Sabtu, 25 April 2026

Opini

Opini: Efisiensi yang Berpindah Tempat

Ketika pemerintah berupaya menekan konsumsi BBM melalui kebijakan WFH, yang terjadi justru peningkatan konsumsi energi di sektor lain. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI EDUARDUS J SAHAGUN
Eduardus Johanes Sahagun. 

Oleh: Eduardus Johanes Sahagun, M.A
ASN Kemendukbangga/BKKBN Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Coba kita bayangkan sebuah kondisi di mana jalanan seharusnya lengang, kosong, tidak bising dengan lalulintas, karena kebijakan kerja dari rumah atau biasa disebut work from home (WFH), tetapi kenyataannya justru kafe-kafe penuh, pusat belanja dan gerbang sekolah tetap ramai? 

Hemat saya, inilah potret menarik sekaligus membingungkan dari apa yang dapat disebut sebagai paradoks efisiensi di era modern.

Kita tahu bahwa kebijakan work from home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Jumat (mulai 1 April 2026) yang telah diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dengan aturan teknisnya diterbitkan melalui surat edaran Menteri PANRB dan Menteri Dalam Negeri (untuk Pemda), sejatinya dirancang dengan tujuan yang sangat rasional: mengurangi mobilitas, menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), serta menurunkan emisi karbon. 

Baca juga: WFH di Ende, Bupati Yosef Badeoda Sebut ASN Gotong Royong Bersihkan Lingkungan dan Jalan 

Dalam banyak skenario kebijakan, bahkan ditargetkan penghematan konsumsi energi hingga puluhan persen. 

Di atas kertas, hasilnya terlihat sangat menjanjikan, lebih sedikit kendaraan di jalan, lebih sedikit kemacetan, dan tentu saja, lebih hemat energi. 

Namun demikian, realitas sosial seringkali tidak sesederhana perhitungan di atas kertas.

Alih-alih bekerja sepenuhnya dari rumah, sebagian pekerja justru memindahkan aktivitasnya ke ruang-ruang alternatif seperti kafe atau co-working space. 

Alasannya cukup beragam, suasana yang lebih kondusif, akses internet yang lebih stabil, hingga kebutuhan akan interaksi sosial. 

Di sisi lain, para siswa tetap harus datang ke sekolah, bukan untuk mengikuti proses belajar penuh, tetapi untuk mengambil jatah program makan bergizi gratis.

Jika ditilik dari kajian tata kota dan kebijakan publik, fenomena ini dikenal sebagai displacement effect atau efek perpindahan. 

Artinya, aktivitas tidak benar-benar berkurang, melainkan hanya bergeser atau berpindah lokasi. 

Di situlah, mobilitas tetap terjadi, energi tetap digunakan, hanya saja dalam bentuk dan tempat yang berbeda. Inilah letak persoalannya. 

Ketika pemerintah berupaya menekan konsumsi BBM melalui kebijakan WFH, yang terjadi justru peningkatan konsumsi energi di sektor lain. 

Kafe yang sebelumnya tidak terlalu ramai kini harus menyalakan pendingin ruangan lebih lama, menggunakan lebih banyak listrik, dan meningkatkan operasional. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved