tereduksi menjadi sekadar adaptasi lahiriah. Kita dengan mudah menjumpai penggunaan kain tenun bermotif daerah sebagai busana liturgi, atau alunan instrumen lokal dan gemulai tarian tradisional yang mengiringi perayaan Ekaristi.
Meski langkah ini patut diapresiasi sebagai gerbang awal, inkulturasi yang sejati dan radikal menuntut lebih dari sekadar pernak-pernik kultural.
Kita dituntut untuk menemukan cara mengalami dan melaksanakan iman yang sungguh-sungguh lahir dari pergulatan riil kehidupan umat.
Inkulturasi harus didudukkan sebagai sebuah perjumpaan dialogis yang otentik. Bukan sekadar proses menempelkan unsur kebudayaan lokal ke dalam ritus Gereja, melainkan sebuah ruang di mana Gereja rela dibentuk oleh kearifan, kedalaman eksistensial, dan dialektika masyarakat NTT.
Kebudayaan asli Asia sering kali justru lebih menghargai pengalaman hening yang mendalam dalam menjumpai Yang Ilahi, di mana setiap tindakan dan kata mengalir dari keheningan permenungan. Kesunyian batin dan realitas keseharian umat itulah yang seharusnya menjadi bahasa teologis yang paling jujur.
Sebuah diskursus teologis menjadi pincang apabila hanya merayakan kekayaan tradisi namun membisu di hadapan penderitaan sesamanya.
Di NTT, kebanggaan akan warisan leluhur acap kali berjalan beriringan dengan realitas pahit ketimpangan ekonomi dan marginalisasi kemanusiaan. Oleh sebab itu, inkulturasi tidak boleh memisahkan diri dari napas pembebasan.
Teolog Aloysius Pieris dengan tajam mengingatkan bahwa Gereja harus berani melepaskan diri dari segala bentuk persekutuan dengan kekuasaan agar memiliki kembali otoritas moralnya.
Menurutnya Gereja harus cukup rendah hati untuk dibaptis di dalam Yordan religiositas Asia, dan harus cukup berani untuk disalibkan di puncak Golgota kemiskinan Asia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Joaquin-De-Santos-Fahik-02okay.jpg)