Obituari
Kepingan-kepingan Kenangan Bersama Kak Niko: Dari Bali hingga Manado
Sekretariat baru yang kami tempati, terletak di Jalan Anggur depan markas Polda NTT, tepatnya berjarak 50 meter di belakang Margasiswa PMKRI Kupang.
Oleh: Viktus Murin)*
POS-KUPANG.COM - Selepas pelaksanaan Konfercab II Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kupang di tahun 1993, yang menetapkan Nikolaus Frans sebagai Ketua DPC dan Viktus Murin sebagai Sekretaris DPC, "via dolorosa" (jalan sengsara) GMNI Kupang terus berlanjut.
Prioritas program tetap diarahkan pada aspek kaderisasi dan peningkatan skill teknis berorganisasi. Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) sebagai pintu masuk rekruitmen dan seleksi kader GMNI Kupang terus dilakukan konsisten secara periodik.
Antusiasme mahasiswa di Kupang untuk mengenal lebih jauh GMNI, membuat kami pengurus GMNI Cabang Kupang pun semakin bersemangat. Apabila animo dan antusiasme para mahasiswa itu meningkat pesat, maka pengurus DPC akan melakukan PPAB dua kali dalam setahun. Rata-rata calon anggota yang mendaftar untuk mengikuti PPAB waktu itu berkisar 100 sampai 200 orang.
Pada masa itu, GMNI adalah anak bungsu dari tiga saudara tuanya di ranah "Kelompok Cipayung" yang telah lama eksis. Ketiga saudara tua itu berturut-turut adalah Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Satu lagi elemen Kelompok Cipayung yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), saat itu belum ada cabangnya di Kupang.
Melalui upaya tertatih-tatih DPC Kupang hasil Konfercab II, dan tetap di-back up oleh senior Frans Lebu Raya, kami pengurus cabang akhirnya bisa mengontrak sebuah rumah permanen untuk dijadikan sebagai sekretariat, sekaligus semacam posko ide-ide dalam rangka derivasi dan aplikasi program kerja organisasi.
Selebihnya, di kala suasana agak santai, yakni bila sedang tudak ada kegiatan organisiasi bernuansa publik, maka sekretariat akan tetap ramai, riuh rendah dengan suara para bujangan, lantaran kami memang punya hobi duduk-berkisah lintas topik kehidupan.
Idiom populernya saat ini, "omon-omon". Duduk omon-omon! Bercerita ngalor-ngidul, ketawa ngakak sambil pegang perut. Istilah kita orang timur; "Tertawa sampe perut sakit".
Sebelum punya sekretariat tetap, posko aktivitas GMNI Kupang adalah di rumah kecil milik senior Frans Lebu Raya di Jalan P da Cunha Naikoten. Sejak GMNI Kupang berdiri, sampai transisi kepemimpinan dari senior Frans ke kak Niko, pusat aktivitas GMNI Kupang memang berlangsug di teras rumah senior Frans.
Kerelaan dan keikhlasan hati senior Frans menjadikan rumahnya sebagai sekretariat organisasi, membuat komunitas GMNI Kupang, perlahan tapi pasti terus meningkatkan adrenalin semangat kolektif dan daya juang ideologi. Terima kasih berlimpah senior Frans.
Sekretariat baru yang kami tempati, terletak di Jalan Anggur depan markas Polda NTT, tepatnya berjarak 50 meter di belakang Margasiswa PMKRI Kupang. Mengingat lagi sekretariat ini, ada beberapa hal unik yang tetap menempel di benak saya hingga sekarang.
Pagi hari atau sore hari, Kak Niko acapkali duduk di teras sekretariat sambil ngopi dan merokok, sembari posisi kakinya berselonjor ke bangku tembok di teras.
Sederhana sekali tampilan Kak Niko, dia hanya mengenakan "lawo" (sarung khas Lio; lihat tulisan Dion DB Putra bertajuk "Selamat jalan lawo") dan baju kaos. Sesekali bahkan ia tidak memakai baju karena panasnya cuaca Kota Kupang.
Terhadap pemandangan unik di teras sekretariat itu, sebagai Seketaris DPC yang mendampingi Kak Niko sebagai Ketua DPC, saya tahu betul bahwa sesungguhnya Kak Niko sedang berkontemplasi, berburu ide-ide progresif-revolisioner di dalam pemikirannya, untuk dimanifestasikan dalam pergerakan riil-programatik bagi organisasi GMNI yang sungguh dicintainya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Nikolaus-Frans-dan-Viktus-DPD.jpg)