Opini
Opini: Jokowi dan Rocky Gerung
Siapapun tidak setuju dengan julukan Rocky, tetapi RG membela diri bahwa ‘dungu’ itu bukan berkaitan dengan orang tetapi cara berpikir.
Sampai saat itu, RG nampaknya cukup sulit ‘tembus’ kritikannya untuk diterima. Jokowi punya benteng pelindung tidak saja dari masyarakat sederhana tetapi kaum intelektual.
Mereka melihat keluguan, ketulusan, dan sikap sederhana. Bagi mereka, Jokowi lebih punya akal sehat dibanding RG yang akalnya lagi sakit.
Jokowi juga dianggap sebagai Bapak Bangsa karena kekurangan Jikowi hanya sedikit, tidak sebanding dengan kelebihannya yang terlampau banyak dan berada di atas RG. Sangat jauh. Ojo dibandingke.
Jokowi dianggap membangun stereotip bangsa yang dianggap malas dengan stereotip baru: ‘kerja, kerja, kerja’. Usaha memperkuat wilayah maritim menjadi kekuatan dunia juga tidak bisa disangkal.
Program yang terbukti dan dirasakan itu bagi banyak orang dilihat sebagai sebuah Gerakan besar. Dengan demikian orang-orang terbaik, siapapun dia akan disiapkan untuk melanjutkan karya besar ini.
Tidak usah jauh-jauh. Seperti dirinya yang tadinya ‘seng ada apa-apanya’, tetapi Jokowi bisa dilirik, dibesarkan, dan akhirnya didukung’ dan diberi tempat untuk menjadi seperti sekarang. Semua ini pun membuat orang percaya dan yakin akan kharisma Jokowi.
Sekali lagi sampai saat itu, semua orang stand for Jokowi. Orang berdiri di samping (stand aside Jokowi) dan membelanya mati-matian.
Bagi yang berseberangan dengan wacana-wacana yang tidak masuk akal akan dikecam balik, sesadis malah melampaui apa yang telah mereka lakukan terhadap Jokowi. RG berada dalam posisi untuk dicelah sespadan atau bahkan lebih dari yang ia sampaikan ke Jokowi.
Persoalannya kemudian berubah. Keputusan MK yang meloloskan Gibran jadi Cawapres dan akhirnya terpilih jadi Capres menjadi titik balik.
Kaesang yang kemudian menjadi Ketua PSI tanpa sejarah pernah jadi anggota membuat orang yakin bahwa Gibran bukan hal tunggal.
Lebih lagi kini keputusan MA yang merevisi usia calon kepala daerah semakin membuat orang berkesimpulan bahwa memang Jokowi tidak seperti diduga.
Memang kita tentu tidak terima pleseten bahwa MK (Mahkamah Kakak) dan MA (Mahkamah Adik), tetapi bila sampai ada yang seperti itu kita hanya mengelus dada.
Sampai di sini memang tidak ada salah. Jokowi bisa saja membela diri bahwa anak sudah berkeluarga dan itu ‘urusan mereka’. Kedengarannya memang ‘keren’, tetapi… Ya tetapi itulah yang jadinya panjang.
Banyak orang yang memanfaatkan kehebatan Jokowi untuk mengekalkan kekuasaan baik melalui anak (Gibran, Kaesang) menantu (Bobby) dan tidak tahu siapa lagi.
Kalau sampai di sini kita pun melihat ternyata Jokowi yang didukung, dijagokan, memang telah mencapai klimaks kekuasaan dan pantas dianggap Presiden terhebat negeri ini.
| Opini: Pancasila dalam Anggaran |
|
|---|
| Opini - Ketika Teknologi Menguasai Kosmos: Membaca Kritik Martin Heidegger |
|
|---|
| Opini - Digitalis Humanitas dan Kearifan Lokal NTT di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Opini: Kekuatan Narasi Digital- Pesta Babi dan Perebutan Pengaruh Setelahnya |
|
|---|
| Opini: Di Balik Turunnya NPL- Sinyal Risiko Kredit Bank NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rocky-Gerung-saat-memberikan-ceramah-di-acara-Tabayun-Puisi.jpg)