Rabu, 22 April 2026

Cerpen

Cerpen: Kerasnya Dompet Coklat

Tangannya gemetar memegang gelas kopi yang tak lagi ia minum. “Aku tidak menyangka akan sejauh ini, Ben." 

Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Pada waktu yang sama desa yang biasanya tenang mulai terbelah. Suara di setiap tenda rumah membahas isu miring tentang Pius. Berita isu miring tentang Pius tersebar luas dengan cepat. 

Ada sebagian warga yang senang berharap Pius dijebloskan ke penjara. Masyarakat yang lain sudah muak dengan kebijakan Pius selama ini. 

Kemiskinan tetap dan selalu ada, jalan rusak, jaringan tidak ada, listrik belum juga masuk. Apalagi mereka kesusahan air bersih. 

“Kita harus dukung Pak Niko yang jujur itu, Ia telah mau berkorban untuk kita. Sumpah! Kita sudah terlalu muak muak.” Kata salah satu warga yang sedang minum kopi sore di pendopo rumah ketua KBG. 

“Betul sekali. Desa kita tetap sama saja dari dulu.” Gosip pun sejalan dengan tegukan kopi pahit. 

Sejak isu itu mencuat, rumah Pius terasa asing. Istrinya, hanya diam ketika makan malam. Tak ada lagi percakapan ringan seperti dulu. 

Rumahnya yang mewah berubah jadi sepi. Yang dulu sering dikunjungi para petinggi dari Kabupaten di kotanya itu tiba-tiba hening tanpa suara. 

“Benarkah yang mereka katakan itu?” tanya istrinya suatu malam di meja makan. 
Pius tak mampu menatap mata istrinya. Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa lebih kecil dari bayangannya sendiri.

“Aku hanya khilaf, bisiknya.” Kata itu menggantung di antara mereka.

“Aku baru tahu dari tetangga Pak. Lalu, uang itu kau kemanakan?”
Pius terus terdiam takut untuk jujur dengan istrinya. 

“Jangan-jangan kamu judi. Atau, selingkuh?" Kata istrinya penuh curiga. 

Malam-malam Pius hanya bisa terjaga dalam diam dan gugup. Ketakutannya merayap pelan seperti bayangan yang tak mau pergi. 

Ia sering terbangun oleh suara anjing menggonggong di kejauhan, dan dalam gelap ia meraba pergelangan tangannya sendiri seolah borgol benar-benar sudah melingkar di sana. 

Wajah-wajah warga yang dulu memilihnya datang silih berganti dalam ingatannya. 

Tatapan penuh harap itu kini terasa seperti tuduhan. Nama Niko pun terus menghantuinya, guru itu seperti tak pernah lelah mengusik ketenangannya dan mengusutuntaskan kasusnya itu.

Sesekali terlintas pikiran gelap yang bahkan membuatnya ngeri pada dirinya sendiri: bagaimana jika perjuangan Niko dihentikan saja? 

Ia segera mengusir bayangan itu, tetapi benihnya sudah terlanjur tumbuh di sudut kepalanya. “Apakah aku harus b***h saja!" pikirannya terganggu dengan kebisingan emosi.

***

Sore ittu Benny mendatangi rumahnya. "Lima belas juta rupiah itu sudah aku beri sesuai arahanmu Niko." 

Diskusi panjang berlalu begitu saja. Beny menepuk bahunya. “Tenang saja. Semua sudah aku atur.” Mereka polisi itu tidak akan mengusikmu lagi.

Pius mengangguk, tetapi dadanya tetap sesak.

“Aku belum benar-benar aman, Ben, katanya lirih.” Selama Niko masih pegang bukti, semuanya bisa berubah. 

***

Suatu sore, kabar mengejutkan datang. Niko mendadak jatuh sakit. Badannya kaku dan tak bersuara. Seakan mau mati rasanya. Kabar itu cepat tersebar di wilayah Desa itu. 

Istrinya yang penuh kebingungan hanya pasrah melihat suaminya Niko terbaring kaku. 

Menurut laporan teman gurunya, seusai mengajar di kelas ia ke warung kopi samping jalan dan tak sengaja bertemu Pius. 

Mereka kelihatannya beraduh mulut sambil saling mencekik. Tidak tahu sedang membahas apa. Memar wajah Pius merah terpampang jelas. Rupanya bukan sakit biasa. 

Kasus dana desa perlahan tenggelam oleh kabar Niko yang mendadak sakit. Padahal, selama ini Niko tidak pernah sakit separah itu. 

Berkas-berkas yang dulu disusunnya rapi kini tergeletak di sudut meja dan hanya berdiam memandang Niko yang terbaring kaku. Tak ada suara, seakan berkas itu tidak ada gunanya lagi.  

Kabar Niko jatuh sakit tersebar dan ramai dibicarakan. Apalagi ketika Pius dan Niko beradu mulut. Banyak pertanyaan yang tersisa. Jangan-jangan? Niko diracuni? Atau? Pasti tidak mungkin. (*)

*) Felix Riondi Sugar berasal dari Manggarai-Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah seorang Mahasiswa di Institut Filsafat Teknologi Kreatif Ledalero. Ia telah giat dalam menulis di beberapa media lokal maupun pada jurnal ilmiah. Selain itu, ia telah menerbitkan dua buku dengan judul Langit Pernah Menulis Kita di Tubuh Senja (2024) dan Sapu Tangan Tanya? (2025).

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved