Opini
Opini - Keluar dari Gua Euforia: Menggugat Budaya Coretan Kelulusan
Akhir-akhir ini publik dihebohkan dengan coretan-coretan pada seragam sekolah yang mengandung unsur pelecehan.
Opini - Keluar dari Gua Euforia: Menggugat Budaya Coretan Kelulusan
Oleh: Fausta Yohanes Vianey Midaun
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Sebelum saya memulai tulisan ini, saya dan para saudara-saudari sekalian pasti telah melewati atau bahkan sekarang berada pada masa-masa ini.
Ketika kita memulai suatu masa pendidikan, khususnya ketika berada pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), pasti terdapat berbagai kisah yang dilewati, baik itu memberi kesan bahagia maupun yang buruk sekalipun.
Namun semua perjalanan itu akan terbayar ketika kita sampai pada tahap akhir, yakni kelulusan. Di mana pada saat yang menyenangkan itu dirayakan dengan penuh suka cita.
Euforia seperti ini terjadi setiap tahunnya oleh sekolah-sekolah di berbagai daerah, khususnya kita di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan berbagai bentuk acara dan kegiatan yang dilakukan.
Dalam momen-momen euforia itu terdapat suatu kegiatan yang telah menjadi tradisi turun temurun dengan tindakan mencoret seragam sekolah sebagai suatu bentuk ekspresi kegembiraan atas kelulusan yang telah dicapai selama mengenyam masa pendidikan yang panjang.
Tindakan seperti ini merupakan hal lazim yang terjadi hampir di seluruh sekolah sekolah, khususnya di daerah NTT. Bahkan tindakan mencoret seragam sekolah kini telah dipandang sebagai simbol gaya kekinian.
Jika tidak melakukannya maka, seseorang dianggap tidak gaul atau kurang mengikuti tren. Namun ditengah euforia mencoret seragam sekolah tersebut muncul suatu fenomena yang sangat menyedihkan.
Akhir-akhir ini publik dihebohkan dengan coretan-coretan pada seragam sekolah yang mengandung unsur pelecehan yang berpotensi menurunkan martabat manusia.
Seragam sekolah yang menyimbolkan institut pendidikan di mana menjadi sumber intelektual, karakter, dan moral malah dirusak esensinya sebagai institut yang bermartabat dengan euforia sesaat.
Fenomena seperti ini dianggap merupakan hal yang wajar, sebab telah menjadi sebuah kebiasaan dan ruang mengungkapkan ekspresi kegembiraan bagi para siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) ketika pada momen kelulusan.
Padahal jika diteliti lebih dalam lagi aksi itu tidak lain menyangkut suatu nilai yang dipertaruhkan. Seragam yang digunakan khusus ke sekolah tidak sekedar formalitas pakaian biasa, melainkan sebagai simbol bahwa seseorang sedang dalam proses memanusiakan manusia.
Seragam sekolah merepresentasikan kesempatan pendidikan yang tidak semua orang dapat akses secara. Maka jika seragam dicoret, bahkan sampai mengandung tindakan pelecehan.
Fenomena ini dapat dilihat sebagai tanda bahwa Pendidikan karakter belum sepenuhnya berhasil menumbuhkan kesadaran etis mengenai kelulusan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Fausta-Yohanes-Vianey-Midaun.jpg)