Opini
Opini: NTT Darurat Literasi, Dari Seremoni ke Evidensi
Jika pintu itu tertutup bagi mayoritas anak NTT, maka sesungguhnya kita sedang mempertaruhkan masa depan sebuah provinsi.
Karena itu, saatnya beralih dari jargon ke evidensi. Ada sejumlah langkah sederhana, murah, dan terukur yang bisa diambil dalam 6-12 bulan ke depan.
Pertama, membiasakan ritus membaca 15 menit setiap hari di sekolah, lengkap dengan rubrik pemahaman sederha agar guru dapat memantau capaian.
Kedua, menyediakan Paket Kurikulum Mikro Literasi berisi teks bertingkat per jenjang, sehingga guru tidak lagi kesulitan mencari bahan bacaan yang sesuai.
Ketiga, memanfaatkan bahasa ibu sebagai jembatan literasi awal sebelum beralih ke Bahasa Indonesia, agar anak lebih cepat memahami teks.
Keempat, memperbaiki distribusi buku dengan subsidi ongkos kirim dan pooling pesanan antarsekolah, sehingga anak-anak di pulau terpencil pun mendapat akses bacaan.
Kelima, menghidupkan klub baca komunitas di paroki, masjid, atau sanggar, sebagai ruang tambahan untuk memperpanjang jam paparan teks di luar sekolah.
Langkah-langkah ini akan efektif bila diiringi sistem akuntabilitas publik.
NTT perlu memiliki Dashboard Literasi tingkat kabupaten/kota yang menampilkan indikator sederhana: jam membaca terstruktur, persentase murid yang mencapai skor minimal, jumlah judul bacaan baru, partisipasi klub baca komunitas, serta data anak yang kembali bersekolah.
Data ini bukan untuk mempermalukan sekolah, melainkan untuk mengarahkan bantuan dengan tepat, sekolah yang kekurangan buku mendapat distribusi tambahan, sementara sekolah dengan capaian stagnan mendapat pelatihan strategi mengajar membaca.
Pendanaan pun tidak harus besar, asalkan tepat sasaran. Cukup alihkan 1-2 persen anggaran program untuk Dana Logistik Buku dan dukungan klub baca.
Penghematan bisa dicapai melalui standardisasi paket cetak. konsolidasi ongkos kirim, serta pemanfaatan konten terbuka.
Selain itu, hibah mikro bagi komunitas yang menjalankan klub baca berkelanjutan akan menjadi investasi kecil dengan dampak besar.
Dengan dukungan kebijakan yang jelas, target realistis sekaligus berani bisa ditetapkan: pada 2026, 50 persen sekolah di NTT mampu mencapai standar minimum literasi, dan pada 2030 naik menjadi 80 persen.
Target ini harus ditopang peta prioritas, dimulai dari daerah dengan beban ATS tinggi dan akses logistik sulit.
Capaian perlu dipublikasikan per kuartal agar keberhasilan dapat segera ditiru oleh sekolah lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rikardus-Herak.jpg)