Minggu, 3 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Malam yang Terputus di Km 72

Ron mendorong pintu darurat sleeper. Angin malam menusuk tulang. Di luar, bus terparkir miring di pembatas beton. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Marianus Jefrino 

“Mas! Mbak! Ada yang bisa jalan?” teriak seseorang dari depan.

Ron mendorong pintu darurat sleeper. Angin malam menusuk tulang. Di luar, bus terparkir miring di pembatas beton. 

Bagian depannya sudah remuk, menyatu dengan bodi truk tangki yang terbalik. Asap hitam mengepul dari kap mesin. 

Lampu hazard truk masih berkedip-kedip merah, seperti mata yang sekarat.

Ron melihat tubuh-tubuh tergeletak di aspal. Ada yang diam tak bergerak, ada yang merintih pelan. 

Seorang ibu memeluk anak kecilnya, keduanya penuh darah tapi masih bernapas. Ia ingin menangis, tapi suara tak keluar.

Tiba-tiba ia teringat Ostin, mereka sempat ngobrol sebentar saat naik di terminal. Ron berlari ke arah pintu tengah bus yang sudah terbuka paksa. 

Di dalam, ia melihat Ostin masih duduk di lantai lorong, memegang kepala, wajahnya pucat tapi matanya terbuka lebar.

“Os! Masih hidup lo?” Ron memapahnya keluar.

Ostin mengangguk lemah. “Lima… kayaknya lima yang nggak gerak tadi aku lihat…” suaranya serak, seperti menahan tangis.

Mereka berdua duduk di pinggir tol, bersandar ke pembatas beton yang dingin. Di kejauhan, sirene ambulans mulai terdengar, semakin dekat, semakin nyaring.

Lampu biru-merah menyapu wajah-wajah pucat para penyintas. Ron menatap langit yang masih gelap. Bintang-bintang masih di tempatnya, seolah tak peduli dunia di bawah ini baru saja retak.

“Gue cuma tidur bentar,” gumam Ostin tiba-tiba. “Bangun-bangun udah begini.

Kayak mimpi buruk, tapi nggak bangun-bangun.”

Ron tak menjawab. Ia hanya menepuk bahu Ostin pelan, seolah berkata, “Kita masih hidup. Itu sudah cukup untuk malam ini.”

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved