Kamis, 16 April 2026

Opini

Opini: ProKlim, Ekonomi Karbon, dan Momentum Aksi Nyata dari Komunitas

Tantangan terbesar ProKlim hari ini bukan pada konsep, melainkan pada skala, keberlanjutan, dan nilai tambah ekonomi.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PATRIA PMKRI
Agustinus Tamo Mbapa 

Oleh: Agustinus Tamo Mbapa, S.Sos., M.Si.
Ketua Umum Perkumpulan Alumni Margasiswa Republik Indonesia (PATRIA PMKRI)

POS-KUPANG.COM - Indonesia sedang berada di titik krusial dalam menghadapi perubahan iklim

Komitmen penurunan emisi melalui Nationally Determined Contribution (NDC) bukan lagi sekadar janji diplomatik, melainkan tuntutan nyata yang harus dijawab hingga ke level desa dan komunitas.

Dalam konteks ini, Program Kampung Iklim ( ProKlim) yang diinisiasi pemerintah patut diapresiasi.

Program ini telah membuka ruang bagi masyarakat untuk tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi subjek utama dalam aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Tantangan terbesar ProKlim hari ini bukan pada konsep, melainkan pada skala, keberlanjutan, dan nilai tambah ekonomi.

Baca juga: Opini: Perubahan Iklim dan Lonjakan Hama

Data menunjukkan, Indonesia menargetkan penurunan emisi sebesar 31,89 persen  secara mandiri dan hingga 43,2 persen  dengan dukungan internasional pada 2030. 

Sementara sektor berbasis lahan, energi, dan limbah masih menjadi kontributor utama emisi nasional. Artinya, tanpa pelibatan aktif komunitas secara masif, target ini akan sulit tercapai.

ProKlim seharusnya mengambil peran lebih strategis. Dalam praktiknya, banyak inisiatif di tingkat kampung masih bersifat sporadis, belum terstandarisasi, dan belum terhubung dengan sistem insentif yang jelas. 

Padahal, dunia sudah bergerak ke arah baru yakni aksi iklim bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga peluang ekonomi melalui skema nilai ekonomi karbon.

Indonesia sendiri telah mulai membangun kerangka carbon pricing, termasuk perdagangan karbon domestik. 

Ini merupakan langkah maju, namun, pertanyaan mendasarnya apakah masyarakat di tingkat kampung sudah menjadi bagian dari ekosistem ini? Jawabannya: belum optimal.

Kita masih melihat kesenjangan antara kebijakan di tingkat pusat dengan implementasi di tingkat akar rumput. Masyarakat melakukan penghijauan, mengelola sampah, menjaga lingkungan, tetapi belum mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari rantai nilai ekonomi karbon.

Akibatnya, aksi iklim di tingkat komunitas sering berhenti sebagai gerakan moral, bukan gerakan yang berkelanjutan secara ekonomi.

Sebagai organisasi alumni yang berakar dari gerakan kaderisasi dan pengabdian, PATRIA PMKRI memandang bahwa momentum ini harus diubah. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved