Cerpen
Cerpen: Uang Regis
Kalimat sederhana yang seharusnya membuatku lega, justru menghadirkan kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Oleh: Felix Sugar *
POS-KUPANG.COM - “Minggu depan ayah kirim uang regis, ya, Nak.” Suara ayah terdengar pelan dari seberang telepon.
Aku membayangkan wajahnya yang mungkin sedang dibasahi keringat setelah seharian bekerja.
Sudah lama aku tidak melihatnya secara langsung. Bahkan aku tidak ingat kapan terakhir kali kami duduk bersama lebih dari satu jam.
“Iya Ayah, aku tunggu yah. Terima kasih.” jawabku singkat. Telepon langsung terputus.
Aku masih memandangi layar ponsel yang perlahan menggelap. Kalimat itu terus terngiang di kepalaku dengan khusuk.
“Minggu depan ayah kirim uang regis.”
Baca juga: Cerpen: Dara di Puncak Rembulan
Kalimat sederhana yang seharusnya membuatku lega, justru menghadirkan kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Entah kenapa, aku pun tak tahu. Atau? Mungkin karena aku terlalu mengenal keadaan kami yang jauh dari kelimpahan.
***
Ayahku adalah seorang perantau tulen. Sejak aku kecil dan duduk di kelas IV SD, hidupnya dihabiskan jauh dari rumah. Bahkan ketika ibu mengandung adik bungsuku, ayah sudah berangkat ke kota lain untuk bekerja.
“Adakah pada kami rumah mewah, kulkas mewah atau sofa empuk? Tidak akan mungkin ada. Yang ada hanyalah gubuk kecil yang atapnya dari pohon enau dan dindingnya dari ayaman bambu.
Sejak saat itu hidup kami berjalan dengan pola yang sama. “Ayah pergi. Ayah mengirim uang. Ayah pulang setahun sekali. Lalu pergi lagi.”
Kadang aku merasa ayah lebih akrab dengan jalanan daripada dengan keluarganya sendiri. Namun aku tidak pernah menyalahkannya.
Aku tahu alasan semua itu. Kekurangan. Kata yang sederhana, tetapi mampu mengubah banyak hal dalam hidup seseorang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pria-pekerja-keras.jpg)