Cerpen
Cerpen: Uang Regis
Kalimat sederhana yang seharusnya membuatku lega, justru menghadirkan kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Ayah bekerja sebagai kurir di sebuah toko bangunan. Setiap harinya Ia mengantar semen, pasir, batu bata, dan berbagai bahan bangunan ke pelosok kota.
Upahnya tidak besar. Tetapi dari pekerjaan itulah kami hidup. Kadang ia mengeluh sakit, tapi hanya bergumam saja.
Selama bertahun-tahun, setiap rupiah yang dikirim ayah selalu pas. Tidak pernah kurang. Tidak pernah lebih.
Aku dan ibu sudah terbuasa menunggu, kalau ada syukur kalau tidak pun serasa biasa. Aku menyaksikan ayah berjuang setengah mati.
Apalagi ibuku di rumah setiap harinya selalu dengan bau tanah di kukunya terasa tak asing lagi dengan air.
***
Suatu pagi di awal bulan ini, aku kaget dengan sebuah notifikasi transfer masuk ke rekeningku, aku sampai mengira sedang salah melihat angka.
Rp2.500.000. Aku membaca angka itu berulang kali. Dua juta lima ratus ribu rupiah. Jumlah yang tidak biasa.
“Ini uang siapa? Pasti ini salah kirim?’ gumamku.
Dengan perasaan mengguncang, aku segera menelepon ayah. “Ayah, kenapa uangnya banyak sekali?” Di ujung telepon terdengar suara kendaraan dan angin.
Baca juga: Cerpen: El Samoa
“Tidak apa-apa. Ayah ada rezeki lebih.”
“Rezeki apa?” Ayah tertawa kecil. “Sudah, tidak usah dipikirkan. Dipakai baik-baik. Hemat-hemat yak nak.”
Sebelum aku sempat bertanya lagi, telepon pun terputus. Aku menatap layar ponsel cukup lama.
Rezeki lebih? Entah mengapa kalimat itu terasa janggal. Aku hanya tersentum tipis. Ah, barangkali ayah benar juga.
***
Sebagai anak sulung, aku terbiasa hidup dengan kekurangan. Aku kuliah di ibu kota provinsi. Untuk mengurangi beban orang tua, aku bekerja apa saja yang bisa kukerjakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pria-pekerja-keras.jpg)