Jumat, 5 Juni 2026

Cerpen

Cerpen: Dara di Puncak Rembulan 

Ia berdiri terpaku. Entah ia menikmati semburat indah rembulan di langit malam itu ataukah ia sedang merencanakan sesuatu.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
ILUSTRASI 

Oleh: Paulinus Yuwarno *   

POS-KUPANG.COM -  Ketika malam menelan segalanya, satu pertemuan di puncak bukit mengubah dua jiwa selamanya. 

Di tengah gelapnya malam, ketika rembulan memamerkan keindahannya dan matahari lelap dalam peraduan, seonggok dara tampak menumpuk di ufuk timur. 

Ia berdiri terpaku. Entah ia menikmati semburat indah rembulan di langit malam itu ataukah ia sedang merencanakan sesuatu. 

Aku penasaran, sambil melangkah perlahan, seakan takut ditelan harimau malam. Perlahan ia turun dari atas batu besar. Lalu meringkuk di tanah sambil menyandar pada batu itu.  

Penasaran memaksaku maju. Perlahan tapi pasti, kakiku membawa tubuh ini mendekat pada sosok yang belum kukenal—sosok yang merintih di ujung remang-remang malam puncak bukit itu. 

Baca juga: Cerpen: Menanti Samudera Mengering

Rambutnya panjang terurai, dihempas angin malam dari balik bukit. Ia merintih. Aku terkejut. Entah apa yang terjadi dengannya, tapi sesuatu dalam diriku yakin. 

“Ia perempuan itu. Yang terjerembab jatuh dari katulistiwa. Yang mengukir rasa tak bernama dalam sukmaku.” 

Bukan metafora biasa. Ia benar-benar jatuh dalam arti yang paling dalam dan paling menyakitkan. Aku melihatnya berkali-kali dalam mimpi.  

Sungai Api dari Lembah 

"Dania…" Sayup terdengar teriakan rombongan warga dari kejauhan, membawa obor menyala. Cahaya mengalir dari lembah, menyusuri lereng seperti Sungai Nil yang lamban menuju musim semi. 

Indah nian terlihat dari atas bukit—nyala obor bergerak di tengah kegelapan. Tapi tiba-tiba, cahaya hilang. Suara-suara menjauh. Mereka mengambil rute yang berlawanan. 

Aku dan Altar yang Ditinggalkan 

Aku bermalam di hutan. Sebagai mahasiswa kehutanan itu hal yang biasa. Sebelum studi Kehutanan di Institut Pertanian Bogor, aku seorang seminaris. Alur cita-citaku hanya satu: menjadi imam. 

Altar adalah destinasi. Di sana harusnya aku berada—mengangkat roti dan piala. Tapi hidup membawaku ke sini. Inilah jalan yang kutempuh. 

Inilah alur panggilanku. Memahami hutan untuk melindunginya—bukan sekadar perasaan, tapi kecintaan yang melibatkan akal dan hati sekaligus. Dan hutan pula yang membawaku pada dara ini.  

"Jangan sakiti aku!" Suaranya lirih tapi pronansiasinya jelas. Seperti orang yang sudah terlalu sering disakiti hingga kata-kata itu keluar lebih cepat dari napasnya sendiri. 

Aku berusaha memahaminya. "Mengapa kamu sendirian di sini? Malam-malam pula." Ia menggaruk-garuk tanah—seperti ingin melepas amarah yang terpendam terlalu lama. 

Secangkir Kopi untuk Luka 

Aku masuk ke kemah, menyalakan lentera elektrik. Masih ada air panas dalam termos. Kopi dan gula merah pemberian Mba Tati—keluarga jauh dari pihak ayah yang menikahi guru honorer beruntung itu. 

"Aku buatin kopi ya. Tapi janji, Dania harus cerita apa yang terjadi." Aku menyodorkan cangkir itu, berharap kehangatan kopi bisa membuka apa yang selama ini terkunci. 

"Maaf Dania sudah ngerepotin Abang. Tapi aku mau di sini aja." Ia enggan beranjak. Tapi setidaknya, ia belum pergi. 

Perkenalan di Batas Malam 

"Namaku Peter. Salam kenal ya." Ia menyambut tanganku. Bersalaman. Sebuah jembatan tipis mulai terbentuk di antara dua orang asing di puncak bukit yang gelap. 

"Kenapa Bang Peter tahu namaku?" Rupanya ia tidak mendengar teriakan rombongan warga yang memanggil namanya dari lembah hingga lereng. Atau mungkin—ia memang memilih untuk tidak mendengar. 

"Mereka Bukan Orang Baik! Jahat!" Hanya itu jawabannya. 

Lima kata. Tapi di dalamnya tersimpan seluruh sejarah luka yang tidak bisa dijelaskan dalam satu malam. Lima kata yang lebih berat dari semua obor yang dibawa rombongan itu. 

Di balik kalimat pendek itu, ada dunia yang runtuh. Ada nama yang dicemarkan. Ada cinta yang dicampakkan. Ada perempuan yang hampir tidak bisa bertahan.  

Dania datang ke desa itu karena diadopsi bibinya. Kedua orang tuanya meninggal pada musim Covid-19. Tak lama setelah tiba, bibinya yang menderita hipokalsemia jatuh sakit dan meninggal. 

Ia pun sendirian—tanpa pelindung, tanpa tempat berpulang. Dari situlah segalanya dimulai. 

Kesendirian yang tidak dipilih, menjadi pintu masuk bagi tuduhan-tuduhan yang akan terus menghantuinya. 

Teman bermain Dania jatuh dari pohon mangga, patah tulang, dan lumpuh sampai sekarang. Dania dituding sebagai penyebab —meski tidak ada bukti, hanya prasangka yang tumbuh subur di tanah gosip. 

Satu kejadian. Satu tuduhan. Dan nama seorang anak perempuan mulai ternoda sebelum ia sempat membela diri. 

"Anak haram pembawa sial." Istri kepala desa sakit berat. Warga menuding Dania bergaul dengan roh jahat. 

Tuduhan demi tuduhan menumpuk—dan Rangga pun mencampakkannya. Nama yang sudah terlanjur dicemarkan oleh mulut-mulut yang tak pernah benar-benar mengenalnya. 

Rangga terlalu egois. Hipokrit. "Tak tahan malu," katanya kepada Dania pada petang sebelumnya. Seolah nama baik lebih berharga daripada hati yang pernah dipercayakan padanya. 

Hanya alibi untuk memacari guru honorer yang baru tamat kuliah dan sudah seminggu ada di desa itu. Cinta diperjualbelikan demi kenyamanan baru.  

Nyaris Pupus di Bibir Bukit 

Awalnya ia mau bunuh diri. Batu besar di puncak bukit itu adalah tempatnya berencana berdiri —untuk melompat. Tapi melihat ada tenda kecil di dekat sana, Dania mengurungkan niatnya. 

Sebuah tenda kecil seorang mahasiswa kehutanan yang entah kenapa berada tepat di sana, pada malam yang tepat, menjadi alasan seorang perempuan untuk tetap hidup. 

Baca juga: Cerpen: Perempuan yang Takut Menjadi Dosa

Bukan karena keajaiban besar. Bukan karena kata-kata bijak. Hanya karena sebuah tenda kecil yang kebetulan ada di tempat yang tepat, pada malam yang tepat. 

Dialog Dua Dunia 

Malam itu, Dania menginap di tendaku. Dalam kemah kecil itu, dua dunia berbenturan dengan lembut. Aku membawa logika dan iman Katolik sebagai eks-seminaris. 

Dania membawa luka dan naluri perempuan yang telah lama diabaikan. Berdua kami mencari kebenaran dari arah yang berbeda.

 “Tapi sakit, Bang. Aku ga ngerti apa salahku.” Dania menutup curahan hatinya dengan rasa kecewa yang mendalam. 

“Tuhan tidak menghakimimu. Semua yang terjadi pada orang-orang itu bukan salahmu juga. Tidak perlu kamu menyalahkan diri”. Aku berusaha menguatkannya setelah ia menceritakan semuanya.  

Tanpa disadari, ia jatuh tertidur. Terlalu lelah dan terlalu perih. Aku melangkah pelan keluar tenda. 

Berjaga di depan unggun sembari menikmati kopi hitam dan sebatang rokok Assikha— yang konon menyembuhkan segala penyakit—kata Bento, karibku yang doyan berdagang. 

Tertidur sebentar, tapi hanya tidur ayam—setengah sadar, setengah khawatir pada perempuan yang baru kukenal malam itu. Seperti mimpi, aku belum tuntas mencerna semua yang barusan terlihat.  

"Selamat pagi." Pagi-pagi sekali ia bangun dan menyalakan api. "Maaf ya Bang, gara-gara aku Abang ga tidur."

 Ia masih sungkan—membawa rasa bersalah bahkan ketika dialah yang paling berhak untuk dihibur. 

Aku terkejut melihat Dania di bawah cahaya pagi. Entah karena masih ngantuk atau terkesima oleh keindahan wajah itu saat diterpa sinar mentari pagi. 

Rautnya masih rada mendung—seperti memantulkan beratnya beban yang dipikulnya. Tapi keindahan wajah itu tak bisa disembunyikan oleh kesedihan. Dunia boleh merobeknya, ia tetap indah pada dirinya. 

Batu Karang dan Tetesan Air 

Gutta cavat lapidem non vi, sed saepe cadendo. Batu karang tidak hancur karena kekuatan air, tapi oleh tetesan yang terus-menerus. 

Batu karang hati Dania mungkin terkikis karena tetesan gosip yang tiada henti —cemoohan yang tak kenal waktu. 

Tapi ia perempuan tangguh. Meski sempat putus asa, raut wajahnya menunjukkan semangat hidup yang kuat dan tak mau padam. 

Sic homo fit sapiens bis non, sed saepe legendo. "Ini bahasa apa, Bang?" Rupanya Dania melihat coretan yang ditempelkan pada laptop. 

"Oh, itu? Ga ada artinya kok." Mendengar itu, ia seperti tidak menerimanya. Mata itu berbicara lebih keras daripada kata-katanya. 

"Aku memang hanya lulusan SMA, tapi aku mau belajar kok." Aku kaget campur malu. Sebuah kalimat sederhana yang menampar lebih keras dari argumen paling tajam sekalipun. 

Dalam kata-kata itu tersimpan tekad yang tidak pernah padam meski dihimpit oleh tuduhan dan pengabaian. 

"Maaf, Dania. Itu bahasa Latin yang artinya manusia menjadi bijak bukan karena satu dua kali, tapi karena kerap kali membaca." 

Pertama kali aku melihatnya seperti itu. Mata yang selama ini kusam digerus kesedihan, kini memantulkan sesuatu yang lama tak ada: harapan. 

Bukan karena kata-kata Latin yang rumit. Tapi karena seseorang akhirnya memperlakukannya sebagai manusia yang layak untuk tahu. Dihargai. 

Sesederhana itu. Dan sesederhana itu pula ia hampir tidak pernah merasakannya. 
  
Dania belum tahu kalau bahasa Latin itu pelajaran wajib di seminari —meskipun banyak yang merasa itu pelajaran paling membosankan. Bahasa pasif. Tak lagi dipakai dalam percakapan sehari-hari. 

Teks-teks suci dan tafsiran kuno tersimpan dalam bahasa yang tak lagi terucap. 

Argumen argumen besar tentang kebenaran dan keberadaan selalu tersembunyi dalam bahasa kuno itu— sebagaimana bahasa Yunani! 

Ilmu kedokteran, ilmu hukum, dan beragam pengetahuan manusia tertanam dalam akar bahasa mati itu.  

Impian yang Terkubur  

Dania mengaku frustrasi. Ia ingin kuliah. Ia ingin pergi dari kampung itu —dari mata-mata yang mencurigainya, dari bisik-bisik yang mengutuknya, dari nama yang sudah terlanjur dicemarkan oleh mulut-mulut yang tak pernah benar-benar mengenalnya. 

Tapi ia tidak punya siapa-siapa lagi. Dan ia tidak punya apa-apa. Mimpi itu ada —tapi terkubur di bawah realitas yang terlalu berat untuk diangkat sendirian. 

Janji di Puncak Bukit 

"Aku ga janji ya. Tapi aku akan carikan kamu beasiswa. Kali aja kamu bisa kuliah.”  Tak pelak lagi, aku lagi berjanji. Berjanji untuk mencarikan beasiswa. 

Sebuah janji yang lahir dari pertemuan yang tidak direncanakan siapa pun. Di puncak bukit yang sama tempat Dania hampir mengakhiri segalanya, kini berdiri sebuah kemungkinan baru—rapuh seperti embun pagi, tapi nyata. 

Internet di Puskesmas 

"Bang, internet di desa kami hanya ada di Puskesmas dan kantor desa. Yang di kantor desa pun sering lemot. Mohon bersabar kalau nanti aku ga langsung baca pesan dari Abang ya." 

Dania menjelaskan situasinya dengan nada meminta maaf —sambil menyimpan nomorku di gadget tua miliknya— padahal bukan salahnya. 

Keterbatasan itu bukan hanya soal sinyal. Ia adalah gambaran dari seluruh kehidupan Dania: selalu berada di pinggiran, selalu harus bersabar, selalu harus meminta maaf atas hal-hal di luar kendalinya. 

Keterbatasan itu bukan hanya soal sinyal. Ia adalah gambaran dari seluruh kehidupan Dania: selalu berada di pinggiran, selalu harus bersabar, selalu harus meminta maaf atas hal-hal di luar kendalinya.

 “Itu urusan nanti. Hari ini yang perlu dipikirkan. Kamu akan ke mana. Kembali ke rumah atau bagaimana.” 

Ia pun terdiam. Tampak berpikir, tapi tatapannya kosong. “Ga tau juga, Bang.” Suaranya kembali lirih dan terdengar hopeless.  

“Aku sih mau aja kamu di sini terus. Hanya takutnya nanti kamu ga mau pulang lagi.”  

Aku berusaha menggodanya untuk mencairkan suasana—sambil menyelam, minum air. Kali aja dia merasakan betapa aku berharap dia selalu di sini.” 

Menutupi rasa itu tak mudah. Aku memang tak berpengalaman dalam berpacaran. Tapi, selama kuliah, aku belajar mengungkap rasa. Setidaknya tahu rasanya sakit ditolak primadona di angkatan kami. Hahaha. 

Tapi rasa-rasanya, terlalu cepat dan kurang etis kalau Dania harus diseret lagi ke perasaanku yang egois. Bukankah itu artinya aku ga ada bedanya dengan Rangga dan semua warga desa itu?   

"Abang udah membantu terlalu banyak. Aku ga mau ngerepotin lagi. Siang ini aku turun ya. Babi di kandang belum dikasih pakan dari kemarin sore."

Aku bisa saja berpura-pura membiarkan dia pergi. Tapi aku ga iklas di menderita lagi.  

“Gini aja, kebetulan data yang kubutuhkan di hutan ini sudah cukup. Aku ikut kamu turun.” Ia menatapku heran. Ia kaget sekaligus takut. Rautnya tak bisa berbohong. 

