Breaking News
Jumat, 17 April 2026

Opini

Opini - Ketika Data Mengalahkan Realitas: Ancaman Baru Bagi Kearifan Lokal NTT

Cuaca dicek dari aplikasi, harga ditentukan dari media sosial, dan keputusan usaha semakin bergantung pada tren digital.

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Fr. Kristoforus Alfaris 

Opini - Ketika Data Mengalahkan Realitas: Ancaman Baru bagi Kearifan Lokal NTT
Oleh: Fr. Kristoforus Alfaris
(Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

POS-KUPANG.COM - Di banyak sudut Nusa Tenggara Timur hari ini, perubahan terjadi secara diam-diam namun pasti. Di pasar tradisional, di kebun, bahkan di pesisir, orang mulai lebih percaya pada informasi dari ponsel daripada pengalaman hidup mereka sendiri.

Cuaca dicek dari aplikasi, harga ditentukan dari media sosial, dan keputusan usaha semakin bergantung pada tren digital. Pertanyaannya sederhana tetapi mengguncang: apakah data selalu lebih benar daripada realitas?

Fenomena ini membawa kita pada persoalan mendasar yang dalam filsafat disebut epistemologi ilmu tentang bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan bagaimana memastikan bahwa pengetahuan itu benar.

Dalam era digital, muncul apa yang dapat disebut sebagai veritas maschina, yaitu kebenaran yang dihasilkan mesin melalui pengolahan data dan algoritma.

Sekilas, kebenaran ini tampak meyakinkan: cepat, efisien, dan berbasis angka. Namun, apakah itu cukup untuk disebut sebagai pengetahuan sejati?

Dalam epistemologi, pengetahuan tidak hanya berarti memiliki informasi. Ia harus memenuhi tiga syarat utama: keyakinan, kebenaran, dan pembuktian. 

Pertama, pengetahuan harus diyakini oleh subjek. Kedua, ia harus benar, sesuai dengan realitas. Ketiga, ia harus memiliki dasar atau alasan yang kuat.

Tanpa ketiga unsur ini, sebuah klaim tidak dapat disebut sebagai pengetahuan, melainkan sekadar opini. Jika kita melihat veritas maschina dari sudut ini, maka muncul persoalan serius.

Dari sisi keyakinan, mesin tidak memiliki kesadaran. Ia tidak “percaya” pada apa pun, melainkan hanya memproses data. Sementara itu, manusia selalu terlibat secara langsung dalam realitas yang ia ketahui.

Seorang nelayan di Laut Sawu, misalnya, menentukan waktu melaut bukan hanya dari informasi digital, tetapi dari pengalaman membaca arah angin dan gelombang.

Dari sisi kebenaran, mesin memang unggul dalam menghasilkan kebenaran logis. Ia mampu mengolah data dalam jumlah besar dengan cepat dan konsisten.

Namun, kebenaran ini bersifat parsial. Mesin hanya mengetahui apa yang tersedia dalam data. Padahal, tidak semua realitas NTT terdokumentasi secara digital.

Banyak kearifan lokal tentang musim tanam, relasi adat, dan pola hidup masyarakat tidak masuk dalam sistem digital. Akibatnya, kebenaran yang dihasilkan mesin tidak selalu mencerminkan kenyataan yang utuh.

Dari sisi pembuktian, mesin mengandalkan analisis statistik dan korelasi data. Namun, pembuktian ini sangat bergantung pada kualitas data. Jika data tidak lengkap atau bias, maka hasilnya pun dapat menyesatkan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved