Senin, 1 Juni 2026

Cerpen

Cerpen: Menanti Samudera Mengering

Begitu cepat aku berpaling. Lebih cepat dari percikan kilat. Begitu kekasih pertama itu menggambarkannya. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Ada sebuah ceruk pada lintasan garis pantai itu. Nelayan biasa meninggalkan jangkar mereka di sana. 

Setelah itu, mereka pulang ke rumah atau bila mereka adalah nelayan dari jauh, selalu meninggalkan perahu di situ lalu pergi ke kota. 

Lelaki itu mengajakku duduk berlama-lama sambil menyaksikan cahaya yang diserap lautan. 

Malam turun beberapa menit kemudian setelah senja menghilang. Karena gelap, tubuhnya hanya tampak berupa siluet. 

“Segala yang dilempar ke dalam laut, tak akan ditemukan kembali,” katanya setelah melemparkan batu sebesar kepalan ke arah lautan. 

“Kecuali jika kau berusaha mencarinya saat samudera mengering. Dan kau harus punya cukup alasan untuk itu,” sambungnya dengan ungkapan alegoris. 

“Sejak kapan samudera dapat mengering?” pertanyaanku tiba-tiba muncul. 

“Bila ada penjelasan ilmiah, pasti akan ada samudera yang mengering,” balasnya lagi. 

“Dikeringkan! Bukan mengeringkan. Sebenarnya apa yang kau maksudkan?” aku bertanya sebagai protes untuk kalimat-kalimat yang ia ungkapkan. 

Alih-alih menjawab pertanyaanku, ia mengajak pulang. Kami pun segera meninggalkan ceruk itu dalam kegelapan. 

***

Perpisahan dua tahun lalu cukup menjadi alasan untuk mengajak Martin mengelilingi kota Labuan Bajo. Ia telah lebih dari sekedar teman bagiku. 

Baca juga: Cerpen: Perempuan yang Takut Menjadi Dosa

Jika bukan karena ada urusan pekerjaannya, ia mungkin tidak akan pernah datang ke kota ini. 

Ini juga menjadi kesempatan bagiku untuk menunjukkan padanya nilai persahabatan yang tak lekang oleh alasan apa pun. 

Setelah memperkenalkan beberapa tempat, aku mengajaknya untuk makan malam di sebuah restoran. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved