Cerpen
Cerpen: Menanti Samudera Mengering
Begitu cepat aku berpaling. Lebih cepat dari percikan kilat. Begitu kekasih pertama itu menggambarkannya.
Ingin kubawa saja dirinya ke kamar kontrakkanku di Waemata lalu memasan delivery makanan pakai Kawanbike, tapi pergi ke sebuah restoran lebih baik untuk duduk bercerita kali ini.
Ornamen klasik memenuhi dinding-dinding restoran itu. Kalimat-kalimat motivasi dan puitis juga digantung dalam bingkai-bingkai yang bagus.
“Masih rajin menulis ya Din?” tanya Martin. “Sudah jarang sekarang, sibuk dengan kerja soalnya,” jawabku jujur.
“Tapi gajimu besar kan,?” sambarnya.
“Lumayan untuk menambah percaya diri di depan perempuan,” jawabku sambil tertawa.
“Apalagi bakat gombalmu itu, pasti semakin mujarab menggaet perempuan,” sambarnya sambil tertawa juga.
Kami terus mengulang kembali kisah-kisah lama dalam percakapan ringan dan penuh tawa. Waktu hanya bisa diulang dalam cerita, katanya.
Di luar cerita, tetes-tetes waktu selalu meninggalkan manusia. Kemudian Martin menceritakan kekasihnya yang telah meninggalkannya.
Telah banyak hal yang mereka lewati bersama sehingga bekasnya masih tertinggal jelas di hati Martin.
Namun perempuan itu pergi. “Ia tidak pernah memberi jawaban yang pasti untuk hubungan kami,” kenang Martin.
“Aku tidak bisa memaksanya, sebab waktu tidak mengijinkan” sambungnya lagi.
Aku hanya melihat titik pasrah di matanya. Namun, kata-katanya tidak mengiklaskan kepergian kekasihnya.
“Segala yang dilempar ke dalam laut, tak akan ditemukan kembali. Kecuali jika samudera mengering,” aku tiba-tiba mengulangi kalimat ini.
“Aku pernah mendengar ungkapan ini darinya, Din. Itu kata-kata terakhir yang ia kirimkan kepadaku,” terang Martin.
Keterangan Martin ini mengacaukan semua isi kepalaku. Sejumlah prasangka, rasa bersalah, dan kebingungan melilit berupa simpul-simpul rumit dalam pikiranku.
| Opini: Pancasila dalam Anggaran |
|
|---|
| Opini - Ketika Teknologi Menguasai Kosmos: Membaca Kritik Martin Heidegger |
|
|---|
| Opini - Digitalis Humanitas dan Kearifan Lokal NTT di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Opini: Kekuatan Narasi Digital- Pesta Babi dan Perebutan Pengaruh Setelahnya |
|
|---|
| Opini: Di Balik Turunnya NPL- Sinyal Risiko Kredit Bank NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Laut-lepas.jpg)