Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Gempa dan Krisis Komunikasi Kepakaran

Dalam hitungan menit, linimasa dipenuhi berbagai pesan yang datang dari arah berbeda, dengan tingkat akurasi yang tidak selalu jelas. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GIOVANNI XIMENES COLLYN
Giovanni Ximenes Collyn 

Oleh: Giovanni Ximenes Collyn 
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.

POS-KUPANG.COM - Dalam beberapa waktu terakhir, Flores Timur berulang kali diguncang gempa bumi

Namun, yang terasa bukan hanya getaran tanah, melainkan juga derasnya arus informasi di media sosial. 

Di Facebook, misalnya, akun-akun pribadi mengunggah peringatan, bahkan klaim tentang gempa susulan atau potensi tsunami. 

Dalam hitungan menit, linimasa dipenuhi berbagai pesan yang datang dari arah berbeda, dengan tingkat akurasi yang tidak selalu jelas. 

Masyarakat pun dihadapkan pada berbagai versi informasi: ada yang menenangkan, tetapi ada juga yang justru memperbesar ketakutan. 

Baca juga: Gempa Dangkal Guncang Flores Timur, Warga Rasakan Getaran hingga Dalam Rumah

Pada titik ini, masyarakat tidak hanya berada dalam bayang-bayang ancaman bencana alam, tetapi juga dalam ketidakpastian informasi.

Situasi tersebut mencerminkan apa yang dapat disebut sebagai flood of information, yaitu kondisi ketika masyarakat dibanjiri informasi yang datang secara serentak dan sulit dikendalikan. 

Arus informasi tidak lagi berjalan satu arah seperti pada media konvensional, melainkan menyebar secara simultan melalui berbagai kanal media sosial. 

Informasi tidak lagi melewati proses penyaringan yang ketat, tetapi langsung beredar dari satu individu ke individu lain.

Dalam ruang ini, setiap orang dapat menjadi sumber informasi. Publik kini berperan sebagai prosumer, bukan lagi sekadar konsumen pasif, melainkan juga produsen informasi yang mampu merekam, menafsirkan, dan menyebarkan kembali informasi secara instan. 

Pesan yang diterima di grup keluarga atau percakapan pribadi dapat dengan cepat dipindahkan ke ruang publik digital tanpa proses verifikasi yang memadai. 

Dalam situasi darurat seperti gempa, kecenderungan ini semakin menguat karena dorongan untuk berbagi informasi dianggap sebagai bentuk kewaspadaan.

Banyaknya informasi tidak serta-merta meningkatkan kualitas pengetahuan. Sebaliknya, hal ini justru menciptakan kebisingan (noise), di mana fakta, opini, dan spekulasi bercampur tanpa hierarki yang jelas. Informasi yang bersifat emosional cenderung lebih cepat menyebar. 

Ketakutan, kecemasan, dan rasa ingin tahu menjadi bahan bakar utama dalam distribusi informasi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved