Opini
Opini: NTT Darurat Literasi, Dari Seremoni ke Evidensi
Jika pintu itu tertutup bagi mayoritas anak NTT, maka sesungguhnya kita sedang mempertaruhkan masa depan sebuah provinsi.
Penutup
Krisis literasi di NTT adalah cermin bahwa pembangunan pendidikan tidak bisa berhenti pada seremoni dan jargon belaka.
Jika kita sungguh serius, maka setiap buku yang sampai ke tangan anak, setiap menit membaca yang konsisten di kelas, dan setiap anak yang kembali duduk di bangku sekolah adalah kemenangan kecil yang bermakna besar.
Pemerintah, sekolah, komunitas, hingga keluarga harus menyadari bahwa waktu kita tidak panjang, setiap tahun yang terlewat berarti satu generasi kehilangan kesempatan emasnya.
Karena itu, mari berhenti menunggu program baru yang meriah, yang kita butuhkan adalah keberanian untuk memastikan evidensi nyata hadir minggu ini, bulan ini, dan tahun ini.
Literasi bukan sekadar urusan akademik, tetapi tiket anak-anak NTT untuk meraih masa depan yang lebih adil dan bermartabat. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rikardus-Herak.jpg)