Sabtu, 9 Mei 2026

Obituari

Kepingan-kepingan Kenangan Bersama Kak Niko: Dari Bali hingga Manado

Sekretariat baru yang kami tempati, terletak di Jalan Anggur depan markas Polda NTT, tepatnya berjarak 50 meter di belakang Margasiswa PMKRI Kupang.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Nikolaus Frans (Ketua DPC GMNI Kupang) dan Viktus Murin (Sekretaris DPC GMNI Kupang) saat menjadi Peserta Kongres GMNI di Denpasar Bali tahun 1996. Nampak Niko duduk di samping kanan Viktus yang sedang berbincang dengan Ketua DPC GMNI Jakarta Selatan Ahmad Baskara (Basarah). Saat ini Basarah menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PD. 

Oleh: Viktus Murin)*

POS-KUPANG.COM - Selepas pelaksanaan Konfercab II Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kupang di tahun 1993, yang menetapkan  Nikolaus Frans sebagai Ketua DPC dan Viktus Murin sebagai Sekretaris DPC, "via dolorosa" (jalan sengsara) GMNI Kupang terus berlanjut.

Prioritas program tetap diarahkan pada aspek kaderisasi dan peningkatan skill teknis berorganisasi. Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) sebagai pintu masuk rekruitmen dan seleksi kader GMNI Kupang terus dilakukan konsisten secara periodik.

Antusiasme mahasiswa di Kupang untuk mengenal lebih jauh GMNI, membuat kami pengurus GMNI Cabang Kupang pun semakin bersemangat. Apabila animo dan antusiasme para mahasiswa itu meningkat pesat, maka pengurus DPC akan melakukan PPAB dua kali dalam setahun. Rata-rata calon anggota yang mendaftar untuk mengikuti PPAB waktu itu berkisar 100 sampai 200 orang.

Pada masa itu, GMNI adalah anak bungsu dari tiga saudara tuanya di ranah "Kelompok Cipayung" yang telah lama eksis. Ketiga saudara tua itu berturut-turut adalah Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Kenangan pada momen syukuran Wisuda Viktus Murin, 1 September 1995 di kontrakan Sekretariat GMNI Cabang Kupang di belakang Margasiswa PMKRI Kupang. Viktus diapit oleh Niko Frans (Alm),  Frans Lebu Raya (Alm), Selly Tokan Kamilus dan Ambrosius Kodo.
Kenangan pada momen syukuran Wisuda Viktus Murin, 1 September 1995 di kontrakan Sekretariat GMNI Cabang Kupang di belakang Margasiswa PMKRI Kupang. Viktus diapit oleh Niko Frans (Alm),  Frans Lebu Raya (Alm), Selly Tokan Kamilus dan Ambrosius Kodo. (POS-KUPANG.COM/HO-DOK)

Satu lagi elemen Kelompok Cipayung yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), saat itu belum ada cabangnya di Kupang.

Melalui upaya tertatih-tatih DPC Kupang hasil Konfercab II, dan tetap di-back up oleh senior Frans Lebu Raya, kami pengurus cabang akhirnya bisa mengontrak sebuah rumah permanen untuk dijadikan sebagai sekretariat, sekaligus semacam posko ide-ide dalam rangka derivasi dan aplikasi program kerja organisasi.

Selebihnya, di kala suasana agak santai, yakni bila sedang tudak ada kegiatan organisiasi bernuansa publik, maka sekretariat akan tetap ramai, riuh rendah dengan suara para bujangan, lantaran kami memang punya hobi duduk-berkisah lintas topik kehidupan.

Idiom populernya saat ini, "omon-omon". Duduk omon-omon! Bercerita ngalor-ngidul, ketawa ngakak sambil pegang perut. Istilah kita orang timur; "Tertawa sampe perut sakit".

Sebelum punya sekretariat tetap, posko aktivitas GMNI Kupang adalah di rumah kecil milik senior Frans Lebu Raya di Jalan P da Cunha Naikoten. Sejak GMNI Kupang berdiri, sampai transisi kepemimpinan dari senior Frans ke kak Niko, pusat aktivitas GMNI Kupang memang berlangsug di teras rumah senior Frans.

