Opini
Opini: Magnifica Humanitas, Kemanusiaan yang Agung
Magnifica Humanitas atau Kemanusiaan yang Agung menyorot secara khusus kemajuan teknologi Artificial Intelligence atau akal buatan.
Oleh : Emanuel Kolfidus
Pegiat Literasi, tinggal di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Setelah 135 tahun dari ensikliknya Paus Leo XIII, Rerum Novarum, Paus Leo XIV mengeluarkan ensiklik (Surat Amanat Paus) pertama dalam masa kepausannya dengan judul Magnifica Humanitas.
Rerum Novarum berbicara tentang keadilan sosial, sebagai tonggak lahirnya Ajaran Sosial Gereja (ASG).
Ensiklik ini secara substantif mengajarkan kepedulian dan keberpihakan kepada “orang-orang kecil”; mereka yang miskin dan dimiskinkan, kaum papa, para pekerja upah rendah.
Juga tentang hak-hak mereka dan menuntut tindakan (aksi) atau tentang bagaimana seharusnya perlakuan “orang-orang besar” dalam satu tanda relasi setara antar martabat manusnia dalam berbagai institusi sosial, terutama institusi negara (baca : kekuasaan); sejauh apa hubungan timbal balik antara tenaga kerja dan modal, antara pemerintah dengan warga negaranya.
Baca juga: Opini: Bunyi dan Hening
Rerum Novarum terbit tepat pada 15 Mei 1891; untuk kemudian menginsipirasi ensiklik lainnya, Quadragesimo anno (1931) oleh Paus Pius XI memperkaya ASG dengan titik tekan pada dimensi etis dari tatanan sosial dan ekonomi.
Ensiklik Mater et magistra (1961) oleh Yohanes XXIII, menggambarkan perlunya berupaya mewujudkan komunitas yang otentik untuk mempromosikan martabat manusia. Hal ini mengajarkan bahwa negara terkadang harus campur tangan dalam hal perawatan kesehatan, pendidikan, dan perumahan.
Selanjutnya ensiklik Octogesima adveniens (1971) oleh Paus Paulus VI, dikenal sebagai Seruan untuk Bertindak pada Peringatan Kedelapan Puluh Rerum Novarum, ini adalah Surat Apostolik yang membahas tema-tema seperti mengamankan landasan demokrasi dalam masyarakat.
Kemudian, ensiklik Centesimus annus (1991) oleh Paus Yohanes Paulus II sebagai seruan moral yang penting dengan melihat adanya ketimpangan sosial yang melebar.
"Ketimpangan yang mencolok terjadi dalam pembangunan ekonomi, budaya dan politik suatu negara: meskipun beberapa wilayah sudah mengalami industri besar, wilayah lainnya masih berada pada tahap pertanian; sementara beberapa negara menikmati kemakmuran, negara-negara lain berjuang melawan kelaparan; meskipun beberapa masyarakat memiliki standar budaya yang tinggi, sebagian lainnya masih berupaya memberantas buta huruf."
Tibalah 15 Mei 2026, Paus Leo XIV menandatangani dan resmi mengumumkan ensiklik pertamanya pada 25 Mei 2026. Ensiklik yang meneguhkan kembali komitmen ASG dengan melihat salah satu isu penting dan utama, yakni kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Magnifica Humanitas atau Kemanusiaan yang Agung menyorot secara khusus kemajuan teknologi Artificial Intelligence/AI (akal buatan/akal imitasi).
AI memang semacam menjadi satu tanda martabat manusia kontemporer, bahkan banyak pemimpin politik dan negara “mengidolakan” AI sebagai cara kerja kekuasaan.
Apa yang ditulis Santo Bapa Leo XIV bukan penolakan terhadap AI sebagai teknologi penolong tetapi suatu awasan akan dampak AI bagi martabat dan kehidupan umat manusia.
Ensiklik ini bagaikan meriam keadilan yang dilesakkan dari Vatikan: "Ensiklik ini berkaitan dengan usaha melestarikan martabat manusia di era akal imitasi."
| Opini - Praksis Pembebasan dan Inkulturasi Sejati Gereja Katolik di NTT |
|
|---|
| Opini: Indonesia Emas dan Produksi Kecemasan Nasional |
|
|---|
| Opini: Bunyi dan Hening |
|
|---|
| Opini - Ketika Tobat Menjadi Viral: Membaca Pengakuan Dosa Terbuka dalam Terang Teologi Pembebasan |
|
|---|
| Opini: Ketika Jepang Menyamai Belanda dan Mengingatkan Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Anggota-DPRD-Provinsi-NTT-dari-Partai-Demokrasi-Indonesia-Eman-Kolfidus.jpg)