Rabu, 22 April 2026

Opini

Opini: Kala Hoaks Menodai Taman Eden, Antara Bahasa dan Pikiran

Secara historis-etimologis, kata hoaks mulai dikenal pada tahun 1796. Ddalam bahasa Inggris — hoax— tergolong ke dalam kata kerja .

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI VIKTORIUS P FEKA
Viktorius P. Feka 

Pada metafora konseptual “larangan adalah penjara”, ular menyulap konsep larangan (ranah target) ke dalam konsep penjara (ranah sumber). 

Larangan dikonsepkan sebagai penjara, dengan pemetaan  metafora konseptualnya adalah hukum  sama dengan jeruji, ketaatan berubah mejadi keterkurungan, pelanggaran hukum berarti pembebasan atau pelarian. 

Larangan Tuhan di Taman Eden atas buah pengetahuan dianggap sebagai tembok yang membatasi kebebasan kognitif manusia. 

Ular memosisikan larangan ini sebagai pengekangan: “Tuhan tahu jika kamu sudah memakannya, kamu akan menjadi seperti Dia” (bdk, Kejadian, 3:5). 

Hawa, dalam narasi ini, membebaskan diri dari penjara kepolosan melalui tindakan pembangkangan. 

Namun, pembebasan ini mesti dibayar mahal: mereka diusir dari taman, kehilangan keabadian dan kebahagiaan, serta harus menanggung penderitaan dan maut. 

Jadi, dalam metafora ini, tindakan Hawa bukan semata-mata dosa, melainkan bentuk pembebasan dari pengekangan ilahi. 

Akan tetapi, seperti dalam banyak kisah pelarian, kebebasan datang dengan konsekuensi kehilangan perlindungan dan munculnya penderitaan. 

Di sini kita dapat mengatakan: “Kebenaran memang membebaskan, tapi serempak menghukum”.

Di Eden modern, hoaks tetap beroperasi dengan pola kognitif yang sama. Hoaks tak hanya disusun dengan kata-kata yang salah, tapi juga dengan cara distribusi yang menyasar kerangka konseptual dan emosional tertentu. 

Bahasa yang digunakan dalam hoaks sangatlah berbeda dari yang digunakan untuk menyatakan kebenaran sejati, yakni bahasa hoaks sering kali memanfaatkan metafora yang kuat, generalisasi emosional, dan penekanan pada “pencerahan alternatif” atau “kebenaran yang disembunyikan”. 

Dalam konteks ini, linguistik kognitif menyediakan alat untuk memahami bahwa pemprosesan bahasa bukan hanya soal makna literal, tapi juga bagaimana makna itu dibentuk oleh pikiran dan budaya.

Di dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, hoaks pun tak dapat dibendung. Pengemasan hoaks sering kali dilakukan dengan mode riset ilmiah. 

Berkedok riset, data dimanipulasi-rekayasa, lalu dianalisis dengan metode atau pendekatan yang pas seturut teorinya, dan disajikan secara ilmiah seolah itu adalah kebenaran ilmiah dari hasil kerja benaran di lapangan. 

Padahal, itu hanyalah hasil dari duduk berpangku tangan di belakang meja. Data fiktif disihir menjadi data sungguhan semacam data tersebut diperoleh langsung dari lapangan. 

Bahkan, ada kalanya data diperoleh dari berbagai sumber tanpa  verifikasi validasi. Ini adalah bentuk hoaks ilmiah yang kerap terjadi dan dilakonkan.  

Pada akhirnya, kita tak boleh mudah tergoda untuk memetik dan memakan buah terlarang “hoaks” dari taman eden modern, tetapi kita perlu cermat dan bijak. 

Ini bisa kita lakukan dengan menalar, menyangsikan, dan memverifikasi fakta (data) yang diperoleh. 

Kita mesti berikhtiar menciptakan lingkungan yang tidak hanya indah seperti Taman Eden, tetapi juga menjunjung tinggi kebenaran. 

Kita tidak boleh mudah terperangkap ke dalam narasi yang manipulatif, sekalipun narasi ilmiah. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News

 

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved