Minggu, 31 Mei 2026

Belu Terkini

Jejak Perjuangan Hermina Mau: Dari Sirkuit Atletik Menuju S3 UI

Jejak Perjuangan Hermina Mau: Dari Sirkuit Atletik Menuju jenjang pendidikan doktoral di Universitas Indonesia ( S3 UI ).

Tayang:
Penulis: Agustinus Tanggur | Editor: Adiana Ahmad
POS-KUPANG.COM/AGUS TANGGUR/Agustinus Tanggur
JEJAK PERJUANGAN HERMINA MAU - Djoese S. Martins Nai Buti bersama Hermina Mau, yang memiliki kisah dari arena sirkuit atletik menuju jenjang pendidikan doktoral (S3) di Universitas Indonesia. Jejak Perjuangan Hermina Mau: Dari Sirkuit Atletik Menuju S3 UI 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur

POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Perjalanan dari arena Sirkuit Atletik menuju jenjang pendidikan doktoral (S3) di Universitas Indonesia ( S3 UI ) menjadi Jejak Perjuangan Hermina Mau, yang dikisahkan kembali oleh Djoese S. Martins Nai Buti sebagai potret ketekunan, disiplin, dan semangat pantang menyerah.

Djoese dalam keterangannya kepada POS-KUPANG.COM, Minggu (31/5/2026), mengisahkan kembali pertemuannya dengan seorang gadis kecil bernama Hermina Mau dalam Sirkuit Atletik tahun 2003 di Kabupaten Ende, yang kini bersiap melanjutkan studi doktoral (S3) di Universitas Indonesia.

Djoese menuturkan, suatu pagi pada tahun 2003, suasana lobi Hotel Wisata Kabupaten Ende tampak sederhana seperti biasanya. Beberapa anak remaja bersama para pendamping sedang menikmati sarapan pagi dengan menu seadanya. 

Di antara mereka hadir sosok-sosok yang masih diingatnya, seperti Pak Kaitano dan Pak Ande Asafa, yang merupakan bagian dari kontingen Kabupaten Belu.

Baca juga: Ribuan Umat Katolik di Belu Hadiri Ave Maria Night di Patung Bunda Maria Pelindung Segala Bangsa 

“Pada pandangan pertama, tidak ada yang tampak luar biasa dari suasana itu. Namun di balik kesederhanaan tersebut tersimpan semangat perjuangan yang besar,” ungkap Djoese.

Menurutnya, anak-anak muda dari daerah perbatasan datang membawa mimpi, harapan, dan tekad untuk membuktikan kemampuan mereka di arena olahraga. 

Ia bahkan sempat melakukan komunikasi dengan Wakil Bupati Belu saat itu, Ludo Taolin, agar perhatian terhadap para atlet muda dapat diberikan dengan lebih baik.

Perjuangan para atlet kemudian dipantau langsung di Stadion Marilonga, Kabupaten Ende. Di tengah panas matahari dan kerasnya persaingan, perhatian Djoese tertuju kepada seorang gadis kecil bertubuh mungil yang tampil di nomor lompat jauh.

“Tubuhnya kecil, namun keberaniannya begitu besar. Ia berlari dengan keyakinan, melompat dengan semangat, dan bertarung melawan rasa takut serta keterbatasan,” kenangnya.

Baca juga: Kuota Minyak Tanah di Belu 6,1 Juta Liter per Tahun, Pemkab Bakal Cabut Izin Pelanggar Distribusi

Gadis kecil tersebut adalah Hermina Mau. Saat itu, Hermina berhasil meraih prestasi membanggakan. Meski detail juaranya mulai samar, Djoese menegaskan bahwa kesan tentang daya juangnya tidak pernah hilang.

“Yang tidak pernah hilang adalah kesan mendalam tentang daya juangnya,” ujarnya.

Seiring perjalanan waktu, peristiwa tersebut sempat tenggelam dalam kesibukan. Namun ingatan tentang Hermina Mau kembali muncul ketika Djoese membaca buku Asa dan Rasa, yang memuat komitmen pembangunan Nusa Tenggara Timur oleh Gubernur Melki Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma. Di antara nama penulis, ia menemukan nama Hermina Mau.

Untuk memastikan, Djoese menghubungi salah satu penulis lain, Paul Kolo, guna memperoleh nomor kontak Hermina. Ia kemudian mengirimkan pesan singkat melalui WhatsApp.

“Bpk ingat dulu... ada satu anak yang juara lompat jauh atau lari... namanya Hermina juga ... ikut lomba sampai ke Kab Ende,” tulisnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved