Jumat, 5 Juni 2026

Cerpen

Cerpen: Dara di Puncak Rembulan 

Ia berdiri terpaku. Entah ia menikmati semburat indah rembulan di langit malam itu ataukah ia sedang merencanakan sesuatu.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
ILUSTRASI 

Inilah alur panggilanku. Memahami hutan untuk melindunginya—bukan sekadar perasaan, tapi kecintaan yang melibatkan akal dan hati sekaligus. Dan hutan pula yang membawaku pada dara ini.  

"Jangan sakiti aku!" Suaranya lirih tapi pronansiasinya jelas. Seperti orang yang sudah terlalu sering disakiti hingga kata-kata itu keluar lebih cepat dari napasnya sendiri. 

Aku berusaha memahaminya. "Mengapa kamu sendirian di sini? Malam-malam pula." Ia menggaruk-garuk tanah—seperti ingin melepas amarah yang terpendam terlalu lama. 

Secangkir Kopi untuk Luka 

Aku masuk ke kemah, menyalakan lentera elektrik. Masih ada air panas dalam termos. Kopi dan gula merah pemberian Mba Tati—keluarga jauh dari pihak ayah yang menikahi guru honorer beruntung itu. 

"Aku buatin kopi ya. Tapi janji, Dania harus cerita apa yang terjadi." Aku menyodorkan cangkir itu, berharap kehangatan kopi bisa membuka apa yang selama ini terkunci. 

"Maaf Dania sudah ngerepotin Abang. Tapi aku mau di sini aja." Ia enggan beranjak. Tapi setidaknya, ia belum pergi. 

Perkenalan di Batas Malam 

"Namaku Peter. Salam kenal ya." Ia menyambut tanganku. Bersalaman. Sebuah jembatan tipis mulai terbentuk di antara dua orang asing di puncak bukit yang gelap. 

"Kenapa Bang Peter tahu namaku?" Rupanya ia tidak mendengar teriakan rombongan warga yang memanggil namanya dari lembah hingga lereng. Atau mungkin—ia memang memilih untuk tidak mendengar. 

"Mereka Bukan Orang Baik! Jahat!" Hanya itu jawabannya. 

Lima kata. Tapi di dalamnya tersimpan seluruh sejarah luka yang tidak bisa dijelaskan dalam satu malam. Lima kata yang lebih berat dari semua obor yang dibawa rombongan itu. 

Di balik kalimat pendek itu, ada dunia yang runtuh. Ada nama yang dicemarkan. Ada cinta yang dicampakkan. Ada perempuan yang hampir tidak bisa bertahan.  

Dania datang ke desa itu karena diadopsi bibinya. Kedua orang tuanya meninggal pada musim Covid-19. Tak lama setelah tiba, bibinya yang menderita hipokalsemia jatuh sakit dan meninggal. 

Ia pun sendirian—tanpa pelindung, tanpa tempat berpulang. Dari situlah segalanya dimulai. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved