Cerpen
Cerpen: Dara di Puncak Rembulan
Ia berdiri terpaku. Entah ia menikmati semburat indah rembulan di langit malam itu ataukah ia sedang merencanakan sesuatu.
“Tuhan tidak menghakimimu. Semua yang terjadi pada orang-orang itu bukan salahmu juga. Tidak perlu kamu menyalahkan diri”. Aku berusaha menguatkannya setelah ia menceritakan semuanya.
Tanpa disadari, ia jatuh tertidur. Terlalu lelah dan terlalu perih. Aku melangkah pelan keluar tenda.
Berjaga di depan unggun sembari menikmati kopi hitam dan sebatang rokok Assikha— yang konon menyembuhkan segala penyakit—kata Bento, karibku yang doyan berdagang.
Tertidur sebentar, tapi hanya tidur ayam—setengah sadar, setengah khawatir pada perempuan yang baru kukenal malam itu. Seperti mimpi, aku belum tuntas mencerna semua yang barusan terlihat.
"Selamat pagi." Pagi-pagi sekali ia bangun dan menyalakan api. "Maaf ya Bang, gara-gara aku Abang ga tidur."
Ia masih sungkan—membawa rasa bersalah bahkan ketika dialah yang paling berhak untuk dihibur.
Aku terkejut melihat Dania di bawah cahaya pagi. Entah karena masih ngantuk atau terkesima oleh keindahan wajah itu saat diterpa sinar mentari pagi.
Rautnya masih rada mendung—seperti memantulkan beratnya beban yang dipikulnya. Tapi keindahan wajah itu tak bisa disembunyikan oleh kesedihan. Dunia boleh merobeknya, ia tetap indah pada dirinya.
Batu Karang dan Tetesan Air
Gutta cavat lapidem non vi, sed saepe cadendo. Batu karang tidak hancur karena kekuatan air, tapi oleh tetesan yang terus-menerus.
Batu karang hati Dania mungkin terkikis karena tetesan gosip yang tiada henti —cemoohan yang tak kenal waktu.
Tapi ia perempuan tangguh. Meski sempat putus asa, raut wajahnya menunjukkan semangat hidup yang kuat dan tak mau padam.
Sic homo fit sapiens bis non, sed saepe legendo. "Ini bahasa apa, Bang?" Rupanya Dania melihat coretan yang ditempelkan pada laptop.
"Oh, itu? Ga ada artinya kok." Mendengar itu, ia seperti tidak menerimanya. Mata itu berbicara lebih keras daripada kata-katanya.
"Aku memang hanya lulusan SMA, tapi aku mau belajar kok." Aku kaget campur malu. Sebuah kalimat sederhana yang menampar lebih keras dari argumen paling tajam sekalipun.
Dalam kata-kata itu tersimpan tekad yang tidak pernah padam meski dihimpit oleh tuduhan dan pengabaian.
"Maaf, Dania. Itu bahasa Latin yang artinya manusia menjadi bijak bukan karena satu dua kali, tapi karena kerap kali membaca."
Pertama kali aku melihatnya seperti itu. Mata yang selama ini kusam digerus kesedihan, kini memantulkan sesuatu yang lama tak ada: harapan.
Bukan karena kata-kata Latin yang rumit. Tapi karena seseorang akhirnya memperlakukannya sebagai manusia yang layak untuk tahu. Dihargai.
Sesederhana itu. Dan sesederhana itu pula ia hampir tidak pernah merasakannya.
Dania belum tahu kalau bahasa Latin itu pelajaran wajib di seminari —meskipun banyak yang merasa itu pelajaran paling membosankan. Bahasa pasif. Tak lagi dipakai dalam percakapan sehari-hari.
Teks-teks suci dan tafsiran kuno tersimpan dalam bahasa yang tak lagi terucap.
Argumen argumen besar tentang kebenaran dan keberadaan selalu tersembunyi dalam bahasa kuno itu— sebagaimana bahasa Yunani!
Ilmu kedokteran, ilmu hukum, dan beragam pengetahuan manusia tertanam dalam akar bahasa mati itu.
Impian yang Terkubur
Dania mengaku frustrasi. Ia ingin kuliah. Ia ingin pergi dari kampung itu —dari mata-mata yang mencurigainya, dari bisik-bisik yang mengutuknya, dari nama yang sudah terlanjur dicemarkan oleh mulut-mulut yang tak pernah benar-benar mengenalnya.
Tapi ia tidak punya siapa-siapa lagi. Dan ia tidak punya apa-apa. Mimpi itu ada —tapi terkubur di bawah realitas yang terlalu berat untuk diangkat sendirian.
Janji di Puncak Bukit
"Aku ga janji ya. Tapi aku akan carikan kamu beasiswa. Kali aja kamu bisa kuliah.” Tak pelak lagi, aku lagi berjanji. Berjanji untuk mencarikan beasiswa.
Sebuah janji yang lahir dari pertemuan yang tidak direncanakan siapa pun. Di puncak bukit yang sama tempat Dania hampir mengakhiri segalanya, kini berdiri sebuah kemungkinan baru—rapuh seperti embun pagi, tapi nyata.
