Kamis, 16 April 2026

Opini

Opini: Yang Berhembus Dari Ruang Muspas Keuskupan Agung Kupang

Kenyataan kuat pertama yang menandai situasi Muspas adalah keceriaan yang jenaka. Para peserta tidak hanya datang untuk bermuspas. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JB KLEDEN
JB Kleden 

Anak-anak Sanres, Givans,  Adisucpito, Seminari Oepoi, Seminari St. Rafael, dan Paduan Suara San Jose Choir, turut menghangatkan suasana dengan irama ‘tabola-bale’ sesesuai hati mereka yang remaja. 

Mereka seperti ingin menegaskan, kami tidak datang untuk menghibur para gembala, tapi berjalan bersama melintasi padang sunyi dengan lagu dan irama meski kadang “tabola-bale”.

Sambil bagoyang badane mereka seperti mau mewartakan di padang gembalaan, Tuhan adalah a dancing God yang ikut menari-nari dalam keriangan manusia.  

Ia sungguh Gembala di padang hidup, bukan penguasa yang jauh dan acuh tak acuh terhadap hal ihwal insani ini. 

Dan saat How Great Thou Art dilantunkan, suasana menjadi hening. Terasa ada yang jatuh di sudut hati. Entah nikmat, entah rahmat. 

Memang hanyalah keharuan yang terjadi jika hati manusia tersentuh cinta Ilahi. 

Lebih daripada kotbah yang panjang-panjang tentang keagungan Tuhan dan penebusan Yesus, lagu itu mengingatkan betapa berharganya alam ciptaan dan manusia di hadapan Tuhan. It was really a beautiful day.

***

Selama Muspas peserta berkutat dengan sejumlah persoalan pendidikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  

Sebagai pemantik diskusi Prof. Yanuar Nugroho, dari STF Driyarkara, Jakarta memaparkan beberapa perkara yang lebih basic menyangkut kehidupan bangsa dan negara dalam merefleksikan Indonesia hinc et nunc. 

Ia mengungkapkan Indonesia emas adalah sebuah kemilau di ujung sana. Dan seluruh rakyat Indonesia pun bermimpi tiba di sana dengan hati berbunga-bunga. 

Tetapi kesenjangan yang terjadi di hampir semua lini kehidupan akibat politik kepentingan membuat cemas. 

Ruang publik menyempit dan rendahnya ‘state capacity’. Masyarakat terhisap dalam orbit kekuasaan, dan politisi asyik dengan jalan kekuasaannya.  

Pater Sebast Wajang, SVD, berkelakar “Saya jadi pesimis apakah kita sedang menuju Indonesia emas atau Indonesia cemas.” Kesan ini sangat menantang sejauh mana orang mau jujur dan kritis terhadap situasi bangsanya. 

Dr. Vincensius Darmin Mbula, OFM, Ketua Presdium Majelis Nasional Pendidikan Katolik, KWI, memunculkan fenomena sekolah-sekolah Katolik saat ini. 

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved