Rabu, 15 April 2026

Opini

Opini: Yang Berhembus Dari Ruang Muspas Keuskupan Agung Kupang

Kenyataan kuat pertama yang menandai situasi Muspas adalah keceriaan yang jenaka. Para peserta tidak hanya datang untuk bermuspas. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JB KLEDEN
JB Kleden 

Sebab bagi saya menyuguhkan potret pemandangan yang indah jauh lebih bermanfaat daripada menyusun definisi yang utuh tentang apa itu pemandangan yang indah. 

***

Kenyataan kuat pertama yang menandai situasi Muspas adalah keceriaan yang jenaka. Para peserta tidak hanya datang untuk bermuspas. 

Mereka datang membawa serta cerita, harapan, dan luka-luka kecil dari medan pastoral di paroki-paroki dan lembaga-lembaga pendidikan yang tak selalu ramah. 

Saya melihat para pastor, biarawan/wati, umat yang menjadi utusan paroki saling bertukar kisah. 

Mereka yang seangkatan saling mengolok tentang kenangan-kenangan kecil di bangku seminari yang tidak pernah hilang dalam ruang dan waktu. Ada Romo Amance berkisah dengan gaya stand up komedi yang membuat suasana penuh ceria. 

Saya merasakan Muspas menjadi perhentian spiritual, tempat para pelayan sabda menepi sejenak dari riuh redah dunia, untuk menata ulang arah pelayanan, dan mungkin, untuk saling menatap dan tertawa. 

Tawa yang ria dan jenaka adalah keindahan alami yang bisa dirasakan semua orang, bahasa yang bisa didengar seorang bisu dan nada yang dengan gampang dinikmati seorang tuli.

Di ruang itu, panggilan hidup menjadi cerita, bukan beban. Seperti kata Karl Rahner, “Seorang imam adalah misteri yang hidup di antara misteri-misteri lain.” 

Mereka saling menafsirkan misteri itu dengan tawa dan pelukan yang melampaui chronos dan bahkan juga kairos. 

Pada titik ini Muspas menjadi cermin. Di dalamnya, para peserta melihat bayangan diri mereka: lelah, kadang sinis, tapi tetap setia. 

Mereka berolok-olok, bukan untuk membandingkan paroki atau sekolah mereka, melainkan untuk mengingat bahwa mereka dipanggil untuk berjalan bersama. 

Dalam proses itu, kegembiraan imamat adalah bentuk tertinggi dari spiritualitas. 

Rekan saya semasa seminari, Romo Ambros Bala Ladjar, berguyon ketika saya mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. 

“Kobu kita ini seperti lilin. Memberi terang, tapi perlahan habis.” Saya menjawab, “Tapi lilin yang habis karena memberi terang adalah lilin yang hidup dalam Injil.” Dan kami tertawa, bukan karena lucu, tapi karena tahu bahwa itu benar.

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved