Obituari
Ziarah Iman Sang Gembala Muda
Ia tidak mencari panggung, tetapi perjumpaan. Ia tidak mengejar pujian, tetapi kesetiaan. Di sanalah imamat menemukan maknanya.
Mengenang Romo Marno Wuwur
Oleh : Albertus Muda
Guru SMAS Keberbakatan Olahraga San Bernardino Lembata
POS-KUPANG.COM - Setiap panggilan imamat pada dasarnya adalah sebuah ziarah.
Ia bukan sekadar peristiwa tahbisan atau pengangkatan jabatan gerejawi, melainkan perjalanan panjang hati manusia yang perlahan-lahan belajar mengenali Tuhan.
Dalam perjalanan itu ada terang dan gelap, ada sukacita dan keterasingan, ada keyakinan sekaligus pertanyaan.
Namun justru melalui dinamika itulah seorang imam dibentuk menjadi gembala.
Demikian pula yang tercermin dalam hidup Romo Marianus Hali Wuwur alias Romo Marno Wuwur.
Ziarah imannya bukanlah kisah yang gemuruh oleh keajaiban besar, melainkan kisah sederhana yang mewujud melalui doa-doa sunyi, kesetiaan harian dan kedekatan dengan umat kecil.
Baca juga: Persebata Lembata ke Babak Play Off Usai Ditekuk Tim Degradasi Waanal Brother FC 0-1
Ia berjalan seperti para murid di jalan Emaus yang penuh tanya, tetapi tetap melangkah. Dalam perjalanan itu, Tuhan perlahan menyingkapkan diri sebagai Sahabat.
Kitab Suci berkali-kali menunjukkan bahwa Allah justru hadir paling nyata dalam keheningan.
Nabi Elia menemukan Tuhan bukan dalam angin ribut, gempa, atau api, melainkan dalam “suara angin sepoi-sepoi basa.”
Keheningan menjadi ruang perjumpaan yang paling jujur antara manusia dan Allah. Jalan sunyi itu pula yang kerap ditempuh seorang imam.
Sebab sebelum menggembalakan umat, ia terlebih dahulu harus belajar tinggal bersama Tuhan.
Konsili Vatikan II menegaskan bahwa imam dipanggil untuk hidup dalam kedekatan yang istimewa dengan Kristus, sehingga seluruh hidupnya menjadi tanda kehadiran-Nya di tengah umat.
Kedekatan itu tidak tumbuh dari aktivitas semata, tetapi dari relasi batin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Romo-Marianus-Hali-Wuwur.jpg)