Minggu, 3 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Malam yang Terputus di Km 72

Ron mendorong pintu darurat sleeper. Angin malam menusuk tulang. Di luar, bus terparkir miring di pembatas beton. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Marianus Jefrino 

Oleh:  Marianus Jefrino *

POS-KUPANG.COM -Pukul dua lewat tiga puluh menit dini hari. Jalan Tol Cipali sepi, hanya sesekali lampu truk besar menyapu gelap seperti kilat pendek. 

Di dalam bus malam rute Bandung–Jakarta, lampu kabin sudah dimatikan. Kebanyakan penumpang tertidur, kepala bergoyang-goyang mengikuti irama mesin diesel yang menggeram pelan.

Ostin duduk di baris kedua, dekat jendela. Ia memeluk tas kecilnya di pangkuan seperti bantal. 

Perjalanan malam selalu membuatnya ngantuk berat, matanya sudah terpejam sejak bus keluar gerbang tol Cikampek. 

Baca juga: Cerpen: Di Ujung Ingatan

Di mimpinya, ia sedang duduk di teras rumah kontrakannya di Cikarang, minum kopi sambil mendengar suara ibunya memanggil dari dapur. Suara itu hangat, menenangkan.

Tiba-tiba dunia jungkir.

Bunyi dentuman keras seperti petasan raksasa meledak di dalam telinga. Tubuh Ostin terangkat dari kursi, lalu terlempar ke depan sekuat tenaga. Kepalanya menghantam sandaran kursi depan, sekilas ia merasa seperti ada yang memukulnya dengan palu godam. 

Gelap. Lalu terang lagi, disusul bau besi dan asap yang menusuk hidung. Ia membuka mata perlahan. Dunia miring. 

Kaca depan bus sudah pecah berantakan, serpihan-serpihan kecil berkilauan di bawah lampu jalan tol yang masih menyala. 

Darah hangat mengalir dari pelipisnya, menetes ke pipi, lalu ke leher. Ia mencoba bergerak, tapi badannya terasa remuk.

“Ya Tuhan…” suara lirihnya sendiri terdengar asing.

Di sekitarnya, jeritan dan tangisan bercampur jadi satu. Ada yang menangis memanggil nama anaknya, ada yang hanya mengerang tanpa suara. Ostin memegang kepalanya, lengket. Ia menatap tangannya, merah pekat.

Di bagian sleeper belakang, Ron terbangun karena tubuhnya terbanting keras ke dinding partisi. Ia sedang meringkuk di ranjang atas, selimut menutupi sampai dada.

Benturan itu seperti tangan raksasa yang mengguncang seluruh bus. Ia merangkak turun, kakinya gemetar. Lantai bus miring, sandal jepitnya entah ke mana.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved