Opini
Opini: Kala Hoaks Menodai Taman Eden, Antara Bahasa dan Pikiran
Secara historis-etimologis, kata hoaks mulai dikenal pada tahun 1796. Ddalam bahasa Inggris — hoax— tergolong ke dalam kata kerja .
Di Taman Eden, ular menggunakan narasi yang seolah membuka kebenaran tersembunyi yang Tuhan sembunyikan.
Ular menyulap kebenaran ilahi menjadi kebatilan, lalu menyodorkannya kepada Hawa. Pola pikir Hawa terjerembab ke dalam wacana pemelintiran fakta, begitu pula Adam.
Fenomena ini, dalam kacamata linguistik kognitif, pemahaman bahasa sangat bergantung pada embodiment—keterhubungan antara tubuh, pengalaman sensorik, dan konsep.
Maka, kata-kata, seperti “terbuka”, “melihat”, “tersingkap” dalam ujaran ular bekerja bukan hanya secara simbolik, melainkan juga aktivasi pengalaman sensorik Hawa, juga Adam, tentang mengetahui dan mengalami. Ini memperkuat efek sugesti yang terjadi dalam proses kognitif mereka.
Lebih jauh, hal ini bisa kita kupas dengan pisau metafora konseptual yang dikembangkan Lakoff dan Johnson (1980) mengenai bagaimana bahasa, termasuk hoaks bekerja dalam pikiran.
Dalam kerangka ini, banyak pemikiran manusia dibentuk oleh metafora tak sadar. Di Taman Eden, kita dapat menjumpai metafora konseptual implisit, seperti “pengetahuan adalah cahaya”, “larangan adalah penjara”. Ular menggunakan metafora-metafora ini untuk memengaruhi persepsi Hawa.
Dalam konteks inilah hoaks bukan hanya soal informasi salah, melainkan soal manipulasi kerangka konseptual yang mengubah cara pandang Hawa secara khusus dan manusia secara umum dalam memahami realitas.
Pada metafora konseptual “pengetahuan adalah cahaya”, ular mengubah konsep pengetahuan (ranah target) ke dalam konsep cahaya (ranah sumber).
Pengetahuan dikonsepkan sebagai cahaya dengan pemetaan metafora konseptualnya adalah ketidaktahuan sama dengan kegelapan, pencerahan sama dengan melihat sesuatu yang tersembunyi, dan makan buah terlarang dianggap menyalakan lampu dalam ruangan yang sebelumnya gelap.
Di sini, dapat dikatakan bahwa sebelum Hawa, juga Adam makan buah terlarang, mereka ada dalam kegelapan: tidak mengetahui yang baik dan yang jahat.
Lalu, ular menawarkan cahaya dengan berkata: “Kamu akan menjadi seperti Allah, yang mengetahui mana yang baik dan mana yang jahat” (lihat, Kejadian, 3:5).
Setelah memakan buah terlarang, mata Hawa, juga Adam, terbuka. Mereka dapat melihat ketelanjangan mereka dan merasa malu.
Di sini tampak cahaya membawa kebenaran, tapi serentak menawarkan ketidaknyamanan.
Hawa dan Adam tercerahkan dengan mampu mengetahui mana yang baik dan yang jahat, tapi sekaligus mengetahui bahwa penderitaan dan malapetaka telah menyongsong mereka. Dalam metafora ini, ular bukan hanya penipu, melainkan seolah pemberi terang.
Buah bukan sekadar dosa, melainkan lentera pemahaman. Namun, ternyata cahaya ini memancarkan beban kesadaran atas dosa dan penderitaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Viktorius-P-Feka-ucb.jpg)