Opini
Opini: Pendidikan Bukan Hanya Soal Sekolah
Dalam kacamata pragmatis birokrasi, efisiensi adalah segalanya. Kuliah harus linear dengan urusan "isi piring". Selesai.
Oleh: Lasarus Jehamat
Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Beberapa waktu lalu, sebuah wacana menggelinding dari meja birokrasi dan langsung membentur dinding ruang dosen; rencana penutupan sejumlah program studi yang dianggap " sepi peminat" dan minim serapan kerja.
Negara, dengan kalkulator ekonomi di tangan dan spreadsheet di kepala, tampaknya mulai memperlakukan perguruan tinggi seperti pabrik tahu; kalau produknya tidak laku di pasar, tutup saja dapur produksinya.
Logika ini sekilas terdengar masuk akal. Mengapa harus menghabiskan anggaran untuk prodi yang lulusannya kelak menghiasi statistik pengangguran?
Data BPS (2024) memang menunjukkan bahwa pengangguran terdidik dari lulusan universitas masih menjadi pekerjaan rumah struktural yang belum tuntas.
Dalam kacamata pragmatis birokrasi, efisiensi adalah segalanya. Kuliah harus linear dengan urusan "isi piring". Selesai.
Baca juga: Opini: Membaca HIV dari Tubuh Ibu Rumah Tangga di Kupang
Premis bahwa orang bersekolah semata-mata teurtama untuk mencari pekerjaan sebenarnya bukan premis yang salah.
Salah kaprahnya muncul ketika logika itu kemudian dijadikan satu-satunya fondasi menyusun cetak biru pendidikan nasional. Itu bukan lagi pragmatisme.
Itu reduksionisme. Manusia direduksi menjadi modal produksi, kampus direduksi menjadi balai latihan kerja bergedung mewah, dan ijazah direduksi menjadi selembar tiket masuk ke antrian divisi Human Resources Development (HRD).
Karl Marx (1867), dalam teori alienasi dan komodifikasi tenaga kerja, sudah memperingatkan hal itu. Amat berbahaya ketika manusia hanya dilihat dari nilai tukarnya di pasar.
Mahasiswa tidak lagi dididik menjadi manusia seutuhnya, melainkan ditempa menjadi sekrup-sekrup kecil dalam mesin kapitalisme industri. Sarjana dikondisikan untuk menjadi mesin penghasil laba.
Nilainya hanya diakui selama ada utilitas ekonomi. Begitu pasar tidak lagi membutuhkan mereka, mereka bingung, karena sejak awal tidak pernah diajarkan cara "hidup" di luar rutinitas korporat.
Krisis eksistensi di usia 30-an bukan semata soal gaji kecil, tapi soal tidak pernah tahu siapa dirinya selain "karyawan".
Sekolah untuk Hidup
Di sinilah prinsip Latin kuno perlu kita tarik kembali ke permukaan: Non scholae sed vitae discimus, kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup.
Bukan untuk nilai, bukan untuk ijazah, dan tentu bukan semata-mata untuk menyenangkan algoritma rekrutmen perusahaan multinasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Lasarus-Jehamat-05.jpg)