Kerelaan dan keikhlasan hati senior Frans menjadikan rumahnya sebagai sekretariat organisasi, membuat komunitas GMNI Kupang, perlahan tapi pasti terus meningkatkan adrenalin semangat kolektif dan daya juang ideologi. Terima kasih berlimpah senior Frans.

Sekretariat baru yang kami tempati, terletak di Jalan Anggur depan markas Polda NTT, tepatnya berjarak 50 meter di belakang Margasiswa PMKRI Kupang. Mengingat lagi sekretariat ini, ada beberapa hal unik yang tetap menempel di benak saya hingga sekarang.

Pagi hari atau sore hari, Kak Niko acapkali duduk di teras sekretariat sambil ngopi dan merokok, sembari posisi kakinya berselonjor ke bangku tembok di teras.

Sederhana sekali tampilan Kak Niko, dia hanya mengenakan "lawo" (sarung khas Lio; lihat tulisan Dion DB Putra bertajuk "Selamat jalan lawo") dan baju kaos. Sesekali bahkan ia tidak memakai baju karena panasnya cuaca Kota Kupang.

Terhadap pemandangan unik di teras sekretariat itu, sebagai Seketaris DPC yang mendampingi Kak Niko sebagai Ketua DPC, saya tahu betul bahwa sesungguhnya Kak Niko sedang berkontemplasi, berburu ide-ide progresif-revolisioner di dalam pemikirannya, untuk dimanifestasikan dalam pergerakan riil-programatik bagi organisasi GMNI yang sungguh dicintainya.

Sesekali saya suka usil menginterupsi "lamunan ideologis" dari Kak Niko. Begitu saya balik dari kantor redaksi Pos Kupang (saat itu di jalan Kenari 1), dan mendapati Kak Niko sedang merokok di teras sekretariat, saya pun berguyon; "Kak Niko, cerobong asap terus o......," ucap saya berceloteh. Kalau mood-nya lagi bagus, Kak Niko tersenyum dan balik meledek; "Ahh lu Vik, ada cerita 'gerak natur' lagi ko sonde?" Kami pun terbahak, ngakak bersama.

Perihal diksi "gerak natur". Ini Kak Niko sampaikan untuk menyindir saya menyangkut urusan pacaran. Sudah berhitung tahun, setiap kali dia menanyakan siapa pacar saya yang pastinya dipersiapkan kelak menjadi calon isteri, saya selalu memberi jawaban begini; "Beta ikuti gerak natur sa, Kak Niko."

Sekali waktu, di kesempatan yang lain, dalam suasana penuh guyonan bersama senior Frans dan beberapa kawan seorganisasi, saya pernah kena skak dari Kak Niko, saat saya menyinggung soal nona Kupang.

"Vik, lu itu omong gerak natur beta su sonde percaya. Nanti kalau beta su lihat lu berdiri ucap janji nikah di depan altar, itu baru beta percaya lu pung nona terakhir itu siapa."

Beta langsung terdiam; mulut ilang. Beberapa kawan yang mendengar perkataan Kak Niko tertawa ngakak. Saya merasa agak tegar karena melihat senior Frans hanya tersenyum-senyum kecil sembari melirik ke saya. Ahhhh..., jadi terkenang lagi wajah ramah mendiang senior Frans. Senyum senior Frans memang selalu sejuk dan mengayomi.

Masa kepemimpinan Kak Niko sebagai Ketua dan saya sebagai Sekretaris GMNI Kupang sempat "terinterupsi oleh situasi kevakuman faktual insidentil". Pada tahun 1994, saya mendapat amanat dari Pimpinan Redaksi POS KUPANG (PK) untuk bertugas menetap sebagai Wartawan PK untuk Kabupaten Sumba Timur.

Dalam rotasi wilayah tugas ini, saya menggantikan Bung Yosni Herin yang sebelumnya telah ditempatkan di Waingapu, ibukota Sumba Timur. Di Waingapu, saya sewa kost di daerah Kampung Sabu, tepatnya di rumah Om Lomy seorang purnawirawan polisi.

Di masa saya bertugas di Sumba Timur inilah, beberapa kali PK menurunkan headline berita mengenai bencana kelaparan di Sumba Timur yang menimpa dua desa, yakni Praibakul dan Kombapari, di Kecamatan Lewa.

Viktus Murin dan Niko Frans.
Viktus Murin dan Niko Frans. (DOK PRIBADI)

Terhadap kelaparan Sumba Timur ini, mendiang Om Valdo; Valens Doy  menulis pada Tajuk PK dengan judul yang tangkas menggigit: "Salib pertama untuk Musakabe". Di masa itu, Gubernur NTT Mayjen TNI (Purn) Herman Musakabe  belum berbilang setahun memimpin NTT.

Musakabe merespon cepat fakta kelaparan di Sumba Timur, dan langsung terjun berkunjung ke Sumba Timur untuk menyikapi situasi. Jika tak keliru, kunjungan Musakabe ke Sumba Timur tercatat sebagai kunjungan resmi perdana Musakabe di wilayah kabupaten se-NTT.

Selama sekitar enam bulan saya menunaikan tugas jurnalistik di Sumba Timur, kewenangan organisatoris untuk job description Sekretaris DPC GMNI Kupang, untuk sementara dialihkan ke Wakil Sekretaris DPC, Bung Yos Dasi Jawa, yang di kemudian hari menjadi Komisioner KPU NTT.

Selanjutnya, pada tahun 1995, seusai saya mohon diri rehat dari Redaksi PK, saya mendapat tawaran panggilan tugas dari Om Valdo yang waktu itu menjadi bidan pers untuk menyehatkan situasi koran Berita Yudha yang telah dialihkan dari managemen militer (TNI AD) ke manajemen sipil di bawah payung nama Bambang Yoga Soegama.

Seusai mendapat kabar dari Om Valdo, saya bergegas bicara dari hati ke hati dengan Kak Niko. Prinsipnya Kak Niko dapat memahami situasi ini, namun Kak Niko memastikan bahwa rencana saya untuk berangkat pindah ke Jakarta haruslah menjadi informasi bersama para pengurus DPC.

Tak berselang hari, DPC melakukan rapat dan menugaskan kepada saya untuk "menjalankan/melanjutkan tugas sebagai Sekretaris DPC dari Jakarta, dengan prioritas utama membuka komunikasi dan membangun relasi dengan para senior GMNI di Jakarta untuk kepentingan eksistensi GMNI Kupang.

Maka, pada tanggal 8 Oktober 1995, sore hari, saya dan beberapa rekan wartawan alumni PK terbang ke Jakarta untuk tinggal menetap di bumi Betawi.

Pada pagi hari 8 Oktober 1995 itu, Kak Niko dan saya sempat melantik Anggota Baru GMNI pasca digodok dalam PPAB. Saya ingat benar, di antara anggota baru yang kami lantik itu, ada mahasiswa bernama Raymundus Fernandez yang di kemudian hari menjadi Bupati Timor Tengah Utara (TTU) dua periode.

Kongres Bali tahun 1996

Jalannya sejarah GMNI Kupang terus beranjak maju, hingga tiba di momen Kongres GMNI di Denpasar, Bali, tahun 1996. Kami pengurus DPC, terkhusus Kak Niko dan saya saling menelpon bertukar kabar dan ide untuk merespon keikutsertaan Cabang Kupang di Kongres Bali.

"Vik, siapkan diri untuk berangkat ke Bali. Ketua dan Sekretaris harus hadir di Kongres sebagai Peserta," suara Kak Niko bernada instruksi terdengar dari balik telpon. Waktu itu kami bertelponan dari Wartel atau nunut di telpon kantor.  Handphone masih merupakan barang mewa, yang tidak mungkin bisa dibeli oleh aktivis model kami; aktivis dompet gemetar. 

Di lain kesempatan Kak Niko kembali menghubungi saya. "Vik, walau kondisi serba terbatas, kami teman-teman yang di Kupang siap berangkat ke Bali. Kami akan berangkat naik kapal laut. Sampai ketemu di Bali, Vik."

Saya pun meyakinkan Kak Niko akan berangkat ke Bali. "Baik Kak Niko, saya harus ketemu dulu dengan Om Valdo, semoga Om Valdo bisa mengizinkan saya bertugas meliput Kongres Bali untuk pemberitaan koran Berita Yudha."

Selaras harapan dan doa, Om Valdo setuju saya ke Bali setelah tahu bahwa saat saya pindah dari Kupang ke Jakarta, posisi saya masih aktif sebagai Sekretaris GMNI Kupang. Sesuai arahan Om Valdo, divisi keuangan redaksi Berita Yudha pun mengeluarkan ongkos peliputan Kongres Bali.

Taksasi ongkos peliputan diproyeksikan untuk tiga sampai lima hari kerja, sudah termasuk ongkos tiket bus rute Jakarta-Bali, dengan perkiraan lama perjalanan satu hari dua malam.

Singkat cerita kami semua anggota delegasi Kupang pun bertemu di Bali. Yang berangkat dari Kupang, selain Kak Niko, kalau tidak keliru ada Hans Wadu, Klemetinus Sakri, dan M.M Tensi yang di kemudian hari menjadi pendamping hidup Ka Niko. Genaplah lima orang anggota delegasi Kupang, termasuk saya, bersua di Pulau Dewata.

Satu atau dua hari sebelum pembukaan Kongres, ada peristiwa sedikit konyol sekaligus kocak yang "menimpa" kami delegasi Kupang. Konon, ada seorang pengurus DPC, yang ditugaskan untuk bertemu seorang Bupati di Pulau Timor yang sudah berniat membantu tambahan biaya delegasi Kupang ke Kongres Bali.

Maksudnya bila dana bantùan itu sudah diterima dari sang bupati, maka selekasnya dana itu ditransfer ke Bali untuk tambahan biaya operasional delegasi.

Ternyata oh ternyata, begitu Kak Niko dan rombongan dari Kupang tiba di lokasi Kongres, setelah beberapa malam menumpang kapal laut, si kawan pengurus yang ditugaskan bertemu bupati, sudah tiba lebih dulu di Denpasar.

Si kawan ini bahkan ikut menunggu/menjemput Kak Niko dan rombongan di pintu gerbang lokasi Kongres Bali. Dia membeli tiket pesawat menggunakan sebagian dana bantuan sang bupati, terbang dari Kupang ikut menyusul delegasi Kupang di Bali.

Melihat si kawan pengurus ini sudah ada di hadapannya, bertemu muka dengan muka, Kak Niko spontan naik pitam. Kata-kata khas tiga huruf, bahkan tujuh huruf mengalir deras dari bibir Kak Niko.

Tatkala amarah Kak Niko mulai mereda, untuk mencairkan suasana yang kaku itu, dalam nada ringan setengah berkelakar, saya pun menegur si kawan pengurus itu.

"Lu ini sampe hati o.....Kak Niko dong ada capek-capek naik kapal, su ada bau-bau air laut lai, lu sante sa naik pesawat dari Kupang." Mendengar guyonan saya, ada di antara kami yang tak bisa menahan tawa; tertawa sambil menutup mulut dengan tangan agar tidak dilihat oleh Kak Niko. Takut Kak Niko "esmosi' lagi.

Tetapi, begitulah Kak Niko, habis memarahi orang, dia tidak menyimpan amarah itu di hati. Sepanjang yang saya kenal, Kak Niko memang pribadi yang tak suka mendendam. Tak berapa lama setelah memarahi orang, dia langsung bisa kembali berguyonan atau baku olok dengan orang yang bersangkutan. Demikianlah adanya, pemimpin-pemimpin yang matang kepribadiannya, selalu bukan orang-orang yang berwatak pendendam.

Puji TUHAN, syukur alhamdulilah. Di arena Kongres Bali, Kongres kedua untuk kepesertaan GMNI Kupang, kader-kader GMNI Kupang sukses menampilkan performance sebagai cabang berkualitas,  hasil dari tempaan praksis kaderisasi dengan silabus materi kaderisasi yang ketat dan terukur. Dalam Kongres Bali ini, selain matang mengeleborasi ide dalam dinamika persidangan Kongrea, GMNI Kupang juga menjadi faktor kunci bagi pergerakan alur persidangan.

Puji TUHAN, saat itu GMNI Kupang tampil sebagai Pimpinan Sidang Tetap  Kongres Bali bersama GMNI Denpasar, dan Korda Jawa Timur. Melalui skorsing sidang dan loby cukup alot di antara tiga utusan pimpinan sidang, akhirnya muncullah kesepakatan loby.

Viktus Murin dari Cabang Kupang menjadi Ketua Sidang Paripurna Kongres, didampingi oleh Wakil Ketua Sidang Alit Kelakan (Ketua GMNI Denpasar); yang kelak di kemudian hari menjadi Wakil Gubernur Bali,  dan Sekretaris Sidang, Ulika Triyoga (Korda Jatim).

Skenario matang GMNI Kupang untuk "tampil" di arena Kongres ini dirancang oleh Kak Niko, mulai dari fase persuasi cabang-cabang "mitra/rekanan" sampai dengan nama saya terpilih sebagai Ketua Sidang Paripurna Kongres.

Sesaat sebelum sesi pemilihan Pimpinan Sidang Tetap, Kak Niko menghampiri saya dan berujar pendek; "Ade Vik, siapkan diri untuk pimpin Sidang Kongres. Kita harus bisa jadi Ketua Sidang." Tanpa diskusi, tanpa bertanya, saya spontan menyahuti ucapan Kak Niko. "Beta siap, Kak Niko!"

Kongres Bali tahun 1996 ini merupakan babak baru demokrasi bagi GMNI. Pemilihan Ketua dan Sèkjen Presidium GMNI menggunakan mekanisme "one man one vote" (satu orang satu suara). Dalam Kongres itu akhirnya terpilih Ayi Vivananda (DPC Bandung) sebagai Ketua Presidium, dan Ahmad Baskara terpilih sebagai Sekjen Presidium. Ketua dan Sekjen dipilih secara terpisah, bukan dipilih dengan mekanisme paket.

Adapun Ketua Presidium Ayi Vivananda di kemudian hari menjadi Wakil Walikota Bandung. Sekjen Presidium Ahmad Baskara (Basarah), di kemudian hari menjadi Aggota DPR RI dan hari-hari ini sedang menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI.  Hasil Kongres Bali kala itu sempat mengundang ketidaksukaan anasir-anasir rezim Orde Baru.

Bahkan ada petinggi pemerintah pusat waktu itu menyebut bahwa GMNI melakukan "kegenitan politik yang tidak perlu", karena dengan sengaja telah memasukkan terminologi "progresif-revolusioner" dan terminologi "sosialis-religius" ke dalam teks Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga GMNI.

Kongres Kupang 1999, dan Kongres Manado 2002

Pasca Kongres Bali tahun 1996, puji TUHAN, mewakili Cabang Kupang, saya masuk dalam jajaran Presidium GMNI sebagai Ketua Komite Kaderisasi. Komposisi lengkap Presidium terdiri dari 13 Orang, dua di antaranya adalah putera Nusa Tenggara Timur, yakni Hironimus Abi (Ketua Komite Politik); anak Kefamenanu yang adalah Ketua DPC GMNI Jakarta Utara. Bung Ronny Abi, aktivis berkarakter keras namun humoris itu, telah lebih dulu berpulang Agustus 2020.

Sampailah saatnya masa kepemimpinan Presidium hasil Kongres Bali berakhir (1996-1999). Kongres harus digelar kembali sesuai periodisasi tiga tahunan, dan disepakat Presidium bahwa Kongres  akan dilaksanakan di Kupang.

Maka, di tengah kemelut politik dan sosial pasca jajak pendapat/referendum Timor Timur, GMNI pun menggelar kongresnya di Kupang. Gubernur Piet A.Tallo, SH (Alm) hadir.meresmikan Kongres GMNI yang berlokasi di Hotel Sasando Kupang.

Saking rumitnya situasi sosial pasca referendum Timtim waktu itu, Pak Piet Tallo dalam arahannya saat membuka Kongres GMNI mengatakan bahwa realitas eksodus warga Timtim ke wilayah NTT; Timor barat (dari Belu hingga Kupang), cukup berat dampaknya bagi pemerintah dan masyarakat NTT. Ibaratnya "Orang miskin membantu orang susah".

Menindaklanjuti hasil Kongres Kupang, GMNI waktu itu sempat mewacanakan agar pemerintah pusat membentuk otorita khusus (Otorita Timor) yang nantinya bisa mengurusi dampak sosial dan mencari solusi atas berbagai persoalan sosial ekonomi pasca referendum Timtim. Sayangnya, wacana Otorita Timor yang digulir GMNI tak menemukan gayung bersambut di ranah pemerintah pusat.

Puji TUHAN, dalam Kongres Kupang ini, saya terpilih sebagai Sekjen Presidium GMNI menggantikan Bung Baskara. Sedangkan Bambang Romada (Cabang Purwokerto) terpilih sebagai Ketua Presidium menggantikan Ayi Vivananda.

Dari 13  personil Presidium hasil Kongres Bali 1996, hanya saya yang melanjutkan periodisasi kepemimpinan kedua, mengingat adanya kebutuhan psikologis transisional kepemimpinan organisasi.

Dalam komposisi Presidium GMNI hasil Kongres Kupang ini, terdapat empat putra NTT yang menjadi personil Presidium. Selain saya sebagai Sekjen, ada Klementinus Sakri (Cabang Kupang), RS Hayadi (Alm); putra Manggarai, dan Yusuf Blegur; putra Alor. Hayadi dan Blegur berasal dari basis cabang di teritori Jabodetabek.

Saat Kongres Kupang berlangsung, Kak Niko dan senior Frans sudah berstatus alumni. Namun, perhatian dan atensi "duo Frans" ini mesti diakui tetap menjadi faktor psikologis yang determinan bagi suksesnya gelaran Kongres Kupang. Dengan cara dan kemampuan masing-masing, Kak Niko dan senior Frans terus berkontribusi bagi kesuksesan pelaksanaan Kongres Kupang.

Roda perjuangan GMNI terus bergulir. Dalam tiga tahun masa kepemimpinan saya sebagai Sekjen GMNI (1999-2002), komunikasi muka dengan muka menjadi terbatas lantaran faktor ruang dan waktu.

Sesekali jika Senior Frans dan Kak Niko ada tugas kepartaian PDI-P di Jakarta, atau ada kegiatan organisasi alumni GMNI, kami pasti berupaya untuk bertemu dan berdiskusi ringan.

Seingat saya, tahun 2000 saat Senior Frans mengemban amanah sebagai Ketua Forum Komunikasi Alumni (FKA) NTT, dan akan berkegiatan di Semarang, kami sempat bertemu dan berdiskusi sejenak di kantor Perwakilan NTT di Jakarta, tepatnya di daerah Tebet Timur Dalam.

Saat itu, diskusi kami menyentuh topik yang serius, agak sensitif secara politis, perihal pembedaan antara makna "sinergi" dan "intervensi" antara alumni di Jakarta sebagai sentrum politik nasional, dengan GMNI formal dalam hal ini Presidium GMNI. 

Waktu itu, malam hari, di lantai 2 kantor Perwakilan NTT, kami jumpa berempat; Senior Frans, Kak Niko, dan Bung Yos Dasi. Saya tetap mengambil sikap takzim mendengarkan usul saran ketiga orang yang saya hormati ini.

Saya sungguh menyadari itulah wujud atensi mereka terhadap kiprah saya sebagai Sekjen GMNI. Dengan sikap takzim pula saya menyampaikan kepada Senior Frans, Kak Niko, dan Bung Yos Dasi mengenai disposisi sikap saya selama saya masih menjadi Sekjen GMNI.

Bahwa saya siap menghadapi risiko politis apapun untuk menjaga dan merawat "independensi organisasi", saat berinteraksi dengan elemen-elemen alumni, khususnya di Jakarta. Apabila sikap saya itu menimbulkan efek disharmoni dalam hal relasi dengan elemen-elemen alumni, maka saya akan berupaya memulihkan relasi antar-personal itu setelah saya tidak lagi menjadi Sekjen GMNI, atau purna dari organisasi GMNI.

Dalam hati kecil saya, saya dapat merasakan bahwa sikap saya yang kaku mengenai independensi organisasi GMNI, sangat mungkin mengagetkan ketiganya; Senior Frans, Kak Niko, dan Bung Yos.

Namun, tetap dengan sikap lembut dan mengayomi, Senior Frans dan Kak Niko tetap memberi semangat kepada saya, agar terus mampu memimpin Presidium GMNI sesuai apa yang saya yakini baik.

Di perjalanan malam, di tengah hawa dingin yang menyusup masuk ke ruang terbuka tempat pertemuan, kami pun menyudahi perjumpaan. Senior Frans, Kak Niko, dan Bung Yos bersegera beranjak untuk beristirahat malam.

Saya pun pamit kembali ke kost, diterpa dingin malam Jakarta yang tanggung, akibat polusi asap ribuan kendaraan. Bila harus disimpulkan hasil pertemuan kami berempat malam itu,bolehlah dikatakan bahwa kami "bersepakat untuk tidak sepakat" (agree to disagree).

Meloncat maju ke tahun 2002, di mana Presidium GMNI hasil Kongres Kupang  mengakhiri periode kepemimpinan. GMNI pun menggelar kongres berikutnya yang berlangsung di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Kongres Manado yang diresmikan oleh Wakil Presiden RI H.Hamzah Haz, dan berlangsung di Manado Beach Hotel itu menghasilkan era baru kepemimpinan Presidium. 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah GMNI sejak berdiri tahun 23 Maret 1954 silam, organisasi ber-mazhab ajaran-ajaran Soekarno ìni dipimpin oleh kader perempuan.

Kongres Manado memilih Wahyuni Refi (asal Cabang Surabaya/ Anggota Presidium GMNI Komite Sarinah) sebagai Ketua Presidium, menggantikan Bambang Romada.

Sedangkan Sekjen GMNI yang terpilih menggantikan saya adalah Donny Lumingas asal Cabang Manado. Refi-Donny tampil memimpin GMNI untuk periode 2002-2005.

Seusai kepengurusan Presidium periode 1999-2002 dinyatakan Demisioner di arena Kongres Manado, tepat di malam Natal, 24 Desember 2002, saya pun menelpon Abang Theo Sambuaga, senior GMNI yang juga merupakan tokoh berpengaruh  di DPP Partai Golkar.

Beberapa pekan sebelum periode kepengurusan saya di Presidium GMNI berakhir, Bang Theo L Sambuaga memang sudah menelpon saya menyampaikan perihal kemungkinan untuk saya bergabung di Partai Golkar pasca purnatugas formal di GMNI. Namun, saat ditelpon Abang TLS, saya belum bisa memberikan kepastian sikap saya untuk bergabung ke Golkar mengingat saya masih berstatua formal Sekjen GMNI.

Jadi, di malam Natal itu, seusai.demisioner saya bersegera mengabarkan ke Abang TLS bahwa saya siap bergabung ke Golkar dan tentu saja menaruh harapan besar agar Abang TLS berkenan membimbing saya nanti dalam hal prinsip-prinsip etis dan moral berpartai.

Perihal kepastian saya bergabung ke Golkar, saya meniatkan di hati, bahwa nanti setelah balik dari Manado ke Jakarta, saya mesti bersegera pula mengontak Senior Frans untuk "melapor".

Senior Frans mesti tahu langsung dari saya sendiri, bahwa pilihan masuk ke Golkar adalah pilihan sadar saya untuk melanjutkan idealisme pergerakan yang sudah saya timba di almamater GMNI. Pun untuk mengarungi tantangan-tantangan baru yang lebih keras dan sarat gesekan di lingkungan partai politik, namun ampuh untuk menjadi wahana sekaligus sarana mengasah komitmen dan konsistensi perjuangan ideologi.

Niat yang hendak saya ungkapkan ke Senior Frans, itu pula yang nanti akan saya sampaikan juga kepada Kak Niko.* *(Bersambung/Bagian kedua dari tiga tulisan)

*)Viktus Murin, adalah Sekretaris DPC GMNI Kupang (1993-1996), Ketua Komite Kaderisasi Presidium GMNI (1996-1999), Sekjen Presidium GMNI (1999-2002), Wakil Sekjen DPP AMPI (2003-2008), Wakil Sekjen DPP Partai Golkar (2018-2019). Wartawan Pos Kupang (1992-1995), Tenaga Ahli Menpora RI DR. H. Adhyaksa Dault, SH, M.Si (2004-2009), Tenaga Ahli Anggota DPR RI Melchias M.Mekeng (2015-2018). Kini, menjadi Tenaga Ahli Ketua MPR RI, DR.H.Bambang Soesatyo, SE, SH, MBA.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved