Cerpen
Cerpen: Uang Regis
Kalimat sederhana yang seharusnya membuatku lega, justru menghadirkan kegelisahan yang sulit dijelaskan.
“Belakangan ini memang jarang.”
Aku terdiam.
“Kenapa, Nak?”
“Tidak apa-apa.” Aku tidak ingin membuat ibu khawatir. Padahal saat itu perasaan tidak enak mulai tumbuh dalam diriku.
Seminggu berlalu. Tidak ada kabar dari ayah. Pesan-pesanku hanya centang satu. Teleponku tidak pernah diangkat.
Aku mulai gelisah. Biasanya sesibuk apa pun, ayah akan menghubungi kami. Minimal sekali. Tetapi kali ini tidak.
Hari demi hari berlalu. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa mungkin ayah sedang sibuk. Mungkin ponselnya rusak. Mungkin sinyal di tempat kerjanya buruk.
Namun semakin aku mencari alasan, semakin besar rasa takut yang muncul. Malam-malamku menjadi tidak tenang. Aku sering terbangun dan langsung memeriksa ponsel.
Tetapi tidak ada apa-apa. Hanya layar kosong. Dan kesunyian. Tapi, Aku yakin saja ayah sedang baik-baik saja.
***
Malam itu hujan turun deras dibarengi angin kencang. Listrik di kos juga ikut mati. Aku baru saja tertidur ketika suara notifikasi membangunkanku.
Dengan mata masih setengah terpejam, aku meraih ponsel. Transfer masuk dengan cepat. Rp1.500.000. Jantungku langsung berdegup kencang.
“Ayah!” Aku yakin uang itu dikirim oleh ayah. Setelah menunggu kabar dari
Ayah, aku sedikit kaget senang rasanya.
Namun beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal. “Terima kasih. Ayahmu telah kami tangkap.”
Aku membaca pesan itu berulang kali. Tanganku mulai gemetar. Dengan buru-buru aku menelepon nomor ayah. Beberapa saat kemudian seseorang menjawab.
“Selamat malam.”
“Ini nomor ayah saya.
Siapa ini?”
“Apa benar Anda anak Pak Sipri?”
“Iya itu ayahku.” Ada apa?
Terdengar suara napas di seberang sana. Kemudian laki-laki itu berkata dengan nada datar.
“Kami dari kepolisian. Ayah Anda sedang menjalani pemeriksaan karena diduga terlibat jaringan judi online.”
Dunia terasa berhenti. Aku tidak lagi mendengar kalimat berikutnya. Hujan masih menghantam atap kos.
Tetapi suaranya terasa sangat jauh. Aku terduduk di lantai. Ponsel terlepas dari tangan.
Pikiranku kosong. Hening membisu, nafasku setengah mati, jantungku rasanya mau copot. Malam itu aku tidak tidur. Aku mencoba mengingat semua hal yang terjadi beberapa minggu terakhir. Telepon ayah yang semakin sering.
Uang kiriman yang tiba-tiba bertambah. Janji untuk membayar uang registrasi kuliahku. Dan sekarang semuanya terasa masuk akal. Ayah sedang berusaha mendapatkan uang dengan cara yang salah.
Entah karena terdesak. Entah karena putus asa. Entah karena merasa tidak punya pilihan lain. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku tidak marah.
Justru itu yang membuat dadaku semakin sesak. Aku mengenal ayah. Ia bukan orang jahat. Ia hanya seorang laki-laki yang terlalu lama bertarung dengan kemiskinan.
***
Beberapa hari kemudian, aku akhirnya memberi tahu ibu. Awalnya ibu tidak percaya. “Ayahmu tidak mungkin begitu.”
Aku berharap ibu benar. Tetapi kenyataannya tidak. Ibu menangis lama sekali. Untuk pertama kalinya aku mendengar suara tangis yang begitu putus asa. “Ayahmu cuma ingin kalian sekolah,” katanya.
Kalimat itu membuatku semakin hancur. Karena aku tahu itu benar. Ayah tidak pernah membeli apa pun untuk dirinya sendiri. Bajunya itu-itu saja.
Sandalnya sering putus lalu diperbaiki lagi. Bahkan saat pulang kampung, oleh-oleh untuk kami selalu lebih banyak daripada barang yang ia bawa untuk dirinya.
Ayah mungkin salah. Tetapi kesalahannya lahir dari keinginannya melihat kami hidup lebih baik. Dan itulah yang paling menyakitkan.
Hari-hari berikutnya terasa berat. Aku tidak memiliki cukup uang untuk datang menghadiri setiap proses hukum yang dijalani ayah.
Aku hanya bisa menunggu kabar. Setiap malam aku memandangi rekening yang masih menyimpan uang kiriman terakhir darinya.
Aku tidak sanggup menggunakannya. Uang itu seperti menyimpan luka. Aku teringat kembali pada kaus bekas yang dulu sangat kuinginkan.
Tiba-tiba benda itu terasa tidak berarti. Begitu juga banyak hal lain yang selama ini kupikir penting.
Di luar jendela, matahari mulai tenggelam. Aku duduk sendiri di kamar kos yang sempit.
Ponselku berada di atas meja. Tidak ada lagi telepon dari ayah. Tidak ada lagi suara beratnya yang selalu berusaha terdengar tegar. Yang tersisa hanya satu kalimat yang terus berputar di kepalaku.
“Minggu depan ayah kirim uang regis, ya, Nak.” Aku menunduk. Air mata kembali jatuh. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku berharap ayah tidak pernah menepati janji itu.
Kini rindu itu semakin jauh. Sudah lama tak bertemu. Dan kini ayah hanya menunggu putusan hakim, yang akan hanya menambah waktu kami untuk tidak bertemu. (*)
*) Felix Sugar berasal dari Manggarai-Flores, NTT adalah seorang Mahasiswa di Institut Filsafat Teknologi Kreatif Ledalero. Ia telah giat dalam menulis dibeberapa media lokal maupun pada jurnal ilmiah. Selain itu, Ia telah menerbitkan dua buku dengan judul Langit Pernah Menulis Kita di Tubuh Senja (2024) dan Sapu Tangan Tanya? (2025).
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pria-pekerja-keras.jpg)