Rabu, 22 April 2026

Cerpen

Cerpen: Kerasnya Dompet Coklat

Tangannya gemetar memegang gelas kopi yang tak lagi ia minum. “Aku tidak menyangka akan sejauh ini, Ben." 

Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Ia muak melihat penyimpangan yang terus terjadi di desanya. Apalagi kebijakan pembangunan selama masa jabatan Pius belum menyentuh keinginan warganya.

“Kalau aku diam, siapa lagi?” sahutnya kepada istrinya yang sedang menyiapkan kopi. 

“Di desa ini tidak ada yang berani bersuara. Mereka masyarakat kecil, suara mereka tidak akan terdengar, mungkin saja dengan jabatan guru yang aku punya sedikit membantu menyuarakan suara mereka. Enaknya, aku diberikan gaji yang cukup karena seorang ASN, lalu nasib tetangga kita mau dibawah kemana Bu!" Tegas Beny.

Istrinya hanya tertegun. “Pak. Tetap hati-hati. Pius punya banyak pendukung." Ia memiliki segalanya. Namun, pesan itu terlihat berlalu begitu saja. 

***

Malam itu, ketika Niko baru saja terlelap, atap rumahnya tiba-tiba dihujani lemparan batu. Pom! Pang! Denting keras di atas seng membuatnya terbangun dengan jantung berdegup kencang. 

Awalnya ia mengira hanya ranting kayu lapuk yang jatuh tertiup angin. Namun anjingnya menggonggong liar di teras, tak seperti biasanya. 

Tiba-tiba kaca jendela di samping kamar tidurnya pecah. Sebuah batu besar tergeletak di lantai dan serpihan kaca berserakan di sekitar ranjang.

Niko pun bergegas keluar. Yang ada hanyalah halaman gelap dan sunyi penuh merinding. 

Tak ada siapa-siapa. Hanya suara angin dan napasnya sendiri yang memburu. Saat itulah ia sadar ini bukan terjadi secara kebetulan. Barangkali ini adalah sebuah peringatan keras.

Sejenak ketakutan menyelinap diwajahnya. Wajah istrinya terbayang rapi dan 
sayahdu. Tapi ia menguatkan dirinya dengan meyebutkan nama "Tuhan Yesus". 

Teror itu justru menegaskan bahwa langkahnya sudah benar atau barangkali salah di mata yang salah.

***

Keesokan harinya Niko, tanpa ragu dan gentar, ia tetap mendatangi kantor camat dan melapor ke aparat tentang dugaan penyelewengan dana program rumah layak huni di masa kepemimpinan Pius. 

Ia sangat yakin bahwa Pius telah menggelapkan dana dalam jumlah yang besar.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved