Senin, 1 Juni 2026

Cerpen

Cerpen: Menanti Samudera Mengering

Begitu cepat aku berpaling. Lebih cepat dari percikan kilat. Begitu kekasih pertama itu menggambarkannya. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

“Tapi aku tahu, ia punya pilihan hatinya sendiri untuk bahagia,” tambahnya kemudian. Pertemuan itu pun diakhiri dengan hening yang begitu murung.

***

“Dengan cara apa kenangan-kenangan dikekalkan?” tanya lelaki itu setelah meninggalkan ceruk di sebelah utara pantai. 

“Kisah, tulisan, dan ingatan manusia.” jawabku menyebutkan. “Tapi tak semua kenangan perlu ditulis, kan?” tanyanya lagi. 

“Jika semua kenangan perlu dikekalkan, ya, harus ditulis,” jawabku. 

Kami meninggalkan pantai itu dalam sepi. Lelaki itu meninggalkan dalam diriku alasan-alasan kehidupan yang membuat diriku tak sendiri. Ia pamit untuk pergi menemui sahabat lamanya di kota. 

Esok pagi ia akan kembali, begitu bisiknya di telinga kiriku. Jika saja esok tidak pernah datang, setidaknya lelaki itu ada di sini. 

Aku pun merasa perlu untuk mengekalkan kekasih kedua ini dalam seluruh kisah ini. Jika memang esok tak pernah tiba, aku barangkali akan membuang semuanya ke dalam lautan, lalu menanti samudera mengering. (*)

*) Arie Putra lahir di Poka, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Tinggal di Labuan Bajo dan bekerja sebagai Pemandu Wisata juga mengurus Kawanbike. 
 
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved