Senin, 20 April 2026

Opini

Opini: Kala Hoaks Menodai Taman Eden, Antara Bahasa dan Pikiran

Secara historis-etimologis, kata hoaks mulai dikenal pada tahun 1796. Ddalam bahasa Inggris — hoax— tergolong ke dalam kata kerja .

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI VIKTORIUS P FEKA
Viktorius P. Feka 

Dalam kisah Taman Eden, hoaks muncul dalam bentuk ujaran persuasif yang mengubah kerangka berpikir Hawa. 

Saat ular berkata : “Sekali-kali kamu tidak akan mati,” (lihat, Kejadian, 3: 4), pernyataan itu bukan sekadar bantahan atas larangan Tuhan, melainkan juga representasi dari reframing (pembingkaian kembali), yaitu mengubah cara suatu konsep dipahami dengan menyusun ulang kerangka konseptualnya. 

Tuhan membingkai pohon itu sebagai simbol larangan dan batas, tetapi ular membingkainya sebagai sumber pencerahan dan kekuasaan. 

Melalui jalan ini, Hawa tak sekadar  diyakinkan oleh kata-kata, tapi juga oleh cara baru dalam melihat dunia. 

Perkataan ular mengubah pikiran Hawa bahwa seolah Tuhan berkata bohong ihwal larangan memetik dan memakan buah terlarang. 

Alhasil, ketaatan Hawa berubah menjadi pembangkangan terhadap perintah dan larangan Tuhan.

Masih dalam konteks linguistik kognitif, hoaks juga bekerja melalui mental spaces dan blending (penggabungan ruang mental) sebagaimana dikemukakan Fauconier dan Turner (2002) bahwa dalam berbahasa, manusia membangun berbagai ruang mental—representasi situasi alternatif—dan sering kali mencampurkan ruang-ruang tersebut untuk membentuk makna baru. 

Dalam hal ini, Hawa mulai menciptakan ruang mental baru yang bertentangan dengan ruang realitas sebelumnya, yaitu Hawa yang pada hakikatnya hanyalah manusia biasa mulai membayangkan dirinya menjadi seperti Tuhan. 

Hawa ingin menjadi Tuhan. Ini terjadi karena informasi yang disampaikan oleh ular seolah-olah benar adanya. 

Hawa mengira bahwa Tuhan telah menipunya dengan larangan memakan buah terlarang, buah pengetahuan. 

Padahal, sejatinya, ularlah yang telah memperdayai Hawa untuk mengubah ruang mentalnya yang sebenarnya ke ruang hasrat memetik dan memakan buah terlarang. 

Hawa tidak lagi menalar bahwa manusia tetaplah manusia, atau manusia tidaklah bisa menjelma menjadi Tuhan, akan tetapi ia tetap menindaklanjuti rayuan si ular untuk memetik dan memakan buah terlarang. 

Pada kasus ini, ular berhasil mengotak-atik pikiran Hawa bahwa otoritas ilahi ada juga pada manusia. 

Bahwa otoritas untuk mencipta dan mengendalikan alam semesta beserta segala isinya dapat juga dilakukan oleh manusia asalkan setelah memakan buah terlarang. 

Jelas di sini bahwa “otoritas dapat keliru”, “terdapat pengetahuan baru yang tidak disingkap”, atau barang kali “ada yang hendak mengontrol kita” adalah kerangka kognitif yang sangat kuat dan mudah dipicu oleh wacana hoaks

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved