Kamis, 4 Juni 2026

Cerpen

Cerpen: Antara Cinta Terlarang 

Aku tidak pernah merasakan apa itu keheningan, bagiku kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang tanpa batas.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/HO
ILUSTRASI 

Aku  memegang tangan Maria. “Mungkin karena kita mencari cinta di tempat yang mati, Maria. Paskah sebentar lagi tiba. Kataku, itu adalah waktu bagi yang mati untuk bangkit kembali. 

Sebab cinta yang salah adalah wajar, namun jika cinta yang salah tidak bangkit lagi adalah kurang ajar. 

Aku menyadari selama ini kita telah jatuh pada cinta yang salah dan membuat tembok untuk tidak bangkit lagi, jika cintanya siapa orang yang paling kurang ajar di dunia ini aku pasti menjawab diriku sendiri karena tidak mampu bangkit dari biasaan yang salah.”

Malam itu menjadi titik balik. Kami  memutuskan untuk menyudahi pola hubungan yang merusak tersebut. 

Bukan karena rasa benci, melainkan karena aku  menyadari bahwa cinta yang sejati memerlukan hormat, tanggung jawab, dan kesucian hati, hal-hal yang selama ini suci selama ini kami abaikan demi tren pergaulan. 

Saat fajar Paskah menyingsing, cahaya matahari menembus jendela studio. Tidak ada lagi botol minuman atau asap yang menyesakkan. 

Yang ada hanyalah sebuah sketsa baru di atas kanvas Maria: sebuah jalan setapak yang menuju cahaya.

Aku  berdiri di ambang pintu gereja, menghirup udara pagi yang segar. Aku  merasa seolah-olah beban berat telah terangkat dari pundakku. 

Cinta yang semula “terlarang” karena hanya didasarkan pada nafsu pergaulan, kini ia lepaskan untuk membiarkan cinta yang lebih besar tumbuh: cinta pada diri sendiri yang telah ditebus. 

Paskah tahun ini bukan sekadar perayaan ritual bagi Aku dan Maria. Ini adalah eksodus pribadi bagi kami sebuah perjalanan keluar dari kegelapan pergaulan tanpa arah menuju kehidupan yang memiliki makna dan tujuan.

Malam itu, lilin kecil di sudut meja menjadi satu-satunya sumber cahaya. Maria menatap jemarinya yang gemetar, jauh dari keramaian bar yang biasa kami kunjungi.

“Elias,” suara Maria nyaris pecah, “selama ini kita menyebut ini kebebasan. Tapi kenapa setiap kali aku pulang, aku merasa seperti membawa beban ribuan ton di pundakku? Kita tertawa di bawah lampu diskotik, tapi menangis di bawah selimut.” 

Aku mendekat, menatap sketsa hitam-putih yang baru saja dibuat Maria sebuah gambaran tangan yang terbelenggu rantai bunga yang layu. 

“Karena kita sedang meminum air laut untuk menghapus dahaga, Maria,” jawabku pelan. 

“Pergaulan ini... cara kita mencintai... itu hanya pelarian. Kita takut sunyi, jadi kita ciptakan kebisingan. Kita takut ditolak, jadi kita pilih hubungan tanpa komitmen.”

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved