Opini
Opini: Jokowi dan Rocky Gerung
Siapapun tidak setuju dengan julukan Rocky, tetapi RG membela diri bahwa ‘dungu’ itu bukan berkaitan dengan orang tetapi cara berpikir.
Tetapi di tahun-tahun terakhir mendekat berakhirnya kekuasaan, kekaguman itu memudar dan orang akan bertanya, apakah di tangan Prabowo-Gibran, kharisma itu masih bisa diangkat atau mencapai titik nadir terendah?
Hal ini berbeda dengan RG. ‘Bujang lapuk’, kata si pemilik cincin berlian, yang dijawab RG bahwa cincin ‘si orang itu’ lebih berkilau dari otaknya, justru sebaliknya memang sampai setahun lalu lebih dilihat sebelah mata. Ia bukan siapa-siapa.
Kenyamanan di sekitar rumahnya terancam. Orang tidak mau mendengarkan ocehannya. Kalau ia muncul di TV maka orang menemukan alasan untuk mematikan atau mengganati channel. Yang lakukan itu bukan saja masyarakat kecil. Kaum cerdik pandai yang justru berada di baliknya.
Dengan demikian masyarakat pun tahu bahwa RG memang pantas untuk dihina. Tetapi apa yang terjadi setelah MK sukses memberi karpet merah pada anaknya Jokowi dan kini MA juga secara pas juga mengeluarkan keputusan yang hampir sama. Orang mulai anggukan kepada sedikit menyesal telah mencela Rocky Gerung.
Rocky pun semakin dapat panggung. Dalam tiga bulan berturut-turut, Rocky ke Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tadinya ikut prosesi Jumat Agung di Larantuka, lalu ke IFTK Ledalero, dan kini ke Lembata.
Keberadannya dibuat caption (berupa tulisan singkat) dan foto dan video di???????????????????????????? lalu tersebar.
Gaungnya meluas dan RG semakin diberi ruang. RG pun akan semaki menanjak, menyebar bak virus dan tidak tahu akah meluas dan berpengaruh seperti apa jadinya. Ia semakin diundang ke penjuru Indonesia sebagai ‘artis’ akal sehat.
Di sinilah perbedaan antara Jokowi dan Rocky Gerung yang awalnya dainggap tidak bisa diperbandingkan. Kini terpaksa harus diteriam perbandingan itu.
RG semakin menanjak ke arah pembenaran bahwa ia Presiden akal sehat. Jokowi yang dulu disanjung sebagai Presiden yang paling dikagumi, kini menurun tidak tahu akan sampai serendah apa kemudian. (*)
| Opini: Pancasila dalam Anggaran |
|
|---|
| Opini - Ketika Teknologi Menguasai Kosmos: Membaca Kritik Martin Heidegger |
|
|---|
| Opini - Digitalis Humanitas dan Kearifan Lokal NTT di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Opini: Kekuatan Narasi Digital- Pesta Babi dan Perebutan Pengaruh Setelahnya |
|
|---|
| Opini: Di Balik Turunnya NPL- Sinyal Risiko Kredit Bank NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rocky-Gerung-saat-memberikan-ceramah-di-acara-Tabayun-Puisi.jpg)