“Aku ga mau Abang kena masalah karena aku”. Ia peduli padaku. “Aku hanya mau mampir sebentar kok, sekalian mau berterima kasih ke Pak Kades karena sudah memberikan izin untuk datang ke sini selama tiga hari ini.” 

Ketika malam yang paling gelap pun akhirnya melepas fajar, yang tertinggal bukan hanya ingatan —tapi kemungkinan bahwa satu pertemuan yang tidak direncanakan bisa menjadi awal dari sesuatu yang menyelamatkan. 

Dania tidak memilih untuk sendirian. Ia tidak memilih untuk kehilangan bibinya, tidak memilih untuk dituduh, tidak memilih untuk dicampakkan. Kesendirian itu dipaksakan oleh dunia yang tidak adil. 

Namun, dalam kesendirian itulah ia menemukan kekuatan yang tidak pernah ia sadari ada dalam dirinya. 

Siang itu, sebelum pukul tiga, kami menuruni lereng dan kembali ke desa . Setelah mengantarnya ke rumah di ujung kampung, aku bergegas ke kantor desa. 

Dania tak berani menahan. Terlalu telanjang untuk ditutupi dari mata para tetangga yang mengintip dalam dengki.  

Di Kantor Kepala Desa
 
“Selamat siang.”  

Pak Kades sedang berbincang dengan tiga anak buahnya perihal pembebasan lahan adat untuk pembangunan Koperasi Merah Putih. “Eh, Peter. Mari masuk!” Ia mempersilakan stafnya pergi. Tertinggallah kami berdua.  

“Terima kasih atas bantuannya, Pak. Penelitian selesai berkat dukungan Bapak.”  

Sambil menyeruput minuman jahe panas campur gula merah kesukaannya, Pak Kades tampak tersenyum semringah.  “Ah, bukan masalah. Aku ga bantu apa-apa, Nak. Kamu memang hebat. Semoga skripsinya lancar ya.” 

Ia masih sempat berpura-pura baik. Aku masih menahan sesak dan amarah. Ingin rasanya meninju kepalanya yang separuh botak.  

“Maaf, Pak. Apa boleh saya berdiskusi soal yang lain?” Saya bertanya karena sudah tak tahan lagi. “Soal apa tuh?” Ia penasaran, tapi masih tak bisa menduga.  

“Soal Dania, Pak.”  

Ia terkejut. Sambil merapikan posisi duduknya, raut mukanya tampak tegang seketika. 

“Oh, soal anak itu. Bagaimana kamu bisa tahu, Nak?” Dia lupa kalau aku berkemah di hutan dan semalaman mereka sekampung mencari Dania sampai ke lereng bukit.  

“Semalam saya mendengar para warga mencari Dania ke arah bukit. Kebetulan saya masih terjaga.”  

Ia kelihatan panik. “Ada apa sebenarnya, Pak?” Ia lalu menjelaskan bahwa para warga resah. Dania tiba-tiba menghilang. 

Ia tidak tahu kalau fitnah dan cemoohan terhadap perempuan malang itu tidak terlepas dari kelakukannya yang tidak bijak sebagai kepala desa. Belum lagi ia membela si Rangga, anaknya yang bajingan itu, hanya demi reputasi keluarga.   

“Bukan maksud saya lancang, Pak. Barangkali Bapak bisa mengingatkan warga di sini kalau Dania itu anak baik-baik. Ia frustrasi karena dituding sebagai pembawa sial. Belum lagi ia terluka karena hubungannya dengan putra Bapak tidak berjalan mulus.” 

Aku sudah tak peduli lagi dengan sopan santun. Terserah mau dibilang orang asing yang ga tahu diri. Aku tidak sudi Dania selalu terpuruk. Aku tidak mau orang-orang picik di kampung itu terus mengusik anak gadis yang berhati lembut itu.   

Pak Kades tampak gelisah dan menahan emosi.  “Bagaimana bisa kamu tahu banyak soal dia? Kami hanya resah karena semalaman ia tidak pulang ke rumah. Babi-babi berteriak dari kandang. Tetangga terganggu. Dari situlah kami sadar anak itu menghilang.” 

Ia masih bisa menahan emosinya, berusaha menjelaskan keadaan sambil menutupi fakta sesungguhnya.  

“Sekali lagi minta maaf atas kelancangan saya, Pak, dan terima kasih untuk semua bantuannya. Saya izin pamit.” Pak Kades sepertinya lega aku pamit. Ia tidak berusaha menahan. 

“Baiklah. Kapan-kapan berkunjung lagi ke desa ini ya. Hati-hati di jalan”. Ia berusaha ramah, tapi tatapan matanya tidak. Ada rasa kesal dan amarah yang ditutupi.  

Kembali ke Dania 

Aku kembali ke rumahnya. “Loh, kirain Abang sudah berangkat.”  

Dania terkejut —melihat aku datang menghampirinya di kandang babi di belakang rumah.  Anak kecil, entah anak siapa, memberitahuku kalau Dania ada di belakang rumah. 

Kebetulan ia lewat depan rumah Dania dan melihatku berdiri menunggu pintu dibuka. 

Rumah itu milik bibi Dania yang sempat menikah dengan tetua adat di situ sebagai istri muda. Sampai tetua itu meninggal, bibinya tak sempat mendapatkan keturunan.  

Aku Pamit untuk Kembali 

“Aku mau pamit resmi sekaligus mau ngundang kamu. Kali saja nanti kamu bisa hadir saat aku wisuda bulan Agustus ya”.  

Seketika ia berhenti mengaduk pakan. Ia menatapku. “Aku hanya anak kampung, Bang. Ga pernah ke kota besar. Lagipula, duit dari mana aku bisa pergi?” Masuk akal apa yang dia bilang. 

“Nanti aku yang pikirin tiketnya. Aku hanya berharap kamu ada di acara wisudaku. Kebetulan keluargaku emang ga ada yang hadir.” Ia mulai bingung. 

“Kenapa keluarga Abang ga datang?” Bukannya keluarga ga mau datang. Memang kedua orang tuaku sudah ga ada. 

Aku tinggal dengan abangku yang kebetulan bernasib baik sebagai perwira militer. Kuliahku pun berkat beasiswa LPDP dari pemerintah.  

“Abang serius mau ngajak aku?”  

Ia seperti kurang yakin. Tapi matanya berbicara lain. Seperti ada bahagia bercampur harap. “Serius banget!” Kali ini dia tersenyum mendengar jawabanku. 

“Ya udah, kalau nanti ada yang bisa bantu jagain rumah dan urus babi, aku kabarin Abang ya. Terimakasih udah mau anggap Dania sebagai teman Abang”.  

Aku kembali. Sulit untuk berbohong kalau hatiku berbunga-bunga. Tapi bercampur dengan gelisah. Jangan-jangan Dania berubah pikiran. Jangan-jangan dia putus asa. Jangan-jangan dia nekat lagi. 

“Bunda Maria, jagalah dia. Kalau pun bukan untukku, jagalah dia untukmu. Buatlah dia kuat dan bahagia.” 

Setelah berdoa dalam hati, aku merasa ada kelegaan. Kutinggalkan desa itu untuk kembali lagi. Tekadku jelas: kembali bukan untuk mengadili warga yang menganiaya dia, tapi untuk membawanya pergi.  

Kampung Halaman Jiwaku 

Karena dialah kampung halaman jiwaku.  Tekad itu tak tergoyahkan —kembali untuk membawanya pergi, menuju hidup yang lebih baik dan lebih bebas. (*)

*) Paulinus Yuwarno   lahir 25 Januari 2001 di Manggarai, Flores, NTT; mahasiswa Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta.
  
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved