Senin, 4 Mei 2026

Obituari

Nada yang Berdoa- Ketulusan dan Keharmonisan dalam Karya Sirilus Wali

Tuhan yang digambarkan Sirilus Wali adalah Tuhan yang mencintai dengan kerendahan hati, ketulusan, dan kasih. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARIANUS VIKTOR UKAT
Marianus Viktor Ukat 

Oleh: Marianus Viktor Ukat
Mahasiswa semester 6 Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Sirilus Wali, nama yang pertama kali saya dengar melalui lagu-lagunya yang bernuansa rohani ketika menerima jubah (pakaian rohani) di Seminari Tinggi TOR Lo’o Damian, Atambua. 

Lagu yang berjudul “Segala Jalanku Kau Maklumi” dan “Sungguh Indraku Tak Mampu Memahami”, adalah dua persembahan lagu yang menghantar kami untuk masuk ke dalam misteri Allah. 

Waktu itu, dua lagu ini menjadi lagu paling memikat jiwa dan raga kami untuk mengatakan bahwa kami rapuh di hadapan Allah, Sang Pemberi Hidup. 

Baca juga: Sirilus Wali: Musik dan Keindahan Abadi

Dalam nada-nada yang tertulis bersamaan dengan liriknya, terkesima sebuah tenunan harmoni yang khas akan hidup manusia sebagai peziarah di dunia ini untuk harus kembali ke hadapan Allah. 

Sirilus Wali
Sirilus Wali (POS-KUPANG.COM/HO)

Tuhan yang digambarkan Sirilus Wali adalah Tuhan yang mencintai dengan kerendahan hati, ketulusan, dan kasih. 

Ada sebuah doa yang terlintas lewat setiap syair dan melodi yang mengalun-mengantar setiap orang yang mendengar lagu-lagu ini kepada Allah. 

Berkenaan dengan itu, keindahan dan keelokan musikal seorang Sirilus Wali menjadi jembatan harmoni antara dunia manusia dan dunia surgawi. 

Menggabungkan tenunan surgawi dalam nada spiritual dan dunia dalam nada yang antroposentrime mengartikan sebuah mahakarya yang paling suci bahwa Tuhan sedang menganugerahkan rahmat yang tiada berkesudahan untuk membawa manusia menyelami misteri-Nya. Demikian, inilah bukti paling fenomenal dari mahakarya seorang Sirilus Wali

Pada 17 Februari 2026, pukul 11.34 WITA, saya menerima sebuah pesan Whatshapp di Grup Sint Michael Choir, yang bertuliskan sebuah catatan singkat nan haru bahwa Bapak Sirilus Wali telah meninggal dunia di RS Aeramo, Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. 

Sontak, saya terkejut dan kurang sungguh percaya akan peristiwa ini. Soalnya, selama ini dalam benak saya bahwa bapak Sirilus Wali sedang menjalani pemulihan diri dari sakitnya. 

Tentu, ia akan segera pulih setelah selesai menyelesaikan konser bersama kami, Para Frater Seminari Tinggi St. Mikhael-Penfui dan Mahasiswi Prodi Musik-Unwira, dengan nama panggung: konser Trans Timor Barat “Calpestando La Terra Sostenendo Il Cielo”. 

Namun, Tuhan punya rencana yang lebih mulia. Bapak Sirilus pergi meninggalkan Ibu Alfonsa, tulang rusuknya serta kedua buah cinta kasih, Renol dan Angel Wali. 

Keluarga kecil ini merupakan gambaran harmonisasi hidup yang mendalam akan cinta dan harapan di dalam Allah. 

Setiap mereka memiliki kekhasan yang berarti. Semuanya berpadu dalam nada syukur bahwa hidup ini adalah belas kasih Allah yang secara cuma-cuma agar manusia tetap hidup berdampingan dengan-Nya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved