Minggu, 19 April 2026

Opini

Opini: Tangan yang Menenun, Hidup yang Belum Terjalin

Kartini sejati NTT sudah ada. Ia duduk di depan alat tenun sejak pagi buta, menganyam warisan leluhur dengan tangan yang selalu bergerak. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI LANNY ISABELA D. KOROH
Lanny Isabela Dwisyahri Koroh 

Mama Penenun Nusa Tenggara Timur dan Keadilan yang Masih Ditunggu

Oleh: Lanny Isabela Dwisyahri Koroh
Dosen Universitas Citra Bangsa Kupang - Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Pukul lima pagi di sebuah desa di Kabupaten Sumba Timur. Seorang perempuan sudah bangun, menyiapkan air panas, memasak untuk suami dan anak-anak, mengantar ternak ke kandang, lalu — barulah, sekitar pukul sepuluh — ia duduk di depan alat tenun bukan mesinnya. 

Tangannya mulai bergerak.  Benang mori, benang kapas, pewarna dari kulit mengkudu dan daun tarum, motif warisan nenek moyang yang ia hafal sejak usia tujuh tahun.

Selembar kain itu membutuhkan 3 hingga 4 minggu untuk selesai. Nilainya, jika dijual di galeri Labuan Bajo atau toko daring di Jakarta, bisa mencapai 2 hingga 3 juta rupiah. 

Baca juga: Opini: Paradoks Hari Kartini 

Di KTT ASEAN 2023 yang digelar di Labuan Bajo, para kepala negara mengenakan kemeja bermotif tenun ikat Flores. Tenun Sumba bahkan pernah masuk nominasi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.

Tapi mama penenun itu tidak tahu berapa harga kainnya di galeri. Yang ia tahu adalah berapa yang ia terima: sering kali jauh lebih kecil daripada nilai yang tertera pada label. Dan menenun, baginya, masih pekerjaan sampingan — karena tidak ada yang menjamin kapan kain itu terjual.

Di Hari Kartini yang ke-147 nanti, ada pertanyaan yang perlu kita ajukan dengan jujur: ketika kita merayakan karya perempuan NTT ke panggung dunia, sudahkah kesejahteraan perempuan yang menciptakannya ikut naik panggung juga?

Tenun Ikat NTT dalam Angka dan Fakta

  • Lebih dari 800 motif tenun dari 22 kabupaten/kota di NTT — salah satu warisan tekstil terkaya di dunia
  • Tenun ikat Flores tampil di KTT ASEAN 2023 Labuan Bajo; Tenun Sumba masuk 
    nominasi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO
  • Sebagian besar penenun NTT masih menjadikan menenun sebagai pekerjaan sampingan, bukan mata pencaharian utama
  • "Harganya tinggi di pasaran tetapi belum banyak dinikmati oleh para penenun" — Bupati Sumba Timur Khristofel Praing
  • Rata-rata upah pekerja perempuan Indonesia Rp 2,61 juta vs laki-laki Rp 3,37 juta (BPS, Februari 2025)

Sumber: BKD NTT, ANTARA, Kemen PPPA, BPS 2025, Media Indonesia, Investor.id

Kain Bernilai Jutaan, Tangan yang Belum Sejahtera

Ada ironi yang nyata dalam dunia tenun ikat di NTT. Di satu sisi, produk ini sudah diakui di kancah internasional — tampil di peragaan busana, dikenakan oleh tamu negara, dan diperjualbelikan di toko-toko premium. 

Di sisi lain, perempuan yang menciptakannya — yang menghabiskan berminggu-minggu melakukan proses pewarnaan alami, pengikatan benang, dan penenunan — sering kali tidak menerima bagian yang setimpal dari nilai tersebut.

Bupati Sumba Timur sendiri mengakui kondisi ini secara terbuka: harga tenun ikat memang tinggi di pasaran, tetapi nilai itu belum banyak dinikmati oleh para penenunnya. 

Rantai distribusi yang panjang — dari penenun, ke pengepul, ke pedagang, ke galeri, lalu ke pembeli akhir — membuat porsi yang sampai ke tangan pembuat pertama semakin kecil.

Belum lagi kenyataan bahwa menenun belum dianggap sebagai profesi. Ketua Dekranasda NTT pernah mengungkapkan situasi ini secara gamblang: mama-mama penenun tidak menjadikan menenun sebagai pekerjaan pokok — mereka mengurus rumah tangga, suami, anak, berkebun, dan barulah menenun di sisa waktu. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved