Cerpen
Cerpen: Menanti Samudera Mengering
Begitu cepat aku berpaling. Lebih cepat dari percikan kilat. Begitu kekasih pertama itu menggambarkannya.
Oleh: Arie Putra *
POS-KUPANG.COM - Persis di awal bulan Agustus, lelaki itu menjadi kekasihku yang kedua. Sebenarnya aku masih memiliki seorang lelaki yang telah lumayan lama hinggap di hati.
Kekasih pertamaku itu hidup dan bertumbuh di tempat yang jauh. Walaupun sering ia mengirimiku pesan lewat media sosial yang menjadi sarana bagi kami untuk menyingkat jarak, lelaki kedua ini telah memberiku alasan untuk meninggalkannya di tempat yang jauh itu.
Begitu cepat aku berpaling. Lebih cepat dari percikan kilat. Begitu kekasih pertama itu menggambarkannya.
Hari-hari pun berlalu. Pelan-pelan segala ingatan tentang kekasih pertamaku pudar.
Meski masih ada sisa kenangan di dasar pikiran, aku segera mencampakkannya.
Baca juga: Cerpen: El Samoa
Kekasih kedua menggantikan semua yang pernah aku alami serta menambahkan segala yang belum pernah aku dapatkan.
Tambahan-tambahan itulah yang urung diberikan oleh lelaki pertama padaku. Dan itu kekurangannya sebagai lelaki.
“Kekurangan adalah penolakan atas tanggungjawab, bukan?” katanya
“Lalu kau hadir dan ada untuk menerima tanggungjawab, kan?” balasku.
“Persis,” jawabnya lirih. Ia kadang merasa tak nyaman jika pertanyaan dari mulutnya dijawab pula dengan pertanyaan.
Tetapi ia mengagumiku karena keenggananku untuk menyediakan jawaban. Ia memang mengimpikan perempuan yang pandai merumuskan pertanyaan ketimbang mengganggukkan jawaban-jawaban.
“Tak adil memang. Ketika saya merenggutmu dari kekasihmu itu. Tetapi, tak ada kenyataan yang adil. Itu konsep belaka,” tiba-tiba ia melanjutkan percakapan.
Suara deburan ombak mengisi celah di pikiran kami. Aku melemparkan pandangan ke arah lautan di mana beberapa kapal sedang berlabuh. Pikiranku masih berusaha untuk menanggapi apa yang baru saja dikatakan.
“Tindakan yang tidak adil. Tapi kau mempertanggungjawabkan konsep itu,” balasku sekenanya seraya menitipkan senyum kecil di matanya. Sebenarnya aku ingin bertanya, itukah cinta? Akan tetapi pecah tawanya membuyarkan niat itu.
Ada sebuah ceruk pada lintasan garis pantai itu. Nelayan biasa meninggalkan jangkar mereka di sana.
Setelah itu, mereka pulang ke rumah atau bila mereka adalah nelayan dari jauh, selalu meninggalkan perahu di situ lalu pergi ke kota.
Lelaki itu mengajakku duduk berlama-lama sambil menyaksikan cahaya yang diserap lautan.
Malam turun beberapa menit kemudian setelah senja menghilang. Karena gelap, tubuhnya hanya tampak berupa siluet.
“Segala yang dilempar ke dalam laut, tak akan ditemukan kembali,” katanya setelah melemparkan batu sebesar kepalan ke arah lautan.
“Kecuali jika kau berusaha mencarinya saat samudera mengering. Dan kau harus punya cukup alasan untuk itu,” sambungnya dengan ungkapan alegoris.
“Sejak kapan samudera dapat mengering?” pertanyaanku tiba-tiba muncul.
“Bila ada penjelasan ilmiah, pasti akan ada samudera yang mengering,” balasnya lagi.
“Dikeringkan! Bukan mengeringkan. Sebenarnya apa yang kau maksudkan?” aku bertanya sebagai protes untuk kalimat-kalimat yang ia ungkapkan.
Alih-alih menjawab pertanyaanku, ia mengajak pulang. Kami pun segera meninggalkan ceruk itu dalam kegelapan.
***
Perpisahan dua tahun lalu cukup menjadi alasan untuk mengajak Martin mengelilingi kota Labuan Bajo. Ia telah lebih dari sekedar teman bagiku.
Baca juga: Cerpen: Perempuan yang Takut Menjadi Dosa
Jika bukan karena ada urusan pekerjaannya, ia mungkin tidak akan pernah datang ke kota ini.
Ini juga menjadi kesempatan bagiku untuk menunjukkan padanya nilai persahabatan yang tak lekang oleh alasan apa pun.
Setelah memperkenalkan beberapa tempat, aku mengajaknya untuk makan malam di sebuah restoran.
Ingin kubawa saja dirinya ke kamar kontrakkanku di Waemata lalu memasan delivery makanan pakai Kawanbike, tapi pergi ke sebuah restoran lebih baik untuk duduk bercerita kali ini.
Ornamen klasik memenuhi dinding-dinding restoran itu. Kalimat-kalimat motivasi dan puitis juga digantung dalam bingkai-bingkai yang bagus.
“Masih rajin menulis ya Din?” tanya Martin. “Sudah jarang sekarang, sibuk dengan kerja soalnya,” jawabku jujur.
“Tapi gajimu besar kan,?” sambarnya.
“Lumayan untuk menambah percaya diri di depan perempuan,” jawabku sambil tertawa.
“Apalagi bakat gombalmu itu, pasti semakin mujarab menggaet perempuan,” sambarnya sambil tertawa juga.
Kami terus mengulang kembali kisah-kisah lama dalam percakapan ringan dan penuh tawa. Waktu hanya bisa diulang dalam cerita, katanya.
Di luar cerita, tetes-tetes waktu selalu meninggalkan manusia. Kemudian Martin menceritakan kekasihnya yang telah meninggalkannya.
Telah banyak hal yang mereka lewati bersama sehingga bekasnya masih tertinggal jelas di hati Martin.
Namun perempuan itu pergi. “Ia tidak pernah memberi jawaban yang pasti untuk hubungan kami,” kenang Martin.
“Aku tidak bisa memaksanya, sebab waktu tidak mengijinkan” sambungnya lagi.
Aku hanya melihat titik pasrah di matanya. Namun, kata-katanya tidak mengiklaskan kepergian kekasihnya.
“Segala yang dilempar ke dalam laut, tak akan ditemukan kembali. Kecuali jika samudera mengering,” aku tiba-tiba mengulangi kalimat ini.
“Aku pernah mendengar ungkapan ini darinya, Din. Itu kata-kata terakhir yang ia kirimkan kepadaku,” terang Martin.
Keterangan Martin ini mengacaukan semua isi kepalaku. Sejumlah prasangka, rasa bersalah, dan kebingungan melilit berupa simpul-simpul rumit dalam pikiranku.
“Tapi aku tahu, ia punya pilihan hatinya sendiri untuk bahagia,” tambahnya kemudian. Pertemuan itu pun diakhiri dengan hening yang begitu murung.
***
“Dengan cara apa kenangan-kenangan dikekalkan?” tanya lelaki itu setelah meninggalkan ceruk di sebelah utara pantai.
“Kisah, tulisan, dan ingatan manusia.” jawabku menyebutkan. “Tapi tak semua kenangan perlu ditulis, kan?” tanyanya lagi.
“Jika semua kenangan perlu dikekalkan, ya, harus ditulis,” jawabku.
Kami meninggalkan pantai itu dalam sepi. Lelaki itu meninggalkan dalam diriku alasan-alasan kehidupan yang membuat diriku tak sendiri. Ia pamit untuk pergi menemui sahabat lamanya di kota.
Esok pagi ia akan kembali, begitu bisiknya di telinga kiriku. Jika saja esok tidak pernah datang, setidaknya lelaki itu ada di sini.
Aku pun merasa perlu untuk mengekalkan kekasih kedua ini dalam seluruh kisah ini. Jika memang esok tak pernah tiba, aku barangkali akan membuang semuanya ke dalam lautan, lalu menanti samudera mengering. (*)
*) Arie Putra lahir di Poka, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Tinggal di Labuan Bajo dan bekerja sebagai Pemandu Wisata juga mengurus Kawanbike.
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Pancasila dalam Anggaran |
|
|---|
| Opini - Ketika Teknologi Menguasai Kosmos: Membaca Kritik Martin Heidegger |
|
|---|
| Opini - Digitalis Humanitas dan Kearifan Lokal NTT di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Opini: Kekuatan Narasi Digital- Pesta Babi dan Perebutan Pengaruh Setelahnya |
|
|---|
| Opini: Di Balik Turunnya NPL- Sinyal Risiko Kredit Bank NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Laut-lepas.jpg)