Kamis, 4 Juni 2026

Cerpen

Cerpen: Dara di Puncak Rembulan 

Ia berdiri terpaku. Entah ia menikmati semburat indah rembulan di langit malam itu ataukah ia sedang merencanakan sesuatu.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
ILUSTRASI 

Kesendirian yang tidak dipilih, menjadi pintu masuk bagi tuduhan-tuduhan yang akan terus menghantuinya. 

Teman bermain Dania jatuh dari pohon mangga, patah tulang, dan lumpuh sampai sekarang. Dania dituding sebagai penyebab —meski tidak ada bukti, hanya prasangka yang tumbuh subur di tanah gosip. 

Satu kejadian. Satu tuduhan. Dan nama seorang anak perempuan mulai ternoda sebelum ia sempat membela diri. 

"Anak haram pembawa sial." Istri kepala desa sakit berat. Warga menuding Dania bergaul dengan roh jahat. 

Tuduhan demi tuduhan menumpuk—dan Rangga pun mencampakkannya. Nama yang sudah terlanjur dicemarkan oleh mulut-mulut yang tak pernah benar-benar mengenalnya. 

Rangga terlalu egois. Hipokrit. "Tak tahan malu," katanya kepada Dania pada petang sebelumnya. Seolah nama baik lebih berharga daripada hati yang pernah dipercayakan padanya. 

Hanya alibi untuk memacari guru honorer yang baru tamat kuliah dan sudah seminggu ada di desa itu. Cinta diperjualbelikan demi kenyamanan baru.  

Nyaris Pupus di Bibir Bukit 

Awalnya ia mau bunuh diri. Batu besar di puncak bukit itu adalah tempatnya berencana berdiri —untuk melompat. Tapi melihat ada tenda kecil di dekat sana, Dania mengurungkan niatnya. 

Sebuah tenda kecil seorang mahasiswa kehutanan yang entah kenapa berada tepat di sana, pada malam yang tepat, menjadi alasan seorang perempuan untuk tetap hidup. 

Baca juga: Cerpen: Perempuan yang Takut Menjadi Dosa

Bukan karena keajaiban besar. Bukan karena kata-kata bijak. Hanya karena sebuah tenda kecil yang kebetulan ada di tempat yang tepat, pada malam yang tepat. 

Dialog Dua Dunia 

Malam itu, Dania menginap di tendaku. Dalam kemah kecil itu, dua dunia berbenturan dengan lembut. Aku membawa logika dan iman Katolik sebagai eks-seminaris. 

Dania membawa luka dan naluri perempuan yang telah lama diabaikan. Berdua kami mencari kebenaran dari arah yang berbeda.

 “Tapi sakit, Bang. Aku ga ngerti apa salahku.” Dania menutup curahan hatinya dengan rasa kecewa yang mendalam. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved