Cerpen
Cerpen: Menanti Samudera Mengering
Begitu cepat aku berpaling. Lebih cepat dari percikan kilat. Begitu kekasih pertama itu menggambarkannya.
“Tapi aku tahu, ia punya pilihan hatinya sendiri untuk bahagia,” tambahnya kemudian. Pertemuan itu pun diakhiri dengan hening yang begitu murung.
***
“Dengan cara apa kenangan-kenangan dikekalkan?” tanya lelaki itu setelah meninggalkan ceruk di sebelah utara pantai.
“Kisah, tulisan, dan ingatan manusia.” jawabku menyebutkan. “Tapi tak semua kenangan perlu ditulis, kan?” tanyanya lagi.
“Jika semua kenangan perlu dikekalkan, ya, harus ditulis,” jawabku.
Kami meninggalkan pantai itu dalam sepi. Lelaki itu meninggalkan dalam diriku alasan-alasan kehidupan yang membuat diriku tak sendiri. Ia pamit untuk pergi menemui sahabat lamanya di kota.
Esok pagi ia akan kembali, begitu bisiknya di telinga kiriku. Jika saja esok tidak pernah datang, setidaknya lelaki itu ada di sini.
Aku pun merasa perlu untuk mengekalkan kekasih kedua ini dalam seluruh kisah ini. Jika memang esok tak pernah tiba, aku barangkali akan membuang semuanya ke dalam lautan, lalu menanti samudera mengering. (*)
*) Arie Putra lahir di Poka, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Tinggal di Labuan Bajo dan bekerja sebagai Pemandu Wisata juga mengurus Kawanbike.
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Pancasila dalam Anggaran |
|
|---|
| Opini - Ketika Teknologi Menguasai Kosmos: Membaca Kritik Martin Heidegger |
|
|---|
| Opini - Digitalis Humanitas dan Kearifan Lokal NTT di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Opini: Kekuatan Narasi Digital- Pesta Babi dan Perebutan Pengaruh Setelahnya |
|
|---|
| Opini: Di Balik Turunnya NPL- Sinyal Risiko Kredit Bank NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Laut-lepas.jpg)