Opini
Opini: Jokowi dan Rocky Gerung
Siapapun tidak setuju dengan julukan Rocky, tetapi RG membela diri bahwa ‘dungu’ itu bukan berkaitan dengan orang tetapi cara berpikir.
Oleh: Robert Bala
Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik, Universidad Complutense de Madrid-Spanyol
POS-KUPANG.COM - Tidak bisa dibandingkan. Itulah frase yang pas untuk menggambarkan perbedaan antara Jokowi dan Rocky Gerung (RG). Yang satu jago omong dan ‘????????????????n???????????????????? ????????????????-????????????????’.
Yang lainnya jago kerja: kerja, kerja, kerja. Dia menjadi kepala eksekutif yang sebenarnya. Yang lainnya eksekutor kata. Dalam situasi terjepit apapun Rocky bisa menemukan jawaban.
Perbedaan itu juga tajam (dan terpercaya). Yang satu katanya presiden akal sehat. Yang lainnya (dalam pandangan Rocky), berseberangan. Tidak pantas untuk memberinya atribut ‘dungu’, seperti yang biasa RG sebutkan.
Siapapun tidak setuju dengan julukan Rocky, tetapi RG membela diri bahwa ‘dungu’ itu bukan berkaitan dengan orang tetapi ‘cara berpikir’.
Tidak tahu dari mana RG mengambil pengertian ini. Bagi yang punya akal sehat (berarti RG tidak punya), dungu memang berkaitan dengan cara berpikir. Tetapi cara berpikir itu bukan sekali ditunjukkan. Ia sudah berulang-ulang sehingga telah menjadi ciri.
Dungu karena itu dikaitikan dengan orang yang “sangat tumpul otaknya”, “tidak cerdas”, “bebal” dan “bodoh”. Kalau demikian maka dungu itu sudah bukan cara berpikir tetapi sudah identik dengan pribadi tertentu karena keseringan terbukti memiliki cara berpikir itu.
Dengan menulis pengantar seperti ini saja sudah cukup untuk meminjam satu frase dari Ambon Manise.
Saya rasa punya hak menggunakan frase ini karena setahun pernah hidup di Ambon dan melewati indahnya teluk Ambon berperahu dari Rumah-Tiga – Galala PP. Frase yang dimaksud “Seng ada bandingnya”, Jokowi dan Rocky Gerung.
Lebih tepat lagi "Ojo dibandingke" (jangan bandingkan Jokowi dan Rocky Gerung).
Tetapi dalam tulisan ini, penulis sedikit memaksakan diri untuk membanding-bandingkan Jokowi dan Rocky Gerung. Sebuah keberanian yang sekaligus disertai kesiapan untuk dikritik. Dan siapa tahu, ungkapan kesayangan RG, “dungu” bisa dikenakan kepada penulis.
Kalau pun dikenakan, ini sekali saja karena cara berpikir yang sekali digunakan dan selesai.
Kembali ke laptop. Sampai setahun yang lalu, ciutan RG dianggap ‘angin lalu’. Lebih lagi karena RG begitu ‘dekat’ dengan beberapa partai seperti Gerindra, PKS, dan Demokrat yang saat itu masih kontra pemerintah.
Tokoh-tokoh (tidak tahu apakah memang pantas disebut tokoh) seperti Fadli Zon, Said Didu, Refli Harun, termasuk AHY, secara terbuka mengkritik atau menyerang setiap kebijakan pemerintah.
Mereka dengan mudah jadi ‘soip’ dari RG untuk menyerang Jokowi dan pemerintahannya.
| Opini: Pancasila dalam Anggaran |
|
|---|
| Opini - Ketika Teknologi Menguasai Kosmos: Membaca Kritik Martin Heidegger |
|
|---|
| Opini - Digitalis Humanitas dan Kearifan Lokal NTT di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Opini: Kekuatan Narasi Digital- Pesta Babi dan Perebutan Pengaruh Setelahnya |
|
|---|
| Opini: Di Balik Turunnya NPL- Sinyal Risiko Kredit Bank NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rocky-Gerung-saat-memberikan-ceramah-di-acara-Tabayun-Puisi.jpg)