Senin, 4 Mei 2026

Obituari

Kepingan-kepingan Kenangan Bersama Kak Niko: Dari Bali hingga Manado

Sekretariat baru yang kami tempati, terletak di Jalan Anggur depan markas Polda NTT, tepatnya berjarak 50 meter di belakang Margasiswa PMKRI Kupang.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Nikolaus Frans (Ketua DPC GMNI Kupang) dan Viktus Murin (Sekretaris DPC GMNI Kupang) saat menjadi Peserta Kongres GMNI di Denpasar Bali tahun 1996. Nampak Niko duduk di samping kanan Viktus yang sedang berbincang dengan Ketua DPC GMNI Jakarta Selatan Ahmad Baskara (Basarah). Saat ini Basarah menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PD. 

Sesekali saya suka usil menginterupsi "lamunan ideologis" dari Kak Niko. Begitu saya balik dari kantor redaksi Pos Kupang (saat itu di jalan Kenari 1), dan mendapati Kak Niko sedang merokok di teras sekretariat, saya pun berguyon; "Kak Niko, cerobong asap terus o......," ucap saya berceloteh. Kalau mood-nya lagi bagus, Kak Niko tersenyum dan balik meledek; "Ahh lu Vik, ada cerita 'gerak natur' lagi ko sonde?" Kami pun terbahak, ngakak bersama.

Perihal diksi "gerak natur". Ini Kak Niko sampaikan untuk menyindir saya menyangkut urusan pacaran. Sudah berhitung tahun, setiap kali dia menanyakan siapa pacar saya yang pastinya dipersiapkan kelak menjadi calon isteri, saya selalu memberi jawaban begini; "Beta ikuti gerak natur sa, Kak Niko."

Sekali waktu, di kesempatan yang lain, dalam suasana penuh guyonan bersama senior Frans dan beberapa kawan seorganisasi, saya pernah kena skak dari Kak Niko, saat saya menyinggung soal nona Kupang.

"Vik, lu itu omong gerak natur beta su sonde percaya. Nanti kalau beta su lihat lu berdiri ucap janji nikah di depan altar, itu baru beta percaya lu pung nona terakhir itu siapa."

Beta langsung terdiam; mulut ilang. Beberapa kawan yang mendengar perkataan Kak Niko tertawa ngakak. Saya merasa agak tegar karena melihat senior Frans hanya tersenyum-senyum kecil sembari melirik ke saya. Ahhhh..., jadi terkenang lagi wajah ramah mendiang senior Frans. Senyum senior Frans memang selalu sejuk dan mengayomi.

Masa kepemimpinan Kak Niko sebagai Ketua dan saya sebagai Sekretaris GMNI Kupang sempat "terinterupsi oleh situasi kevakuman faktual insidentil". Pada tahun 1994, saya mendapat amanat dari Pimpinan Redaksi POS KUPANG (PK) untuk bertugas menetap sebagai Wartawan PK untuk Kabupaten Sumba Timur.

Dalam rotasi wilayah tugas ini, saya menggantikan Bung Yosni Herin yang sebelumnya telah ditempatkan di Waingapu, ibukota Sumba Timur. Di Waingapu, saya sewa kost di daerah Kampung Sabu, tepatnya di rumah Om Lomy seorang purnawirawan polisi.

Di masa saya bertugas di Sumba Timur inilah, beberapa kali PK menurunkan headline berita mengenai bencana kelaparan di Sumba Timur yang menimpa dua desa, yakni Praibakul dan Kombapari, di Kecamatan Lewa.

Viktus Murin dan Niko Frans.
Viktus Murin dan Niko Frans. (DOK PRIBADI)

Terhadap kelaparan Sumba Timur ini, mendiang Om Valdo; Valens Doy  menulis pada Tajuk PK dengan judul yang tangkas menggigit: "Salib pertama untuk Musakabe". Di masa itu, Gubernur NTT Mayjen TNI (Purn) Herman Musakabe  belum berbilang setahun memimpin NTT.

Musakabe merespon cepat fakta kelaparan di Sumba Timur, dan langsung terjun berkunjung ke Sumba Timur untuk menyikapi situasi. Jika tak keliru, kunjungan Musakabe ke Sumba Timur tercatat sebagai kunjungan resmi perdana Musakabe di wilayah kabupaten se-NTT.

Selama sekitar enam bulan saya menunaikan tugas jurnalistik di Sumba Timur, kewenangan organisatoris untuk job description Sekretaris DPC GMNI Kupang, untuk sementara dialihkan ke Wakil Sekretaris DPC, Bung Yos Dasi Jawa, yang di kemudian hari menjadi Komisioner KPU NTT.

Selanjutnya, pada tahun 1995, seusai saya mohon diri rehat dari Redaksi PK, saya mendapat tawaran panggilan tugas dari Om Valdo yang waktu itu menjadi bidan pers untuk menyehatkan situasi koran Berita Yudha yang telah dialihkan dari managemen militer (TNI AD) ke manajemen sipil di bawah payung nama Bambang Yoga Soegama.

Seusai mendapat kabar dari Om Valdo, saya bergegas bicara dari hati ke hati dengan Kak Niko. Prinsipnya Kak Niko dapat memahami situasi ini, namun Kak Niko memastikan bahwa rencana saya untuk berangkat pindah ke Jakarta haruslah menjadi informasi bersama para pengurus DPC.

Tak berselang hari, DPC melakukan rapat dan menugaskan kepada saya untuk "menjalankan/melanjutkan tugas sebagai Sekretaris DPC dari Jakarta, dengan prioritas utama membuka komunikasi dan membangun relasi dengan para senior GMNI di Jakarta untuk kepentingan eksistensi GMNI Kupang.

Maka, pada tanggal 8 Oktober 1995, sore hari, saya dan beberapa rekan wartawan alumni PK terbang ke Jakarta untuk tinggal menetap di bumi Betawi.

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved