Opini
Opini: NTT Darurat Literasi, Dari Seremoni ke Evidensi
Jika pintu itu tertutup bagi mayoritas anak NTT, maka sesungguhnya kita sedang mempertaruhkan masa depan sebuah provinsi.
Oleh: Dr. Rikardus Herak, S.Pd., M.Pd
Akademisi Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Ketika berbicara tentang masa depan pendidikan Indonesia, jarang sekali publik menoleh ke timur, ke Nusa Tenggara Timur (NTT).
Padahal, di balik panorama alam yang indah, ada kenyataan getir: krisis literasi yang membelenggu ribuan anak.
Krisis ini bukan sekadar soal nilai ujian, melainkan soal bagaimana generasi muda dapat memahami teks, membuka wawasan, dan membangun masa depan.
Membaca bukan hanya keterampilan akademik, melainkan pintu utama menuju mobilitas sosial, kesempatan kerja, dan partisipasi aktif dalam masyarakat.
Jika pintu itu tertutup bagi mayoritas anak NTT, maka sesungguhnya kita sedang mempertaruhkan masa depan sebuah provinsi.
Baca juga: Opini: Dari Homo Sapiens ke Homo Hedonis
Data Asesmen Nasional (AN) 2023 menegaskan kondisi darurat ini. Hanya sekitar 22 persen satuan pendidikan di NTT yang mencapai kompetensi literasi di atas standar minimum; artinya mayoritas murid belum mampu memahami bacaan dasar.
Krisis ini semakin berat karena NTT juga menghadapi masalah Anak Tidak Sekolah (ATS) dalam jumlah besar: lebih dari 130 ribu anak, bahkan ada temuan yang menyebut 145 ribu anak usia sekolah tak bersekolah.
Literasi mustahil meningkat jika anak-anak tidak hadir di kelas. Kondisi ini ibarat mengisi air ke ember bocor selama lubang itu tidak ditutup, usaha peningkatan akan sia-sia.
Pemerintah provinsi sejatinya telah berupaya melalui Gerakan NTT Membaca dan NTT Menulis dalam payung Gentabelis.
Gerakan ini patut diapresiasi karena mendorong publikasi tulisan siswa dan kepemimpinan murid.
Namun, gebrakan semacam ini hanya akan berarti jika dibarengi peningkatan nyata di lapangan.
Seremoni boleh meriah, tetapi indikator sejatinya adalah kemajuan hasil belajar murid dari tahun ke tahun.
Literasi harus menjadi urusan semua orang. Tanpa kemampuan membaca yang baik, pelajaran IPA hanya akan jadi hafalan, IPS menjadi teka-teki, dan pendidikan vokasi macet karena instruksi tak terbaca jelas.
Inilah sebabnya AN menempatkan literasi membaca, bersama numerasi, sebagai fondasi yang menentukan keberhasilan belajar di semua mata pelajaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rikardus-Herak.jpg)