Internet di Puskesmas
"Bang, internet di desa kami hanya ada di Puskesmas dan kantor desa. Yang di kantor desa pun sering lemot. Mohon bersabar kalau nanti aku ga langsung baca pesan dari Abang ya."
Dania menjelaskan situasinya dengan nada meminta maaf —sambil menyimpan nomorku di gadget tua miliknya— padahal bukan salahnya.
Keterbatasan itu bukan hanya soal sinyal. Ia adalah gambaran dari seluruh kehidupan Dania: selalu berada di pinggiran, selalu harus bersabar, selalu harus meminta maaf atas hal-hal di luar kendalinya.
Keterbatasan itu bukan hanya soal sinyal. Ia adalah gambaran dari seluruh kehidupan Dania: selalu berada di pinggiran, selalu harus bersabar, selalu harus meminta maaf atas hal-hal di luar kendalinya.
“Itu urusan nanti. Hari ini yang perlu dipikirkan. Kamu akan ke mana. Kembali ke rumah atau bagaimana.”
Ia pun terdiam. Tampak berpikir, tapi tatapannya kosong. “Ga tau juga, Bang.” Suaranya kembali lirih dan terdengar hopeless.
“Aku sih mau aja kamu di sini terus. Hanya takutnya nanti kamu ga mau pulang lagi.”
Aku berusaha menggodanya untuk mencairkan suasana—sambil menyelam, minum air. Kali aja dia merasakan betapa aku berharap dia selalu di sini.”
Menutupi rasa itu tak mudah. Aku memang tak berpengalaman dalam berpacaran. Tapi, selama kuliah, aku belajar mengungkap rasa. Setidaknya tahu rasanya sakit ditolak primadona di angkatan kami. Hahaha.
Tapi rasa-rasanya, terlalu cepat dan kurang etis kalau Dania harus diseret lagi ke perasaanku yang egois. Bukankah itu artinya aku ga ada bedanya dengan Rangga dan semua warga desa itu?
"Abang udah membantu terlalu banyak. Aku ga mau ngerepotin lagi. Siang ini aku turun ya. Babi di kandang belum dikasih pakan dari kemarin sore."
Aku bisa saja berpura-pura membiarkan dia pergi. Tapi aku ga iklas di menderita lagi.
“Gini aja, kebetulan data yang kubutuhkan di hutan ini sudah cukup. Aku ikut kamu turun.” Ia menatapku heran. Ia kaget sekaligus takut. Rautnya tak bisa berbohong.
“Aku ga mau Abang kena masalah karena aku”. Ia peduli padaku. “Aku hanya mau mampir sebentar kok, sekalian mau berterima kasih ke Pak Kades karena sudah memberikan izin untuk datang ke sini selama tiga hari ini.”
Ketika malam yang paling gelap pun akhirnya melepas fajar, yang tertinggal bukan hanya ingatan —tapi kemungkinan bahwa satu pertemuan yang tidak direncanakan bisa menjadi awal dari sesuatu yang menyelamatkan.
Dania tidak memilih untuk sendirian. Ia tidak memilih untuk kehilangan bibinya, tidak memilih untuk dituduh, tidak memilih untuk dicampakkan. Kesendirian itu dipaksakan oleh dunia yang tidak adil.
Namun, dalam kesendirian itulah ia menemukan kekuatan yang tidak pernah ia sadari ada dalam dirinya.
Siang itu, sebelum pukul tiga, kami menuruni lereng dan kembali ke desa . Setelah mengantarnya ke rumah di ujung kampung, aku bergegas ke kantor desa.
Dania tak berani menahan. Terlalu telanjang untuk ditutupi dari mata para tetangga yang mengintip dalam dengki.
Di Kantor Kepala Desa
“Selamat siang.”
Pak Kades sedang berbincang dengan tiga anak buahnya perihal pembebasan lahan adat untuk pembangunan Koperasi Merah Putih. “Eh, Peter. Mari masuk!” Ia mempersilakan stafnya pergi. Tertinggallah kami berdua.
“Terima kasih atas bantuannya, Pak. Penelitian selesai berkat dukungan Bapak.”
Sambil menyeruput minuman jahe panas campur gula merah kesukaannya, Pak Kades tampak tersenyum semringah. “Ah, bukan masalah. Aku ga bantu apa-apa, Nak. Kamu memang hebat. Semoga skripsinya lancar ya.”
Ia masih sempat berpura-pura baik. Aku masih menahan sesak dan amarah. Ingin rasanya meninju kepalanya yang separuh botak.
“Maaf, Pak. Apa boleh saya berdiskusi soal yang lain?” Saya bertanya karena sudah tak tahan lagi. “Soal apa tuh?” Ia penasaran, tapi masih tak bisa menduga.
“Soal Dania, Pak.”
Ia terkejut. Sambil merapikan posisi duduknya, raut mukanya tampak tegang seketika.
“Oh, soal anak itu. Bagaimana kamu bisa tahu, Nak?” Dia lupa kalau aku berkemah di hutan dan semalaman mereka sekampung mencari Dania sampai ke lereng bukit.
“Semalam saya mendengar para warga mencari Dania ke arah bukit. Kebetulan saya masih terjaga.”
Ia kelihatan panik. “Ada apa sebenarnya, Pak?” Ia lalu menjelaskan bahwa para warga resah. Dania tiba-tiba menghilang.
Ia tidak tahu kalau fitnah dan cemoohan terhadap perempuan malang itu tidak terlepas dari kelakukannya yang tidak bijak sebagai kepala desa. Belum lagi ia membela si Rangga, anaknya yang bajingan itu, hanya demi reputasi keluarga.
“Bukan maksud saya lancang, Pak. Barangkali Bapak bisa mengingatkan warga di sini kalau Dania itu anak baik-baik. Ia frustrasi karena dituding sebagai pembawa sial. Belum lagi ia terluka karena hubungannya dengan putra Bapak tidak berjalan mulus.”
Aku sudah tak peduli lagi dengan sopan santun. Terserah mau dibilang orang asing yang ga tahu diri. Aku tidak sudi Dania selalu terpuruk. Aku tidak mau orang-orang picik di kampung itu terus mengusik anak gadis yang berhati lembut itu.
Pak Kades tampak gelisah dan menahan emosi. “Bagaimana bisa kamu tahu banyak soal dia? Kami hanya resah karena semalaman ia tidak pulang ke rumah. Babi-babi berteriak dari kandang. Tetangga terganggu. Dari situlah kami sadar anak itu menghilang.”
Ia masih bisa menahan emosinya, berusaha menjelaskan keadaan sambil menutupi fakta sesungguhnya.
“Sekali lagi minta maaf atas kelancangan saya, Pak, dan terima kasih untuk semua bantuannya. Saya izin pamit.” Pak Kades sepertinya lega aku pamit. Ia tidak berusaha menahan.
“Baiklah. Kapan-kapan berkunjung lagi ke desa ini ya. Hati-hati di jalan”. Ia berusaha ramah, tapi tatapan matanya tidak. Ada rasa kesal dan amarah yang ditutupi.
Kembali ke Dania
Aku kembali ke rumahnya. “Loh, kirain Abang sudah berangkat.”
Dania terkejut —melihat aku datang menghampirinya di kandang babi di belakang rumah. Anak kecil, entah anak siapa, memberitahuku kalau Dania ada di belakang rumah.
Kebetulan ia lewat depan rumah Dania dan melihatku berdiri menunggu pintu dibuka.
Rumah itu milik bibi Dania yang sempat menikah dengan tetua adat di situ sebagai istri muda. Sampai tetua itu meninggal, bibinya tak sempat mendapatkan keturunan.
Aku Pamit untuk Kembali
“Aku mau pamit resmi sekaligus mau ngundang kamu. Kali saja nanti kamu bisa hadir saat aku wisuda bulan Agustus ya”.
Seketika ia berhenti mengaduk pakan. Ia menatapku. “Aku hanya anak kampung, Bang. Ga pernah ke kota besar. Lagipula, duit dari mana aku bisa pergi?” Masuk akal apa yang dia bilang.
“Nanti aku yang pikirin tiketnya. Aku hanya berharap kamu ada di acara wisudaku. Kebetulan keluargaku emang ga ada yang hadir.” Ia mulai bingung.
“Kenapa keluarga Abang ga datang?” Bukannya keluarga ga mau datang. Memang kedua orang tuaku sudah ga ada.
Aku tinggal dengan abangku yang kebetulan bernasib baik sebagai perwira militer. Kuliahku pun berkat beasiswa LPDP dari pemerintah.
“Abang serius mau ngajak aku?”
Ia seperti kurang yakin. Tapi matanya berbicara lain. Seperti ada bahagia bercampur harap. “Serius banget!” Kali ini dia tersenyum mendengar jawabanku.
“Ya udah, kalau nanti ada yang bisa bantu jagain rumah dan urus babi, aku kabarin Abang ya. Terimakasih udah mau anggap Dania sebagai teman Abang”.
Aku kembali. Sulit untuk berbohong kalau hatiku berbunga-bunga. Tapi bercampur dengan gelisah. Jangan-jangan Dania berubah pikiran. Jangan-jangan dia putus asa. Jangan-jangan dia nekat lagi.
“Bunda Maria, jagalah dia. Kalau pun bukan untukku, jagalah dia untukmu. Buatlah dia kuat dan bahagia.”
Setelah berdoa dalam hati, aku merasa ada kelegaan. Kutinggalkan desa itu untuk kembali lagi. Tekadku jelas: kembali bukan untuk mengadili warga yang menganiaya dia, tapi untuk membawanya pergi.
Kampung Halaman Jiwaku
Karena dialah kampung halaman jiwaku. Tekad itu tak tergoyahkan —kembali untuk membawanya pergi, menuju hidup yang lebih baik dan lebih bebas. (*)
*) Paulinus Yuwarno lahir 25 Januari 2001 di Manggarai, Flores, NTT; mahasiswa Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta.
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Cewek-rembulan.jpg)