Sabtu, 9 Mei 2026

Obituari

Kepingan-kepingan Kenangan Bersama Kak Niko: Dari Bali hingga Manado

Sekretariat baru yang kami tempati, terletak di Jalan Anggur depan markas Polda NTT, tepatnya berjarak 50 meter di belakang Margasiswa PMKRI Kupang.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Nikolaus Frans (Ketua DPC GMNI Kupang) dan Viktus Murin (Sekretaris DPC GMNI Kupang) saat menjadi Peserta Kongres GMNI di Denpasar Bali tahun 1996. Nampak Niko duduk di samping kanan Viktus yang sedang berbincang dengan Ketua DPC GMNI Jakarta Selatan Ahmad Baskara (Basarah). Saat ini Basarah menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PD. 

"Lu ini sampe hati o.....Kak Niko dong ada capek-capek naik kapal, su ada bau-bau air laut lai, lu sante sa naik pesawat dari Kupang." Mendengar guyonan saya, ada di antara kami yang tak bisa menahan tawa; tertawa sambil menutup mulut dengan tangan agar tidak dilihat oleh Kak Niko. Takut Kak Niko "esmosi' lagi.

Tetapi, begitulah Kak Niko, habis memarahi orang, dia tidak menyimpan amarah itu di hati. Sepanjang yang saya kenal, Kak Niko memang pribadi yang tak suka mendendam. Tak berapa lama setelah memarahi orang, dia langsung bisa kembali berguyonan atau baku olok dengan orang yang bersangkutan. Demikianlah adanya, pemimpin-pemimpin yang matang kepribadiannya, selalu bukan orang-orang yang berwatak pendendam.

Puji TUHAN, syukur alhamdulilah. Di arena Kongres Bali, Kongres kedua untuk kepesertaan GMNI Kupang, kader-kader GMNI Kupang sukses menampilkan performance sebagai cabang berkualitas,  hasil dari tempaan praksis kaderisasi dengan silabus materi kaderisasi yang ketat dan terukur. Dalam Kongres Bali ini, selain matang mengeleborasi ide dalam dinamika persidangan Kongrea, GMNI Kupang juga menjadi faktor kunci bagi pergerakan alur persidangan.

Puji TUHAN, saat itu GMNI Kupang tampil sebagai Pimpinan Sidang Tetap  Kongres Bali bersama GMNI Denpasar, dan Korda Jawa Timur. Melalui skorsing sidang dan loby cukup alot di antara tiga utusan pimpinan sidang, akhirnya muncullah kesepakatan loby.

Viktus Murin dari Cabang Kupang menjadi Ketua Sidang Paripurna Kongres, didampingi oleh Wakil Ketua Sidang Alit Kelakan (Ketua GMNI Denpasar); yang kelak di kemudian hari menjadi Wakil Gubernur Bali,  dan Sekretaris Sidang, Ulika Triyoga (Korda Jatim).

Skenario matang GMNI Kupang untuk "tampil" di arena Kongres ini dirancang oleh Kak Niko, mulai dari fase persuasi cabang-cabang "mitra/rekanan" sampai dengan nama saya terpilih sebagai Ketua Sidang Paripurna Kongres.

Sesaat sebelum sesi pemilihan Pimpinan Sidang Tetap, Kak Niko menghampiri saya dan berujar pendek; "Ade Vik, siapkan diri untuk pimpin Sidang Kongres. Kita harus bisa jadi Ketua Sidang." Tanpa diskusi, tanpa bertanya, saya spontan menyahuti ucapan Kak Niko. "Beta siap, Kak Niko!"

Kongres Bali tahun 1996 ini merupakan babak baru demokrasi bagi GMNI. Pemilihan Ketua dan Sèkjen Presidium GMNI menggunakan mekanisme "one man one vote" (satu orang satu suara). Dalam Kongres itu akhirnya terpilih Ayi Vivananda (DPC Bandung) sebagai Ketua Presidium, dan Ahmad Baskara terpilih sebagai Sekjen Presidium. Ketua dan Sekjen dipilih secara terpisah, bukan dipilih dengan mekanisme paket.

Adapun Ketua Presidium Ayi Vivananda di kemudian hari menjadi Wakil Walikota Bandung. Sekjen Presidium Ahmad Baskara (Basarah), di kemudian hari menjadi Aggota DPR RI dan hari-hari ini sedang menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI.  Hasil Kongres Bali kala itu sempat mengundang ketidaksukaan anasir-anasir rezim Orde Baru.

Bahkan ada petinggi pemerintah pusat waktu itu menyebut bahwa GMNI melakukan "kegenitan politik yang tidak perlu", karena dengan sengaja telah memasukkan terminologi "progresif-revolusioner" dan terminologi "sosialis-religius" ke dalam teks Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga GMNI.

Kongres Kupang 1999, dan Kongres Manado 2002

Pasca Kongres Bali tahun 1996, puji TUHAN, mewakili Cabang Kupang, saya masuk dalam jajaran Presidium GMNI sebagai Ketua Komite Kaderisasi. Komposisi lengkap Presidium terdiri dari 13 Orang, dua di antaranya adalah putera Nusa Tenggara Timur, yakni Hironimus Abi (Ketua Komite Politik); anak Kefamenanu yang adalah Ketua DPC GMNI Jakarta Utara. Bung Ronny Abi, aktivis berkarakter keras namun humoris itu, telah lebih dulu berpulang Agustus 2020.

Sampailah saatnya masa kepemimpinan Presidium hasil Kongres Bali berakhir (1996-1999). Kongres harus digelar kembali sesuai periodisasi tiga tahunan, dan disepakat Presidium bahwa Kongres  akan dilaksanakan di Kupang.

Maka, di tengah kemelut politik dan sosial pasca jajak pendapat/referendum Timor Timur, GMNI pun menggelar kongresnya di Kupang. Gubernur Piet A.Tallo, SH (Alm) hadir.meresmikan Kongres GMNI yang berlokasi di Hotel Sasando Kupang.

Saking rumitnya situasi sosial pasca referendum Timtim waktu itu, Pak Piet Tallo dalam arahannya saat membuka Kongres GMNI mengatakan bahwa realitas eksodus warga Timtim ke wilayah NTT; Timor barat (dari Belu hingga Kupang), cukup berat dampaknya bagi pemerintah dan masyarakat NTT. Ibaratnya "Orang miskin membantu orang susah".

Menindaklanjuti hasil Kongres Kupang, GMNI waktu itu sempat mewacanakan agar pemerintah pusat membentuk otorita khusus (Otorita Timor) yang nantinya bisa mengurusi dampak sosial dan mencari solusi atas berbagai persoalan sosial ekonomi pasca referendum Timtim. Sayangnya, wacana Otorita Timor yang digulir GMNI tak menemukan gayung bersambut di ranah pemerintah pusat.

Puji TUHAN, dalam Kongres Kupang ini, saya terpilih sebagai Sekjen Presidium GMNI menggantikan Bung Baskara. Sedangkan Bambang Romada (Cabang Purwokerto) terpilih sebagai Ketua Presidium menggantikan Ayi Vivananda.

Dari 13  personil Presidium hasil Kongres Bali 1996, hanya saya yang melanjutkan periodisasi kepemimpinan kedua, mengingat adanya kebutuhan psikologis transisional kepemimpinan organisasi.

Dalam komposisi Presidium GMNI hasil Kongres Kupang ini, terdapat empat putra NTT yang menjadi personil Presidium. Selain saya sebagai Sekjen, ada Klementinus Sakri (Cabang Kupang), RS Hayadi (Alm); putra Manggarai, dan Yusuf Blegur; putra Alor. Hayadi dan Blegur berasal dari basis cabang di teritori Jabodetabek.

Saat Kongres Kupang berlangsung, Kak Niko dan senior Frans sudah berstatus alumni. Namun, perhatian dan atensi "duo Frans" ini mesti diakui tetap menjadi faktor psikologis yang determinan bagi suksesnya gelaran Kongres Kupang. Dengan cara dan kemampuan masing-masing, Kak Niko dan senior Frans terus berkontribusi bagi kesuksesan pelaksanaan Kongres Kupang.

Roda perjuangan GMNI terus bergulir. Dalam tiga tahun masa kepemimpinan saya sebagai Sekjen GMNI (1999-2002), komunikasi muka dengan muka menjadi terbatas lantaran faktor ruang dan waktu.

Sesekali jika Senior Frans dan Kak Niko ada tugas kepartaian PDI-P di Jakarta, atau ada kegiatan organisasi alumni GMNI, kami pasti berupaya untuk bertemu dan berdiskusi ringan.

Seingat saya, tahun 2000 saat Senior Frans mengemban amanah sebagai Ketua Forum Komunikasi Alumni (FKA) NTT, dan akan berkegiatan di Semarang, kami sempat bertemu dan berdiskusi sejenak di kantor Perwakilan NTT di Jakarta, tepatnya di daerah Tebet Timur Dalam.

Saat itu, diskusi kami menyentuh topik yang serius, agak sensitif secara politis, perihal pembedaan antara makna "sinergi" dan "intervensi" antara alumni di Jakarta sebagai sentrum politik nasional, dengan GMNI formal dalam hal ini Presidium GMNI. 

Waktu itu, malam hari, di lantai 2 kantor Perwakilan NTT, kami jumpa berempat; Senior Frans, Kak Niko, dan Bung Yos Dasi. Saya tetap mengambil sikap takzim mendengarkan usul saran ketiga orang yang saya hormati ini.

Saya sungguh menyadari itulah wujud atensi mereka terhadap kiprah saya sebagai Sekjen GMNI. Dengan sikap takzim pula saya menyampaikan kepada Senior Frans, Kak Niko, dan Bung Yos Dasi mengenai disposisi sikap saya selama saya masih menjadi Sekjen GMNI.

Bahwa saya siap menghadapi risiko politis apapun untuk menjaga dan merawat "independensi organisasi", saat berinteraksi dengan elemen-elemen alumni, khususnya di Jakarta. Apabila sikap saya itu menimbulkan efek disharmoni dalam hal relasi dengan elemen-elemen alumni, maka saya akan berupaya memulihkan relasi antar-personal itu setelah saya tidak lagi menjadi Sekjen GMNI, atau purna dari organisasi GMNI.

Dalam hati kecil saya, saya dapat merasakan bahwa sikap saya yang kaku mengenai independensi organisasi GMNI, sangat mungkin mengagetkan ketiganya; Senior Frans, Kak Niko, dan Bung Yos.

Namun, tetap dengan sikap lembut dan mengayomi, Senior Frans dan Kak Niko tetap memberi semangat kepada saya, agar terus mampu memimpin Presidium GMNI sesuai apa yang saya yakini baik.

Di perjalanan malam, di tengah hawa dingin yang menyusup masuk ke ruang terbuka tempat pertemuan, kami pun menyudahi perjumpaan. Senior Frans, Kak Niko, dan Bung Yos bersegera beranjak untuk beristirahat malam.

Saya pun pamit kembali ke kost, diterpa dingin malam Jakarta yang tanggung, akibat polusi asap ribuan kendaraan. Bila harus disimpulkan hasil pertemuan kami berempat malam itu,bolehlah dikatakan bahwa kami "bersepakat untuk tidak sepakat" (agree to disagree).

Meloncat maju ke tahun 2002, di mana Presidium GMNI hasil Kongres Kupang  mengakhiri periode kepemimpinan. GMNI pun menggelar kongres berikutnya yang berlangsung di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Kongres Manado yang diresmikan oleh Wakil Presiden RI H.Hamzah Haz, dan berlangsung di Manado Beach Hotel itu menghasilkan era baru kepemimpinan Presidium. 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah GMNI sejak berdiri tahun 23 Maret 1954 silam, organisasi ber-mazhab ajaran-ajaran Soekarno ìni dipimpin oleh kader perempuan.

Kongres Manado memilih Wahyuni Refi (asal Cabang Surabaya/ Anggota Presidium GMNI Komite Sarinah) sebagai Ketua Presidium, menggantikan Bambang Romada.

Sedangkan Sekjen GMNI yang terpilih menggantikan saya adalah Donny Lumingas asal Cabang Manado. Refi-Donny tampil memimpin GMNI untuk periode 2002-2005.

Seusai kepengurusan Presidium periode 1999-2002 dinyatakan Demisioner di arena Kongres Manado, tepat di malam Natal, 24 Desember 2002, saya pun menelpon Abang Theo Sambuaga, senior GMNI yang juga merupakan tokoh berpengaruh  di DPP Partai Golkar.

Beberapa pekan sebelum periode kepengurusan saya di Presidium GMNI berakhir, Bang Theo L Sambuaga memang sudah menelpon saya menyampaikan perihal kemungkinan untuk saya bergabung di Partai Golkar pasca purnatugas formal di GMNI. Namun, saat ditelpon Abang TLS, saya belum bisa memberikan kepastian sikap saya untuk bergabung ke Golkar mengingat saya masih berstatua formal Sekjen GMNI.

Jadi, di malam Natal itu, seusai.demisioner saya bersegera mengabarkan ke Abang TLS bahwa saya siap bergabung ke Golkar dan tentu saja menaruh harapan besar agar Abang TLS berkenan membimbing saya nanti dalam hal prinsip-prinsip etis dan moral berpartai.

Perihal kepastian saya bergabung ke Golkar, saya meniatkan di hati, bahwa nanti setelah balik dari Manado ke Jakarta, saya mesti bersegera pula mengontak Senior Frans untuk "melapor".

Senior Frans mesti tahu langsung dari saya sendiri, bahwa pilihan masuk ke Golkar adalah pilihan sadar saya untuk melanjutkan idealisme pergerakan yang sudah saya timba di almamater GMNI. Pun untuk mengarungi tantangan-tantangan baru yang lebih keras dan sarat gesekan di lingkungan partai politik, namun ampuh untuk menjadi wahana sekaligus sarana mengasah komitmen dan konsistensi perjuangan ideologi.

Niat yang hendak saya ungkapkan ke Senior Frans, itu pula yang nanti akan saya sampaikan juga kepada Kak Niko.* *(Bersambung/Bagian kedua dari tiga tulisan)

*)Viktus Murin, adalah Sekretaris DPC GMNI Kupang (1993-1996), Ketua Komite Kaderisasi Presidium GMNI (1996-1999), Sekjen Presidium GMNI (1999-2002), Wakil Sekjen DPP AMPI (2003-2008), Wakil Sekjen DPP Partai Golkar (2018-2019). Wartawan Pos Kupang (1992-1995), Tenaga Ahli Menpora RI DR. H. Adhyaksa Dault, SH, M.Si (2004-2009), Tenaga Ahli Anggota DPR RI Melchias M.Mekeng (2015-2018). Kini, menjadi Tenaga Ahli Ketua MPR RI, DR.H.Bambang Soesatyo, SE, SH, MBA.

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved