Sabtu, 18 April 2026

Obituari

Sirilus Wali: Musik dan Keindahan Abadi

Sirilus Wali dikenal sebagai seorang komponis NTT yang kreatif. Pada setiap hari  raya gerejani  seperti Natal dan Paskah ia selalu merilis lagu

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Sirilus Wali 

Oleh: P. Edu Dosi, SVD

POS-KUPANG.COM - Komunitas musik gerejawi dan pencinta budaya Nusa Tenggara Timur ( NTT) berduka. 

Sirilus Wali dikenal luas sebagai komponis dan maestro musik gerejawi, yang telah  mewarnai musik liturgi gerejani ini, mengembuskan napas terakhirnya di RS Ae Ramo Mbay, pada umur 62 tahun, 17 Februari 2026.

Ketika  semua sahabatnya tak menduga ia kembali ke Rumah Ilahi di pangkauan pemusik agung. 

Ia tinggalkan  Alfonsa,  belahan jiwanya  serta kedua buah cinta  Renold dan Maria Angel Wali. Mereka pula yang  selalu bernyanyi bersamanya dengan kasih  sayang.

Baca juga: Obituari: Pater Bombon Telah Pergi

Sirilus adalah seorang seniman  sekaligus guru  SBD pada dua sekolah di Kota Kupang yaitu SMAK Giovani  dan SMAN  11 Kota Kupang.  Ia  lahir di Ndangakapa, Nangapanda, Kabupaten Ende, dan berdomisili di Kota Kupang. 

Rekan-rekannya mengenal dia  sebagai lelaki rendah hati, tenang dan sabar, berbudi halus yang dibentuk oleh keindahan musik.  

Sang komponis ini menghadiahkan   hidupnya untuk merangkai kasih  dalam  nada bagi Allah. 

Ia melintasi batas budaya serta generasi. Keindahan abadi  lagu-lagunya akan terus bergema di gereja dan ruang publik dalam setiap harmoni yang ia tinggalkan.

Sejak tahun 1990 Sirilus Wali menekuni  bidang komposisi pada gurunya  di bangku kuliah Universitas Widya Mandira, bersama dosen-dosen hebat seperti almarhum Pater Anton Sigoama SVD,Pater Daniel Kiti, SVD dan Bapak Petrus Riki Tukan. 

Sejak itu  Sirilus  mulai mengembangkan, menciptakan lagu-lagu Misa Inkulturasi maupun misa-misa umumnya. 

Lagu-lagunya yang sering dinyanyikan  dalam Misa Gereja  Katolik adalah   "Kami Membawa Persembahan" dan "Mari Pulang, Kita Memuji Allah".

Dengan berbakat musik,   Sirilus masuk dalam ruang  kreatif  peciptaan lagu rohani. 

Proses kreatif penciptaan karya seni dan spiritual  ini melahirkan lagu-lagu ritual inkulturatif bagi Gereja Katolik yang bermotif budaya daerah. 

Lagu lagu misa ini antara lain   bermotif tarian Taka Ze dan  Naro (Tana Zea/ Ende perbatasan dengan etnis Nagekeo), Gawi (Lio)  dan Ndera (Nagekeo).

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved