Opini
Opini: Menanti Veronika di Menara Babel
Veronika adalah keberanian untuk berhenti sejenak di tengah sistem yang terus bergerak, lalu melihat manusia yang terluka.
Satire “Bluetooth” dan Pencarian Bahasa Kasih yang Sejati (Perspektif Kejadian 11:1–9)
Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT di Sabu Raijua
johnmhwaduneru@gmail.com
POS-KUPANG.COM - Di satu malam di Sabu, seorang anak berdiri di atas batu karang sambil mengangkat teleponnya tinggi tinggi. Ia tidak sedang bermain. Ia sedang mencari sinyal untuk mengirim tugas sekolah.
Di bawahnya, ombak terus bergerak. Di belakangnya, rumah gelap karena listrik padam. Pesan itu akhirnya terkirim, tetapi tidak ada jaminan akan sampai tepat waktu.
Di rumah yang sama, ibunya duduk diam. Mereka berdua dekat, tetapi tidak benar benar berbicara.
Baca juga: Lirik Lagu Timur Judul Lu Kenal Veronika Ko? Lagu yang Viral Di Tiktok
Data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada September 2025, kemiskinan di NTT masih berada di angka 17,50 persen atau sekitar 1,03 juta orang.
Sementara itu Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menunjukkan penetrasi internet telah melampaui 70 persen.
Banyak warga mengandalkan jaringan Telkomsel, dengan tarif yang bagi sebagian masyarakat masih terasa mahal, sementara kualitas jaringan tidak selalu stabil dan sangat bergantung pada listrik yang kerap padam.
Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang jarang kita akui: kita mungkin semakin mudah mengirim pesan, tetapi semakin sulit saling memahami.
Masalahnya Bukan Sinyal, Tetapi Bahasa yang Dipaksakan
Masalahnya bukan sekadar lemahnya jaringan. Masalahnya adalah kita dipaksa berbicara dalam satu bahasa yang tidak sepenuhnya lahir dari kehidupan kita sendiri.
Apa yang terlihat hanyalah persoalan sinyal dan listrik. Tetapi jika dibaca lebih jujur, ini adalah gejala dari sesuatu yang lebih dalam: cara pembangunan memaksa keseragaman atas realitas yang sebenarnya beragam.
NTT hidup dengan puluhan bahasa lokal. Di sana, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi cara memahami hidup.
Namun dalam ruang kebijakan dan sistem digital, hanya ada satu bahasa yang diakui sah: bahasa efisiensi, bahasa target, bahasa angka.
Kita menyebutnya kemajuan. Tetapi jika kita jujur, ini bukan kemajuan. Ini adalah penyeragaman yang bekerja diam diam, membuat manusia harus menyesuaikan diri dengan sistem yang tidak pernah benar benar memahami mereka.
Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa bahasa adalah kekuasaan. Ia menentukan siapa yang didengar dan siapa yang harus diam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-04.jpg)