Opini

Opini: Societas Verbi Divini, Oase di Savana Iman Sumba

Keberadaan Societas Verbi Divini di Sumba tentu saja melalui perjalanan panjang penuh makna untuk melakukan karya misi. 

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-DOK PRIBADI
Ignasius Sara 

Sebuah Refleksi atas Catatan Sejarah Societas Verbi Divini Bermisi di Sumba

Oleh: Ignasius Sara, S.Fil

POS-KUPANG.COM - Keuskupan Weetebula di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur dengan jumlah umat sebanyak 241.920 orang per 31 Desember 2024 (berdasarkan data yang diperoleh dari pihak Keuskupan Weetebula)  merupakan buah karya Roh Kudus.

Karya Roh Kudus melalui misi Serikat Yesus atau Societas Iesu (SJ), Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD), Kongregasi Redemptoris atau Congregatio Sanctissima Redemptoris (CSsR), dan berbagai tarekat lain yang berkarya di wilayah tersebut. 

Pada tangal 8 September 2025, Societas Verbi Divini merayakan ulang tahun yang ke-150 berkarya di dunia dan 40 tahun bermisi di Sumba periode kedua. 

Adapun tarekat tersebut didirikan oleh Santo Arnoldus Janssen di Steyl, Belanda pada tanggal 8 September 1875.

Keberadaan Societas Verbi Divini di Sumba tentu saja melalui perjalanan panjang penuh makna untuk melakukan karya misi. 

Penulis merefleksikan kehadiran Societas Verbi Divini berdasarkan catatan sejarah misi Katolik Sumba. 

Societas Verbi Divini di Wanno Petri: Merawat Monumen Kesetiaan Iman 

Societas Verbi Divini mulai menapaki Pulau Sumba setelah Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengeluarkan Besluit (baca: Keputusan) Nomor 21 tanggal 21 Februari 1921. 

Dalam keputusan tersebut, Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan imam untuk melakukan kunjungan kepada umat Katolik di Loura (saat ini, Loura merupakan nama salah satu kecamatan di Kabupaten Sumba Barat Daya). 

Sebelumnya, para Misionaris Societas Iesu telah bermisi di Sumba sejak tahun 1889 sampai dengan tahun 1898 yang berpusat di Pakamandara dengan nama Stasi Wanno Petri (saat ini, Pakamandara masuk dalam wilayah administratif Desa Lete Konda Selatan, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya).  

Wanno Petri memiliki arti, yaitu “Wanno’ dalam bahasa setempat yang berarti kampung dan kata “Petri” disematkan untuk mengenang Santo Petrus Claver. 

Saat ini, Stasi Wanno Petri atau lebih sering disebut Stasi Santo Petrus Claver Pakamandara masuk dalam wilayah administratif Paroki Santo Dominikus de Guzman Karuni, Keuskupan Weetebula. 

Para Misionaris Societas Iesu meninggalkan umat Katolik Sumba yang telah dibaptis selama kurun waktu selama 9 tahun (1889-1898), yaitu sebanyak 1.054 orang melalui pelabuhan di Katewel, Loura pada 29 November 1898. 

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved